Lewati ke konten

Bau Menyengat Khas Pulp dan Kertas, Tim Ronda Sungai Pergoki Pembuangan Limbah ke Kali Porong

| 10 menit baca |Eksploratif | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi

Tim ronda sungai menemukan aliran limbah industri menuju Kali Porong disertai bau menyengat khas pulp, sludge, dan bahan kimia.

Panas mulai terasa ketika tim ronda sungai menyusuri kawasan industri di DAS Brantas, Selasa, 9 Juni 2026. Pukul 10.26 WIB, rombongan yang dikoordinatori Posko Ijo tiba di outlet fall limbah PT Mega Surya Eratama di Dusun Jasem, Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Di sepanjang jalan setapak menuju titik pembuangan, suara mesin pabrik terdengar bersahutan tanpa jeda dari kawasan industri sekitar. Seorang warga yang ditemui di dekat permukiman lebih dulu memberi isyarat mengenai kondisi sungai sambil memperhatikan rombongan yang membawa poster, jirigen dua liter untuk wadah sampel air, serta alat pengukur kualitas air.

“Mau kemana mas?” tanya warga itu.

“Ke sungai Pak,” jawab salah satu anggota tim.

Monggo, bagaimana itu kalinya keruh,” ujarnya.

Ucapan singkat tersebut menjadi penanda awal situasi yang kemudian ditemukan di lokasi. Semakin dekat menuju titik outlet, aroma menyengat mulai tercium dari arah saluran industri yang mengarah ke badan sungai.

Di lokasi pembuangan, aliran limbah terlihat mengalir langsung menuju Kali Porong. Air di sekitar outlet tampak berbeda dibanding aliran utama sungai, berbusa, serta meninggalkan endapan lumpur bercampur residu menyerupai sludge kertas di sela sedimentasi bantaran.

Beberapa bagian tepian sungai terlihat tertutup material berwarna kecokelatan pucat. Pada titik tertentu, permukaan air bergerak lambat sambil membawa potongan serat halus yang mengendap di pinggir saluran.

Dari pengamatan visual di lokasi, diameter pipa pembuangan diperkirakan berada pada kisaran 50 hingga 60 sentimeter. Ukuran tersebut setara dengan sekitar 20 hingga 24 inci.

Perkiraan paling mendekati mengarah pada diameter 60 sentimeter atau 24 inci. Ketebalan dinding pipa terlihat relatif tipis dibanding diameter keseluruhan, karakter yang umum ditemukan pada pipa HDPE atau beton berukuran besar.

Debit aliran limbah tampak mengisi sekitar 60 hingga 80 persen penampang pipa. Lengkungan pipa di bagian ujung juga menyerupai model elbow yang lazim digunakan pada kelas ukuran 20 hingga 24 inci.

Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, yang ikut dalam ronda sungai mengatakan kondisi ini memperlihatkan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas industri di kawasan DAS Brantas. Menurut dia, sungai tidak semestinya menjadi tempat akhir pembuangan limbah tanpa pengawasan ketat dan pemantauan terbuka.

“Bantaran DAS Brantas semakin dipenuhi aktivitas industri, tetapi pengawasan terhadap kualitas buangan masih lemah. Ketika warga mulai mengenali bau dan perubahan warna air, itu tanda ada masalah yang tidak bisa dianggap normal,” kata Rulli.

Peneliti Ecoton Sofi Azilan Aini membawa sampel air dalam jirigen yang diambil dari outlet fall limbah PT Mega Surya Eratama di Dusun Jasem, Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Selasa, 9 Juni 2026. Sampel tersebut dikumpulkan saat ronda sungai di DAS Brantas untuk mendokumentasikan kondisi aliran limbah yang mengarah ke Kali Porong. | Foto: Fully Syafi’i

Tim kemudian melakukan pengukuran kualitas air menggunakan Water Quality Meter di tepi Kali Porong. Hasil pengukuran menunjukkan angka 7.58 yang mengarah pada parameter pH air, sementara angka 31.5 derajat celsius menunjukkan suhu air di sekitar titik pembuangan limbah.

Pada bagian lain layar alat, muncul angka 2.8 yang diduga menunjukkan parameter dissolved oxygen (DO) dalam satuan miligram per liter atau ppm. Sementara angka 74.3 ditampilkan pada indikator total dissolved solids (TDS) dalam satuan ppm.

Pengukuran dilakukan langsung di badan sungai untuk melihat kondisi air di sekitar outlet pembuangan industri. Nilai suhu 31,5 derajat celsius tergolong tinggi untuk karakter umum sungai alami tropis, terutama pada aliran yang menerima limpasan panas aktivitas industri atau minim vegetasi peneduh di bantaran.

Sementara nilai dissolved oxygen sebesar 2.8 menunjukkan kadar oksigen terlarut yang relatif rendah bagi kehidupan organisme air. Penurunan kadar oksigen umumnya berkaitan dengan tingginya beban bahan organik maupun proses penguraian limbah di badan sungai.

Kali Porong sendiri merupakan salah satu cabang utama Sungai Brantas yang mengalir menuju pesisir timur Jawa Timur. Sungai ini memiliki fungsi penting sebagai saluran pengendali air, pengairan pertanian, hingga menopang aktivitas masyarakat di Mojokerto, Sidoarjo, dan wilayah sekitarnya.

Dalam dua dekade terakhir, bantaran Kali Porong berkembang menjadi koridor industri dengan aktivitas manufaktur yang padat. Pada saat bersamaan, sungai tersebut juga menanggung tekanan ekologis akibat limbah domestik, sedimentasi, dan pembuangan industri yang terus meningkat.

Aliran air keluar dari pipa pembuangan yang bermuara ke Kali Porong di kawasan industri Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Selasa (9/6/2026). Tim ronda sungai menemukan aliran buangan disertai bau menyengat serta endapan residu di sekitar outlet dan melakukan pengukuran kualitas air untuk mendokumentasikan kondisi sungai di kawasan hilir DAS Brantas. | Foto: Fully Syafi’i

#Bau Menyengat dan Dugaan Kandungan Limbah

Bau menyengat terus muncul selama tim berada di sekitar saluran pembuangan. Aroma tersebut menyerupai campuran pulp kertas, bahan kimia, dan material organik yang membusuk.

Peneliti Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Sofi Azilan Aini, menjelaskan aroma semacam itu umumnya berkaitan dengan senyawa tertentu yang kerap muncul pada limbah industri berbasis pulp dan kertas. Namun, ia menegaskan identifikasi pasti tetap membutuhkan pengujian laboratorium.

“Bau seperti ini biasanya berkaitan dengan senyawa sulfur volatil atau proses penguraian organik dalam kondisi minim oksigen. Di industri pulp dan kertas, aroma tajam sering muncul dari proses kimia tertentu maupun endapan residu limbah,” ujar Sofi.

Menurut dia, salah satu senyawa yang kerap memunculkan bau menyengat ialah hidrogen sulfida atau H₂S. Senyawa tersebut menghasilkan aroma menyerupai telur busuk dan biasanya muncul dari proses pembusukan bahan organik dalam kondisi anaerob.

Selain itu, terdapat kemungkinan keberadaan metil merkaptan dan senyawa sulfur volatil lain yang identik dengan proses industri pulp dan kertas. Bau menusuk juga dapat berasal dari amonia yang muncul dalam proses pengolahan limbah cair.

Sofi mengatakan beberapa industri menggunakan proses bleaching atau pemutihan berbasis bahan kimia tertentu. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat menghasilkan aroma klorin yang cukup tajam di sekitar saluran limbah.

Ia juga menyoroti kemungkinan adanya endapan campuran serat kayu, lumpur, dan residu pulp pada saluran pembuangan. Material organik yang mengendap dalam waktu lama dapat menghasilkan aroma anyir dan busuk ketika terurai.

Menurut Sofi, keberadaan bau kuat di sekitar outlet limbah perlu menjadi perhatian serius karena menunjukkan adanya akumulasi bahan organik maupun senyawa kimia tertentu di badan air. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas ekologis sungai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Penurunan kualitas air tidak hanya berdampak pada organisme akuatik, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Perubahan suhu, kadar oksigen, hingga pencemaran bahan organik dapat mengubah keseimbangan ekosistem perairan secara perlahan,” kata Sofi.

Selama pengukuran berlangsung, beberapa warga tampak memperhatikan aktivitas tim dari kejauhan. Sebagian berdiri di tepi jalan kampung sambil mengamati aliran sungai yang terlihat lebih keruh dibanding bagian lain.

Di sisi lain bantaran, suara mesin produksi dari kawasan industri terdengar nyaris tanpa jeda. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana sungai dan kawasan industri berada dalam jarak yang sangat dekat.

Dalam bentang DAS Brantas bagian hilir, ruang produksi dan ruang hidup warga nyaris berdempetan. Saluran drainase industri, kanal irigasi, serta aliran sungai kecil saling terhubung dalam satu sistem hidrologi kawasan.

Rulli mengatakan pemantauan kualitas air perlu dilakukan secara rutin dan terbuka kepada publik. Menurut dia, banyak perubahan kualitas sungai yang tidak langsung terlihat hanya dari warna air di permukaan.

“Kalau masyarakat mulai mencium bau yang berbeda atau melihat perubahan aliran, itu harus segera ditindaklanjuti. Sungai bukan ruang tertutup yang hanya dipahami industri dan regulator,” katanya.

#Pengukuran Berlanjut di Kali Sadar

Ronda sungai berlanjut hingga siang hari. Pukul 12.23 WIB, tim bergerak menuju kawasan PT Mekabox International di Dusun Sebani, Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Di lokasi kedua, saluran pembuangan limbah perusahaan diketahui mengarah ke Kali Sadar. Posisi outlet tersembunyi di balik rimbunan tanaman tebu di tepi aliran sungai.

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, melakukan pengambilan sampel air di outlet saluran limbah PT Mekabox International, Dusun Sebani, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Selasa, 9 Juni 2026. Sampel diambil saat ronda sungai di DAS Brantas untuk mendokumentasikan kondisi aliran limbah yang mengarah ke Kali Sadar. | Foto: Fully Syafi’i

Berbeda dengan titik sebelumnya, air yang keluar dari saluran pembuangan tampak bening ketika diamati dari permukaan. Namun tim masih menemukan minimnya vegetasi peneduh di sekitar bantaran sungai.

Dari proporsi bukaan pipa terhadap ketebalan dinding beton dan debit aliran yang terlihat, diameter pipa diperkirakan berada pada kisaran 35 hingga 50 sentimeter. Ukuran yang paling mendekati diperkirakan sekitar 40 sentimeter atau setara 16 inci.

Meski tampak lebih kecil dibanding titik sebelumnya, saluran tersebut tetap mengalir langsung menuju badan sungai. Di sekitar lokasi, suara mesin produksi dari kawasan industri masih terdengar hingga tepi aliran air.

Pengukuran kembali dilakukan menggunakan Water Quality Meter tipe AZ 86031. Hasil pengukuran menunjukkan angka yang berbeda dibanding titik sebelumnya di Kali Porong.

Tercatat nilai pH sebesar 7.50, sementara suhu air menunjukkan angka 31.3 derajat celsius. Angka 2.8 diduga merupakan parameter dissolved oxygen (DO), sedangkan nilai total dissolved solids (TDS) tercatat sebesar 571 ppm.

Meski air tampak bening di permukaan, suhu air di titik kedua masih tergolong tinggi dibanding karakter umum sungai tropis dengan vegetasi memadai. Nilai TDS yang lebih tinggi juga menunjukkan adanya akumulasi zat terlarut di badan air.

Kali Sadar merupakan anak sungai yang terhubung dengan sistem aliran DAS Brantas di wilayah Mojokerto. Sungai tersebut melintasi kawasan permukiman dan industri sebelum akhirnya terhubung dengan aliran lebih besar menuju wilayah hilir.

Fungsi Kali Sadar cukup penting bagi sistem drainase dan pengairan masyarakat sekitar. Namun keberadaan kawasan industri di sepanjang aliran sungai membuat badan air tersebut rentan menerima tekanan pencemaran dari aktivitas produksi.

Rulli mengatakan ronda sungai dilakukan untuk mendokumentasikan kondisi lapangan secara langsung sekaligus memperlihatkan situasi sungai kepada publik. Menurut dia, pemantauan kualitas air tidak cukup hanya bergantung pada laporan administratif perusahaan.

“Pemantauan harus dilakukan langsung di badan sungai karena masyarakat yang pertama merasakan dampaknya. Sungai bukan sekadar saluran air industri, tetapi ruang hidup warga dan ekosistem di sekitarnya,” ujarnya.

Secara geografis, kawasan Dusun Sebani berada lebih dekat ke bagian hulu dibanding kawasan industri Jasem tempat PT Mega Surya Eratama beroperasi. Perbedaan posisi tersebut terlihat dari kontur wilayah dan arah limpasan drainase kawasan industri Ngoro.

Outlet fall PT Mekabox International di Dusun Sebani, Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto tampak mengeluarkan air bening menuju Kali Sadar, Selasa, 9 Juni 2026. Meski secara visual terlihat jernih, tim ronda sungai tetap menemukan suhu air relatif tinggi saat pengukuran kualitas air dilakukan di lokasi. | Foto: Fully Syafi’i

Dusun Sebani berada di sisi yang relatif lebih tinggi di Kecamatan Ngoro. Sementara kawasan Jasem cenderung berada lebih ke hilir mengikuti arah saluran drainase menuju sistem aliran Kali Porong dan Brantas.

Meski demikian, penentuan hulu dan hilir di kawasan industri Ngoro tidak selalu sederhana. Banyak saluran air di wilayah tersebut merupakan kanal drainase, irigasi, maupun saluran buangan industri yang saling terhubung.

Karena itu, arah aliran air di setiap saluran dapat berbeda tergantung kontur dan desain drainase kawasan industri. Dalam beberapa titik, aliran dari satu kawasan dapat bermuara pada sistem sungai yang sama dalam jarak relatif dekat.

Jarak antara Dusun Sebani dan kawasan Jasem sendiri sekitar tiga hingga lima kilometer tergantung titik pengukuran. Kedekatan itu membuat perubahan kualitas air maupun aroma di saluran kawasan industri berpotensi saling berkaitan dalam satu sistem aliran lokal.

Sofi mengatakan kondisi sungai di kawasan industri perlu diawasi secara berkala karena tekanan pencemaran tidak selalu tampak dari warna air. “Air yang terlihat bening, belum tentu bebas dari kandungan bahan kimia maupun perubahan parameter kualitas air lainnya, “ ucapnya.

Menurut dia, perubahan suhu dan kandungan bahan organik dapat menjadi penanda awal adanya tekanan ekologis pada badan sungai. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kehidupan organisme air dan kualitas lingkungan sekitar.

Menjelang siang, panas di kawasan industri Ngoro semakin terasa. Di antara suara kendaraan berat dan deretan pabrik di bantaran sungai, aliran air terus bergerak perlahan membawa jejak aktivitas industri menuju wilayah hilir DAS Brantas.

Di tepian Kali Porong, endapan lumpur bercampur residu masih terlihat menempel di sela bebatuan bantaran. Sementara di Kali Sadar, air tampak lebih jernih di permukaan, tetapi pengukuran menunjukkan tekanan lingkungan belum benar-benar hilang dari aliran sungai kawasan industri tersebut.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *