Di balik tumpukan plastik dan limbah beracun, tubuh para perempuan pemilah sampah diam-diam menyimpan jejak racun yang merusak hormon, metabolisme, hingga masa depan anak-anak mereka. Ketika sampah menjadi ancaman senyap bagi pekerja paling rentan, masa depan bangsa ikut tergerogoti perlahan.
____________
Di antara tumpukan botol air mineral, plastik kemasan minyak goreng, bungkus mi instan, dan lembaran kantong yang robek, ada sosok perempuan yang tekun memilah satu per satu.
Tangan-tangan itu mungkin terlihat biasa. Namun, sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada bau busuk dan kotoran: racun senyap dari plastik.
Mereka adalah perempuan pemilah sampah. Pahlawan lingkungan yang tidak pernah disebut dalam pidato-pidato resmi, tetapi menjadi benteng terakhir dari kegagalan manusia mengelola limbahnya sendiri. Setiap potongan plastik yang mereka sentuh menyimpan ribuan bahan kimia berbahaya.
Plastik mengandung lebih dari 16.000 jenis bahan kimia, dan sedikitnya 4.200 di antaranya dikategorikan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Senyawa ini mencakup phthalates, bisphenol-A (BPA), logam berat, hingga polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), yang dikenal sebagai pemicu kanker dan gangguan hormon.
Ironisnya, mereka yang paling berjasa mengurangi dampak sampah justru menjadi korban langsung dari racun yang tersembunyi di dalamnya.
Penelitian terhadap perempuan pekerja pemilah sampah mengungkap fakta yang mencengangkan. Kadar Bisphenol A (BPA), ditemukan 10 kali lebih tinggi dibanding perempuan di Korea dan Amerika Serikat.
Demikian pula dengan phthalates, bahan kimia yang digunakan untuk melenturkan plastik.
Metabolit DEHP (jenis phthalate yang sangat berbahaya) ditemukan lebih dari dua kali lipat pada tubuh pemilah sampah dibanding perempuan yang tidak bekerja di lingkungan plastic.
Data ini bukan sekadar angka. Ia adalah jejak kejahatan lingkungan yang tertanam di dalam darah manusia.
#Ketika Hormon Diperdaya Plastik
Phthalates bukan hanya zat beracun biasa. Ia dikategorikan sebagai endocrine disrupting chemicals (EDCs), yaitu senyawa yang mampu meniru, menghalangi, dan merusak kerja hormon alami tubuh.
Paparan phthalate pada pekerja pemilah sampah perempuan menyebabkan disregulasi estrogen atau kekacauan kerja hormon estrogen sebagai hormon kunci dalam tubuh perempuan.
Ia berperan dalam Mengatur siklus menstruasi, Menjaga keseimbangan metabolisme, Mengontrol sensitivitas insulin dan Mengatur distribusi lemak tubuh.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelTubuh menjadi tidak peka terhadap insulin (insulin resistance), kadar gula darah meningkat, dan energi yang seharusnya dibakar justru ditimbun sebagai lemak.
Sebagian besar pekerja pemilah sampah berasal dari keluarga ekonomi rendah, dengan pola konsumsi kurang memadai. Namun, secara statistik, mayoritas mereka justru memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori overweight hingga obesitas.
Bukan karena terlalu banyak makan, melainkan karena hormon mereka dikendalikan oleh racun plastik. Lebih jauh, paparan phthalate juga melemahkan fungsi hormon leptin, yaitu hormon yang memberi sinyal kenyang ke otak.
Ketika sinyal ini terganggu, otak tidak pernah menerima pesan bahwa tubuh sudah cukup makan. Mengakibatkan nafsu makan meningkat, pembakaran lemak menurun, lemak terus menumpuk, berat badan meningkat, dan risiko diabetes tipe 2 melonjak.
Semua ini terjadi tanpa disadari oleh para perempuan tersebut Fenomena ini menjadikan plastik bukan sekadar bahan buangan, tetapi arsitek diam-diam dari epidemi obesitas dan gangguan metabolik yang menggerogoti perempuan dari lapisan paling bawah masyarakat. Paparan phthalates juga diketahui dapat menyebabkan perubahan epigenetik —perubahan pada cara kerja gen tanpa mengubah struktur gen itu sendiri. Artinya, dampaknya tidak berhenti pada satu tubuh saja, tetapi bisa diwariskan pada generasi berikutnya.
Bayangkan seorang ibu pemilah sampah mengandung di tengah paparan racun plastik. Anak yang belum lahir itu mungkin membawa “jejak kimia” yang membuatnya lebih rentan terhadap obesitas, gangguan hormon, bahkan kanker di masa depan.
Fakta ini menyadarkan kita bahwa plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi meracuni masa depan bangsa melalui rahim para perempuan miskin.
Para perempuan yang bekerja di sektor informal. Mereka bekerja tanpa alat pelindung yang memadai, tanpa pemeriksaan kesehatan berkala, dan tanpa perlindungan dari sistem kesehatan kerja nasional. Mereka yang tidak menikmati keuntungan industri plastik justru menanggung dampak paling mematikan.
Jika manusia mampu menciptakan plastik, maka manusia pula yang berkewajiban menghentikan kerusakan yang ditimbulkannya.
Kita membutuhkan regulasi tegas pembatasan bahan kimia berbahaya, inovasi alternatif ramah lingkungan, perlindungan kesehatan bagi pekerja pemilah sampah dan edukasi publik tentang bahaya plastik terhadap hormon manusia. ***
*) Penulis adalah dosen peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
**) Tulisan ini pernah tayang di Radar Gresik, Selasa, 2 Desember 2025