Sungai Kedurus perlahan kehilangan kehidupan akibat tekanan aktivitas manusia. Data penelitian, kondisi wilayah, dan kebiasaan warga menunjukkan bagaimana perubahan kecil membentuk krisis lingkungan yang nyata.

Setiap pagi, Slamet (46) masih melewati Sungai Kedurus saat berangkat kerja. Jalur itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya selama bertahun-tahun. Dulu, ia kerap berhenti sebentar di tepi sungai. Kadang hanya duduk, kadang memperhatikan anak-anak yang bermain air sambil tertawa riang. Kini, langkahnya hampir tidak pernah terhenti. Tidak ada lagi yang benar-benar menarik selain aliran air yang tampak semakin keruh.
“Semua sudah hilang, terutama gemericik dan beningnya sungai,” ujarnya saat ditemui pekan lalu, Sabtu (7/2/2026).
Ingatan Slamet membawa kembali suasana masa lampau. Sungai tidak pernah sepi. Ikan kecil berenang jelas di pinggiran, udang bersembunyi di sela batu, dan capung air beterbangan rendah di atas permukaan.
Tentu suasana itu disenangi anak-anak kampung. Mereka membawa jaring kecil, pulang dengan tangan basah dan cerita panjang. Sungai bukan gemericik saluran air yang mereka tahu dan sadari, tetapi ruang hidup bersama.
Perubahan datang perlahan. Anak-anak jarang mendekat. Jaring kecil entah ke mana. Sungai masih ada, tetapi terasa seperti ditinggalkan.
Air Sungai Kedurus berubah sedikit demi sedikit. Warnanya makin keruh, baunya kadang mengganggu penciuman, dan dasar sungai pun sulit terlihat.
Awalnya warga menganggap ini biasa, sebab sungai berada di tengah kota. Lama-kelamaan tanda-tandanya makin jelas, ikan semakin jarang, tumbuhan air menghilang, dan sungai terasa “mati”.
Tidak ada satu peristiwa besar yang langsung merusak sungai. Yang terjadi justru kebiasaan kecil yang berlangsung terus-menerus. Air bekas cucian, deterjen, sisa dapur, hingga limbah aktivitas harian mengalir tanpa henti.
Beban itulah yang kemudian menumpuk, sedikit demi sedikit, sampai sungai tidak lagi mampu menanggungnya.
Penjelasan ilmiah mengenai perubahan kondisi Sungai Kedurus juga terlihat dalam penelitian Analisis Kondisi Hidrologi Daerah Aliran Sungai Kedurus untuk Mengurangi Banjir Menggunakan Model Hidrologi SWAT.
Penelitian ini mengidentifikasi kondisi hidrologi daerah aliran sungai melalui pendekatan pemodelan menggunakan perangkat lunak ArcSWAT.
Dalam model tersebut, siklus hidrologi sungai dianalisis berdasarkan keseimbangan air, yang dihitung dari beberapa komponen utama, yaitu curah hujan, aliran permukaan, evapotranspirasi, infiltrasi tanah, hingga aliran air bawah tanah.
Persamaan keseimbangan air digunakan untuk menggambarkan perubahan cadangan air tanah dari waktu ke waktu, di mana kondisi air sungai tidak hanya dipengaruhi aliran yang tampak di permukaan, tetapi juga proses yang terjadi di dalam tanah.
Variabel yang dianalisis meliputi kadar air tanah akhir (SWt), kadar air tanah awal (SW₀), curah hujan harian (Rday), limpasan permukaan (Qsurf), evapotranspirasi (Ea), perkolasi air ke lapisan tanah lebih dalam (Wseep), serta aliran dasar atau base flow (Qgw). Semua komponen ini menunjukkan bahwa kesehatan sungai sangat bergantung pada keseimbangan alami antara air yang masuk, terserap, dan mengalir kembali ke badan sungai.
Melalui tahapan delineasi DAS menggunakan Watershed Delineator, peneliti membagi wilayah Sungai Kedurus ke dalam sub-DAS berdasarkan data DEM, jaringan sungai, dan titik outlet aliran. Proses ini membantu memahami bagaimana perubahan penggunaan lahan dan aktivitas manusia di hulu hingga hilir memengaruhi debit serta kualitas air sungai.
Penelitian juga melakukan penentuan kapasitas saluran melalui survei lokasi dan penghitungan dimensi sungai. Kapasitas aliran dihitung menggunakan persamaan kontinuitas, Qkap = V × A, di mana Qkap merupakan kapasitas debit aliran, V adalah kecepatan aliran air, dan A adalah luas penampang saluran.
“Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan kondisi hidrologi tidak hanya berkaitan dengan risiko banjir, tetapi juga berkaitan erat dengan kemampuan sungai menjaga keseimbangan ekologinya, “tulis Santika Purwitaningsih dan Adjie Pamungkas dalam penelitian di JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (2017).
Ketika limpasan permukaan meningkat akibat perubahan lahan dan tekanan aktivitas manusia, sedimen serta bahan pencemar lebih mudah masuk ke badan sungai.
Proses inilah yang secara perlahan menurunkan kualitas air dan mengurangi oksigen terlarut yang dibutuhkan organisme air. Sungai tetap mengalir secara hidrologis, tetapi secara ekologis mulai kehilangan daya hidupnya.
#Data Wilayah dan Beban Lingkungan yang Nyata
Kondisi Sungai Kedurus tidak bisa dilepaskan dari karakter wilayah di sekitarnya. Secara geografis, bagian hulu hingga tengah sungai melintasi kawasan padat aktivitas manusia, termasuk Kecamatan Driyorejo dan Kecamatan Karang Pilang.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Kecamatan Driyorejo berjarak 41 km dari pusat Kota Gresik dengan ketinggian 11 m di atas permukaan laut. Wilayah seluas 5.129,72 Ha ini terdiri dari sawah 1.639,59 Ha, pekarangan atau halaman 2.174,99 Ha, tegal atau kebun 1.052,06 Ha, serta lainnya 263,08 Ha. Wilayah ini terbagi menjadi 16 desa, 108 RW, dan 456 RT dengan jumlah penduduk 99.436 jiwa atau 23.846 KK. Kepadatan penduduk mencapai 1.938 jiwa/km².
Persoalan besar muncul pada pengelolaan sampah. Tingkat pelayanan sampah di Kabupaten Gresik hanya 20,91%. Sebagian besar masyarakat masih mengelola sampah dengan cara dibakar sebanyak 49,43%, dibuang ke lahan kosong 18,21%, dan 8,7% langsung dibuang ke sungai.
Di bagian hilir, Kecamatan Karang Pilang di Surabaya memiliki ketinggian 4–12 m di atas permukaan laut dengan luas wilayah 9,24 km². Wilayah ini terdiri dari Kelurahan Waru Gunung 3,86 km², Kelurahan Karang Pilang 1,44 km², Kelurahan Kebraon 2,08 km², dan Kelurahan Kedurus 1,86 km². Total penduduk mencapai 75.481 jiwa dengan kepadatan 8.169 jiwa/km².
Data tahun 2015 menunjukkan volume sampah Kota Surabaya mencapai 9.475,21 m³/hari, sementara yang terangkut ke TPA hanya 4.925,5 m³/hari atau 51,98%. Bahkan, sekitar 32,5% warga yang bermukim dalam radius 500 m dari Kali Surabaya masih membuang sampah ke sungai.
Angka-angka ini menjelaskan bahwa pencemaran sungai bukan hanya soal perilaku individu, tetapi juga persoalan sistem pengelolaan lingkungan yang belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh masyarakat.
#Upaya Penanganan dan Harapan yang Belum Selesai
Sungai Kedurus sebenarnya tidak sepenuhnya diabaikan. Kali ini kerap disambangi berbagai pemangku kepentingan sungai melalui peninjauan dan sosialisasi izin pemanfaatan. Tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas bersama Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Kota Surabaya, Kelurahan Gunungsari, Perum Jasa Tirta I, serta PT Patra Jasa – PT Nindya Karya melakukan peninjauan lapangan lanjutan terhadap kondisi sedimentasi di Kali Kedurus.
Dari hasil tinjauan disepakati percepatan kegiatan normalisasi sungai sebagai langkah awal pengendalian banjir di Kota Surabaya. BBWS Brantas juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke aliran air serta ikut menjaga kelestarian sungai.
Di sisi ilmiah, penelitian dilakukan melalui pembagian 3 titik sampling dari wilayah Kecamatan Driyorejo hingga Kecamatan Karang Pilang. Pengukuran lingkungan meliputi suhu, pH, salinitas, densitas air, dan kecepatan arus.
Hasil pengukuran menunjukkan suhu rata-rata permukaan sungai mencapai 28,73°C. Nilai pH relatif stabil dengan rata-rata 8,4, masih berada dalam rentang ideal ekosistem akuatik yaitu sekitar 7–8,5. Salinitas cenderung meningkat menuju hilir, menunjukkan adanya perubahan karakteristik air sepanjang aliran sungai.
Secara angka, kondisi tersebut tampak masih memenuhi batas tertentu. Tetapi kehidupan sungai tidak hanya ditentukan oleh satu parameter. Kekeruhan air, rendahnya oksigen, serta masuknya bahan pencemar secara terus-menerus membuat keseimbangan ekosistem terganggu.
Ketika cahaya matahari sulit menembus air yang keruh, tumbuhan air tidak dapat tumbuh optimal. Padahal tumbuhan inilah yang membantu menghasilkan oksigen alami. Saat tumbuhan hilang, rantai kehidupan ikut terganggu.
Bagi manusia, perubahan ini sering tidak terasa cepat. Sungai masih mengalir dan tidak selalu menyebabkan banjir. Akan tetapi bagi sungai, kondisi tersebut adalah tanda kelelahan. Kemampuan alaminya untuk membersihkan diri telah melewati batas.
Di sinilah gagasan Hak Asasi Sungai menjadi relevan. Sungai bukanlah kali yang menjadi jalur air sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah. Tapi sungai yang memiliki batas daya dukung dan peran besar dalam menopang kehidupan. Mengakui hak sungai berarti memberi ruang agar ia tetap bersih, tetap hidup, dan tetap mampu mendukung keanekaragaman hayati.
Sungai yang dijaga akan kembali memberi manfaat. Sebaliknya, sungai yang terus dipaksa hanya akan meninggalkan masalah bagi manusia sendiri.
Hari ini, Sungai Kedurus menyampaikan pesannya bukan lewat bencana besar, melainkan lewat kesunyian. Lewat hilangnya ikan kecil, air yang mengeruh, dan anak-anak yang tidak lagi bermain di tepinya.
Sungai memang tidak bisa berbicara. Tetapi perubahan yang terjadi adalah bahasa yang paling jelas — bahwa ketika sungai memilih diam, sebenarnya aliran itu sedang meminta manusia untuk mulai mendengarkan.***

*) Nurlita Qoiriananda, mahasiswa Biologi, Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.