- Program Mozaik menemukan 122,54 ton sampah di Kali Tebu Surabaya. Sebanyak 100 persen berasal dari sungai, dengan residu mendominasi hasil penyortiran.
- Sebanyak 122.539,5 kilogram sampah masuk Kali Tebu. Hasil penyortiran mencatat 81.527 kilogram merupakan residu yang sulit didaur ulang dan mencemari lingkungan warga.
- Audit brand Kali Tebu mencatat Indofood dan Unilever masing-masing 50 persen. Temuan ini memperlihatkan kuatnya jejak produk pabrikan dalam timbulan sampah perkotaan.
- Tiga unit trashboom mengangkut 122,54 ton sampah Kali Tebu. Segmen Tengah menyumbang 106,32 ton, sedangkan Segmen Hulu mencapai 16,22 ton selama pemantauan.
- Satgas Kali Tebu hadapi masalah berulang: pagi dibersihkan, siang sampah kembali. Sebanyak 25 anggota kini mengawasi tujuh kelurahan di sekitar aliran sungai.
PERINGATAN Hari Sungai Sedunia setiap bulan September mengungkap potret buram pencemaran air perkotaan. Program Mozaik bentukan lembaga Ecoton menemukan tumpukan sampah berbahaya. Kali Tebu di Surabaya menjadi salah satu titik lokasi terparah.
Pengangkutan sampah inbound di aliran air tersebut telah mencatatkan akumulasi angka yang memprihatinkan. Total sampah yang masuk mencapai 122.539,5 kilogram atau setara 122,54 ton. Seluruh sampah tersebut, yakni 100 persen, bersumber langsung dari kawasan Kali Tebu.
Manajer Data dan Informasi Ecoton Alaika Rahmatullah menyampaikan temuan lapangannya. Program Mozaik mendata timbulan sampah yang terkumpul dari lokasi sungai. Angka tersebut mencerminkan rendahnya tata kelola pembuangan sampah rumah tangga.
“Dari 122 ton sampah, yang sudah terpilih itu sekitar 95 ton,” ujar Alaika di sela peringatan Hari Sungai Sedunia, yang berlansung di halaman SMPN 58 Surabaya, Ahad (27/9/2026).
Melalui proses penyortiran yang ketat, jumlah sampah terpilah tercatat mencapai 96.942,8 kilogram. Porsi sampah terbesar didominasi oleh kelompok sampah berjenis residu. Kategori ini sangat sulit diurai secara alami oleh lingkungan sekitar.
Dari total penyortiran, sebanyak 81.527 kilogram merupakan sampah residu yang tidak dapat didaur ulang. Sementara itu, sampah daur ulang jenis plastik hanya sebesar 8.064,1 kilogram. Penumpukan sampah ini diperparah oleh dominasi sampah produk pabrikan massal.
“Residu lain itu termasuk ada kertas minyak, kemudian sampah plastik yang sudah tidak bisa didaur ulang,” tutur Alaika Rahmatullah.
Hasil audit brand berhasil mengidentifikasi dua perusahaan utama penyumbang sampah. Indofood dan Unilever masing-masing menyumbang porsi temuan sebesar 50 persen. Merek yang tercatat mencakup Indomie Sup Sayur Vegan 5’s dan Lifebuoy Handwash Red 320ml.
Program yang didukung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), serta United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia. Namun sayang sinergi yang berfokus mengatasi darurat pencemaran sampah di kawasan perairan ini, masih ada warga yang gemar membuang sampah ke sungai.
“Seharusnya di sepanjang sungai disediakan fasilitas pelayanan dan pengangkutan sampah terpilah, serta drop point popok di titik strategis permukiman padat balita. Sempadan sungai adalah daerah konservasi yang tidak boleh dijadikan tempat pembuangan sampah,” tegas Alaika.

#Kelompok Satgas Lawan Pencemar
Upaya pemulihan Kali Tebu juga melibatkan peran aktif dari masyarakat. Satuan Tugas Kali Tebu dibentuk untuk mengawasi kebersihan lingkungan setempat. Personel bertugas menyisir area sungai secara rutin dari pencemaran.
Anggota Satgas Kali Tebu Edi membagikan pengalamannya menjaga kawasan sungai. Ia bertugas di wilayah RT 2 RW 9 Kelurahan Kali Kedinding. Edi merasa senang menjalankan tugas kebersihan meski menghadapi tantangan berat.
Kondisi fisik air sungai dilaporkan sudah mulai terlihat lebih bersih. Namun bau menyengat dari sisa sampah masih sering tercium. Sebagian warga terus membuang sampah secara sembunyi-sembunyi ke aliran air.
“Langkah pertamanya kalau bisa diberitahu, jangan diberi kekerasan,” kata Edi.
Pendekatan persuasif dinilai lebih efektif ketimbang tindakan keras di lapangan. Tindakan kasar justru berpotensi memicu resistensi dari oknum masyarakat penolak. Imbauan santun menjadi pilihan utama petugas dalam mengedukasi warga sekitar.
Petugas lapangan mengaku sangat jarang menemukan pelaku pembuangan secara langsung. Para pelaku sengaja memanfaatkan kelengaian pengawasan pada malam hari. Pembuangan sampah liar kerap terjadi saat permukiman sudah sepi.
Pelaku biasanya beraksi pada tengah malam hingga menjelang pagi hari. Pukul 12 malam hingga pukul 1 dini hari menjadi waktu favorit. Pengawasan pada jam tersebut sangat terbatas karena keterbatasan personel lapangan.
“Karena buangnya itu terlalu malam, kalau pagi-pagi ini tidak ada,” ucap Edi.
Pola pembuangan liar dilakukan secara cepat seperti melepas barang buangan. Hal tersebut menyulitkan petugas untuk menangkap basah para oknum pencemar. Pengawasan mandiri lingkungan menjadi faktor krusial penentu keberhasilan program kebersihan.

#Puluhan Anggota Jaga Kawasan
Cakupan pengawasan Satgas Kali Tebu meliputi area yang cukup luas. Keanggotaan satgas terdiri dari puluhan personel gabungan lintas wilayah. Mereka disebar ke berbagai titik rawan pembuangan sampah liar.
Penanganan sampah di sungai ini mengandalkan tiga unit trashboom penyaring. Volume terbesar terkumpul di Kali Tebu Segmen Tengah sebanyak 106,32 ton. Sementara Kali Tebu Segmen Hulu menyumbang volume sebesar 16,22 ton.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Ketua Satgas Kali Tebu Ayu Siswanti mengordinasikan puluhan anggota pengawas lingkungan. Sebanyak 25 personel ditugaskan mengawal kebersihan kawasan sepanjang sungai. Seluruh anggota berasal dari tujuh kelurahan berbeda di sekitar lokasi.
Tujuh kelurahan tersebut melingkupi wilayah pemukiman di sekitar aliran air. Kawasan mencakup Kapasmadya Baru di Kecamatan Tambaksari, serta Simokerto dan Tambakrejo di Kecamatan Simokerto. Wilayah Sidotopo Wetan, Bulakbanteng, Tambakwadi, serta Tanah Kali Kedinding di Kecamatan Kenjeran turut masuk area pemantauan.
Pembersihan massal di bantaran sungai rutin digelar setiap pekan sekali. Kegiatan fisik tersebut menghasilkan puluhan hingga ratusan kilogram sampah padat. Kerja bakti terus dilakukan untuk menekan laju akumulasi sampah.
“Pagi dua jam itu sudah menghasilkan hampir 300 kilogram sampah di bantaran,” jelas Ayu.
Pembersihan di dalam aliran sungai menghasilkan volume sampah lebih besar. Total sampah yang terangkat mencapai angka satu ton dalam sekali pembersihan. Jenis sampah yang terkumpul sangat beragam dari sampah rumah tangga.
Popok bekas hingga sampah bekas kelapa muda ditemukan di lokasi. Petugas bahkan mengangkut hingga tiga karung sampah batok kelapa. Kesadaran masyarakat sekitar dinilai masih menjadi kendala paling mendasar.
“Paginya kita bersihin, siangnya sudah ada sampah lagi,” ungkap Ayu.
Kondisi pembersihan yang sia-sia terus berulang dalam kurun waktu singkat. Penumpukan sampah terjadi kembali sebelum pergantian hari secara berulang. Kedisiplinan warga bantaran sungai masih menjadi tantangan utama pemkot.

#Kesadaran Warga Masih Rendah
Ketegangan antara petugas dan oknum pembuang sampah terus terjadi. Beberapa kelurahan mulai menerapkan sanksi sosial berupa dokumentasi foto pelaku. Identitas KTP pelaku penimbun sampah juga turut dicatat oleh petugas.
Upaya penanganan sampah turut didukung oleh sebaran tiga jaringan mitra. Kolaborasi mencakup satu sekolah, satu Kampung Mozaik, dan satu Bank Sampah Unit. Masing-masing mitra memegang porsi kontribusi seimbang sebesar 33,3 persen.
Namun demikian, edukasi sosial masyarakat melalui kegiatan GEDSi masih mencatatkan angka 0. Belum ada data keterlibatan warga, baik kelompok perempuan maupun peserta keseluruhan. Program pemberdayaan masyarakat perlu ditingkatkan secara masif ke depannya.
Ayu mendesak tindakan lebih tegas dari pihak Pemerintah Kota Surabaya. Bantuan penegakan aturan sangat dibutuhkan untuk mengatasi ketegaran sikap warga. Edukasi langsung di lapangan terbukti belum membuahkan hasil secara optimal.
“Kayaknya harus lebih tegas ya dari pihak Pemkot Surabaya,” ujar Ayu.
Aksi buang sampah secara sembunyi-sembunyi menyerupai permainan kucing-kucingan dengan petugas. Pelaku selalu mencari celah saat pengawasan lapangan sedang mengendor. Kebiasaan buruk ini merugikan kesehatan seluruh warga di sekitar sungai.
Tingkat kesadaran masyarakat yang amat rendah memperparah kerusakan ekosistem Kali Tebu. Edukasi berulang kali tidak menghentikan kebiasaan buang sampah sembarangan. Dukungan penegakan hukum dari pemerintah kota sangat dinantikan para petugas.
“Kalau Kali Tebunya banyak sampah dan bau, kan itu juga kesehatan kita,” tegas Ayu.
Satgas kebersihan berharap ada sinergi kuat antara warga dan pemerintah. Pembenahan fasilitas serta pengawasan ketat harus berjalan secara bersamaan. Kebersihan Kali Tebu hanya bisa terwujud melalui komitmen seluruh pihak.***