Lewati ke konten

NYT Soroti “Epidemi Mikroplastik” di Indonesia, dari Asap Pembakaran Sampah hingga Hujan

| 7 menit baca |Mikroplastik | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • NYT mengungkap perjalanan mikroplastik di Indonesia: dari pembakaran sampah, udara, hujan, hingga sungai. Temuan ini menunjukkan partikel plastik dapat berpindah melalui berbagai jalur lingkungan.
  • Mikroplastik ditemukan di udara 18 kota Indonesia. Pembakaran sampah, keausan ban, dan pencucian pakaian sintetis menjadi bagian dari rantai pencemaran yang terus bergerak melalui lingkungan.
  • Hujan dapat membawa mikroplastik dari atmosfer kembali ke permukaan bumi. Dari sana, partikel kecil itu berpotensi masuk tanah, saluran drainase, sungai, hingga ekosistem pesisir Indonesia.
  • Laporan terbaru The New York Times menyoroti paparan mikroplastik di Indonesia, termasuk melalui udara, makanan, air, dan aktivitas sehari-hari seperti membakar sampah serta mencuci pakaian.
  • Dari asap tempat pembuangan hingga serat pakaian dan keausan ban, berbagai aktivitas manusia menghasilkan mikroplastik. Partikel itu dapat terbawa udara, hujan, kemudian masuk sungai.

THE New York Times baru-baru ini menyoroti persoalan mikroplastik di Indonesia melalui laporan dengan judul “The Microplastics Epidemic in Indonesia”. Laporan terbit 6 September 2026.

Laporan Sui-Lee Wee, Pablo Robles, dan Rin Hindryati itu, menggambarkan bagaimana partikel plastik berukuran sangat kecil itu dapat berpindah dari tempat pembuangan sampah ke udara, terbawa hujan, masuk ke sungai, hingga berpotensi terpapar manusia.

Ketiga jurnalis itu mengambil contoh kebakaran tempat pembuangan sampah di Jatiwaringin, Tangerang, selama 10 hari pada Juli. Tumpukan sampah yang terbakar mengandung plastik dalam jumlah besar. Ketika plastik terbakar dan terpecah akibat panas, partikel berukuran sangat kecil dapat dilepaskan ke lingkungan.

Infografik “Matriks Mikroplastik” menggambarkan perjalanan partikel plastik dari pembakaran sampah, sinar matahari, keausan ban, dan pencucian pakaian hingga terbawa udara, hujan, tanah, dan sungai. | Sumber: The New York Times

Muhammad Reza Cordova, ilmuwan senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan kepada The New York Times, “Kita menghirup mikroplastik.”

Mikroplastik umumnya merujuk pada partikel plastik. Benda ini berukuran kurang dari 5 milimeter. Sementara itu, nanoplastik merupakan bagian yang berukuran lebih kecil lagi, umumnya kurang dari 1 mikrometer.

Indonesia dan Paparan Mikroplastik

Persoalan mikroplastik ini, tidak hanya berkaitan dengan sampah yang terlihat saja. Seperti yang pernah diungkap pada penelitian yang diterbitkan  Environmental Science & Technology. Yang telah memetakan paparan mikroplastik melalui makanan di 109 negara, pada 2024.

Begitu halnya penelitan yang dilakukan Xiang Zhao dan Fengqi You dari Cornell University. Kedua peneliti ini menyebutkan, jika Indonesia memiliki estimasi asupan mikroplastik melalui makanan per kapita tertinggi, yakni sekitar 15 gram per bulan. Itu berdasar hasil pemodelan angka pada periode 1990–2018. Meski disebutkan, bukan pengukuran langsung konsumsi setiap orang pada saat ini.

BACA JUGA:  World Clean-Up Day di Gresik: Bersih-Bersih Sungai, Sampahnya Masih Lebih Banyak dari Omongan Janji Politik

Penelitian Cornell University di Environmental Science & Technology

Di udara, persoalan mikroplastik juga telah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.

Disebutkan The New York Times, penelitian yang pernah dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), yang mengambil sampel udara di 18 kota dan kabupaten, pada Mei–Juli 2025.

Semua lokasi yang diteliti ditemukan mengandung mikroplastik dengan konsentrasi berbeda. Jakarta Pusat mencatat 37 partikel dalam sampel selama dua jam, disusul Jakarta Selatan 30 partikel, Bandung 16, Semarang 13, Kupang 13, dan Surabaya 12 partikel.

Identifikasi mikroplastik dalam sampel udara ambien di 18 kota di Indonesia, Mei–Juli 2025. Konsentrasi tertinggi tercatat di Jakarta Pusat, disusul Jakarta Selatan, Bandung, Semarang, Kupang, Denpasar, Jambi, Surabaya, Palembang, Pontianak, Aceh Utara, Sumbawa, Palu, Sidoarjo, Gianyar, Solo, Bulukumba, dan Malang. Komposisinya terdiri dari fragmen 53,26%, serat 46,14%, dan film 0,6%. | Sumber: ECOTON, 2025

Riset ECOTON–SIEJ tentang mikroplastik udara di 18 kota

Pembakaran Sampah Menjadi Perhatian

Salah satu sumber yang disoroti dalam laporan The New York Times, yaitu pembakaran sampah secara terbuka.

Temuan Ecoton, sebagaimana disebutkan dalam laporan media yang berbasis di New York Amerika Serikat itu, juga menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas pembakaran sampah dan keberadaan polimer plastik di udara.

Dalam data Ecoton, sejumlah aktivitas menghasilkan mikroplastik udara, dengan pembakaran sampah menjadi salah satu sumber yang mendapat perhatian.

Masalah ini semakin kompleks karena pengelolaan sampah di sejumlah wilayah masih menghadapi keterbatasan layanan pengumpulan dan pengolahan.

Ketika sampah plastik dibakar, material plastik tidak serta-merta menghilang. Panas dapat memecah material menjadi partikel dan senyawa yang kemudian terdispersi melalui asap. Partikel yang cukup kecil dapat berada di udara dan berpindah mengikuti pergerakan atmosfer.

Mikroplastik Bisa Kembali Bersama Hujan

Perjalanan mikroplastik tidak berhenti di udara.

Dalam laporan The New York Times, Reza menceritakan pengambilan sampel air hujan dari atap laboratoriumnya di Jakarta Utara pada 2022. Ia menemukan mikroplastik dalam jumlah yang menurutnya mengejutkan, dengan serat sintetis menjadi salah satu bentuk yang dominan.

Secara lingkungan, hujan dapat menjadi salah satu mekanisme deposisi mikroplastik dari atmosfer ke permukaan bumi. Ketika partikel yang melayang di udara bertemu dengan tetesan air, sebagian dapat terbawa turun ke tanah, permukaan jalan, saluran air maupun sungai.

BACA JUGA:  Ecoton Suarakan Bahaya Mikroplastik dalam Sperma di Pesta Media AJI Jakarta 2026

Temuan di Surabaya memberikan gambaran serupa. Penelitian Ecoton pada November 2025 menemukan mikroplastik pada air hujan di seluruh lokasi pemantauan yang mereka periksa di Surabaya. Pada penelitian Ecoton saat itu menyebut, Surabaya berada di posisi keenam dalam studi mikroplastik udara 18 kota sebelumnya. Ditemukan 12 partikel pada area pengamatan selama dua jam.

Grafik Temuan Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya (Sumber: Ecoton, 2025)

Temuan Ecoton tentang mikroplastik dalam air hujan Surabaya

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dari Pakaian Menuju Sungai

Sumber mikroplastik lainnya berasal dari aktivitas rumah tangga.

Pakaian berbahan sintetis dapat melepaskan serat mikroplastik ketika dicuci. Serat itu dipastikan, kemudian dapat terbawa air limbah menuju saluran drainase dan badan air.

Jika sistem pengolahan air limbah tidak mampu menangkap partikel, yang terjadi mikroserat dapat masuk ke sungai. Dalam kondisi tertentu, partikel yang tertinggal di permukaan juga dapat kembali terangkat ke udara.

Pemodelan siklus ini, memperlihatkan bahwa mikroplastik tidak selalu bergerak melalui satu jalur. Partikel dapat berpindah antara udara, hujan, tanah, saluran drainase dan sungai.

Ban Kendaraan Juga Menjadi Sumber

Aktivitas transportasi menjadi jalur lain yang perlu diperhatikan. Gesekan ban kendaraan dengan permukaan jalan menghasilkan partikel hasil keausan ban. Sebagian partikel dapat terbawa air hujan menuju drainase dan sungai.

Karena itu, sumber mikroplastik di lingkungan perkotaan tidak hanya berasal dari botol, kantong atau kemasan plastik yang terlihat. Partikel juga dapat muncul dari aktivitas sehari-hari seperti mencuci pakaian dan penggunaan kendaraan.

Bagaimana dengan Kesehatan Manusia?

Laporan The New York Times juga membahas penelitian mengenai keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia.

Sejumlah penelitian telah menemukan partikel plastik pada berbagai sampel biologis manusia. Namun, hubungan langsung antara paparan mikroplastik dan penyakit tertentu masih terus diteliti.

BACA JUGA:  Sungai Brantas: Putusan Inkracht, Di mana Gubernur?

Salah satu penelitian yang disoroti The New York Times adalah studi 2024 yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine. Penelitian yang mengungkap hubungan antara keberadaan mikroplastik dan nanoplastik pada plak arteri. Terjadi karena adanya peningkatan risiko kejadian kardiovaskular pada kelompok pasien yang diteliti.

Namun, temuan tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Hubungan statistik dalam penelitian tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa mikroplastik menyebabkan penyakit tersebut.

Hal serupa juga ditekankan dalam laporan The New York Times: para ilmuwan masih menghadapi keterbatasan dalam mengukur partikel mikroplastik yang paling kecil dan menentukan tingkat paparan yang benar-benar berbahaya bagi manusia.

Sampah menutupi sebagian besar permukaan Kali Tebu, Surabaya, memperlihatkan tekanan pencemaran plastik dan limbah domestik terhadap ekosistem sungai perkotaan. | Foto: Fully Syafi

Persoalan yang bergerak dari darat ke udara, lalu kembali ke sungai

Rangkaian temuan penelitian memperlihatkan persoalan mikroplastik sebagai masalah lintas lingkungan.

Sampah plastik dapat dibakar dan menghasilkan partikel. Partikel tersebut dapat berada di udara dan terbawa angin. Ketika hujan turun, sebagian dapat kembali ke permukaan bumi. Dari sana, partikel dapat masuk ke tanah, saluran drainase dan sungai.

Di sisi lain, serat sintetis dari aktivitas mencuci pakaian serta partikel dari keausan ban dapat mengikuti jalur berbeda sebelum akhirnya masuk ke lingkungan perairan.

Dengan kata lain, mikroplastik dapat bergerak mengikuti siklus lingkungan: dari permukaan jalan dan tempat pembuangan, menuju udara, terbawa hujan, kemudian kembali ke tanah dan sungai.

Partikel yang nyaris tak terlihat itu membuat persoalan sampah plastik menjadi lebih kompleks. Sampah yang hari ini dibakar atau dibuang sembarangan tidak hanya meninggalkan persoalan di lokasi pembuangan, tetapi dapat menghasilkan partikel yang bergerak melintasi berbagai media lingkungan.

Bagi Indonesia, persoalan tersebut bertemu dengan tantangan pengelolaan sampah, tingginya penggunaan plastik sekali pakai, aktivitas transportasi, limbah tekstil, serta tekanan terhadap sungai dan ekosistem pesisir.

Karena itu, upaya mengurangi mikroplastik tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah yang sudah masuk sungai. Pengendalian sumber pencemar sejak dari darat, terutama  mencegah pembakaran sampah terbuka, memperbaiki pengelolaan limbah, mengurangi plastik sekali pakai, dan meningkatkan pengolahan air limbah. Harus menjadi bagian penting dalam memutus rantai pencemaran.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *