Lewati ke konten

Lima Mahasiswa Susuri Kali Surabaya, Soal Sempadan Sungai Dipenuhi Permukiman dan Industri

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 37 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Lima mahasiswa berenang sejauh tiga kilometer, menyaksikan Kali Surabaya kehilangan ruang akibat permukiman dan kawasan industri.
  • Mereka melihat langsung kondisi sungai yang dinilai semakin jauh dari bentang alam alaminya.
  • Seorang peserta mengalami gatal setelah berenang, menambah kekhawatiran terhadap kualitas air Kali Surabaya.
  • Susur sungai menjadi ruang belajar mahasiswa lintas kampus memahami tantangan pelestarian daerah aliran sungai secara langsung.
  • Pengamatan langsung memperlihatkan tekanan terhadap sempadan sungai semakin nyata di kawasan Wringinanom, Kabupaten Gresik.

Menyaksikan Sungai dari Dalam Air

Ada pengalaman yang tak terlupakan bagi lima mahasiswa yang sedang magang di Ecoton saat menyusuri Kali Surabaya di kawasan Wringinanom, Gresik, Sabtu (18/7/2026). Lima mahasiswa dari berbagai kampus itu berenang sejauh sekitar tiga kilometer.

Dengan menggunakan jaket pelampung, mereka mengamati kondisi sungai secara langsung dari dalam aliran air.

Selama perjalanan, mereka melihat bantaran sungai dipenuhi permukiman. Yang lebih memprihatinkan, sempadan sungai dimanfaatkan sejumlah industri untuk mendirikan bangunan intake dan saluran outlet limbah.

Kondisi ini membuat sungai semakin kehilangan ruang ekologisnya.

“Saya membayangkan sungai sebagai ruang hidup yang alami. Namun, saat berada di dalam aliran, saya melihat banyak bagian sungai yang sudah berubah karena permukiman dan industri,” kata Nadhira Alifia Nuranisya, mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya, saat membagikan pengalamannya, Ahad (19/7/2026).

Nadhira menilai Kali Surabaya telah banyak kehilangan karakter alaminya akibat tekanan aktivitas manusia di sepanjang sempadan sungai.

“Ketika berada langsung di dalam sungai, saya menyadari bentang alaminya sudah banyak berubah. Permukiman dan industri sangat mendominasi. Pemandangannya jauh berbeda dibandingkan beberapa hari lalu saat saya mengambil sampel air,” ucapnya.

Lima mahasiswa berenang menelusuri Kali Surabaya sambil mendokumentasikan perubahan bentang sungai akibat aktivitas manusia. | Foto: Fully Syafi

#Pengalaman yang Membekas

Pengalaman berbeda dirasakan Farida Febriani Tampubolon, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Setelah berenang, kulitnya terasa gatal.

“Kulit saya terasa gatal setelah beberapa saat berada di air. Pengalaman ini membuat saya semakin khawatir terhadap kondisi sungai,” ujarnya.

Mahasiswa yang telah lebih dari lima bulan magang di Ecoton itu, mengatakan pengalamannya membuat semakin menyadari jika kualitas air sungai perlu mendapat perhatian lebih serius.

“Saya sudah lama magang di Ecoton, tetapi baru kali ini ikut berenang di sungai. Awalnya penasaran ingin melihat kondisinya secara langsung. Ternyata, pemandangannya sangat berbeda jika dilihat dari daratan dibandingkan ketika berada di dalam aliran sungai,” ujar Farida.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Farida mengatakan pengawasan terhadap Kali Surabaya, seharusnya dilakukan secara tegas dan konsisten agar pencemaran tidak terus bertambah.

“Saya melihat sendiri indikasi pencemaran di Kali Surabaya. Pengawasan terhadap sungai ini harus dilakukan lebih tegas dan konsisten. Jika dibiarkan terus, pencemaran akan semakin menumpuk dan dampaknya bisa dirasakan masyarakat maupun ekosistem sungai,” ujar Farida.

Sementara itu, Stien Angelin Manuhutu, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, mengatakan pengamatan langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan belajar di ruang kuliah.

“Melihat sungai dari dalam membuat saya memahami pentingnya menjaga sempadan dan ekosistemnya,” kata Stien.

Mahasiswa mengamati kondisi sempadan Kali Surabaya dari dalam aliran sungai selama kegiatan susur lapangan. | Foto: Fully Syafi

#Sungai Menjadi Ruang Belajar

Maulidatul Ula Bahari, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember, menilai pemulihan sungai memerlukan kepatuhan terhadap aturan serta kepedulian seluruh pihak.

“Sungai tidak cukup dipulihkan dengan teknologi. Semua pihak harus menjaga dan mematuhi aturan yang berlaku,” tuturnya.

Senada, Azmi Latifatul Artantiwi, mahasiswa Fakultas Sains dan Analitika Data Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), mengatakan pengalaman lapangan melengkapi pemahaman yang selama ini diperoleh dari data.

“Data memang penting, tetapi melihat langsung kondisi sungai membuat saya memahami bahwa persoalannya jauh lebih nyata daripada sekadar angka,” ujar Azmi.

Bagi kelima mahasiswa tersebut, susur Kali Surabaya bukan sekadar kegiatan lapangan, melainkan pengalaman yang memperlihatkan tantangan nyata menjaga ruang hidup sungai di tengah pesatnya perkembangan permukiman dan industri.

Mereka berharap pengalaman itu dapat menjadi pengingat bahwa perlindungan sempadan sungai dan pengawasan terhadap pencemaran harus dilakukan secara berkelanjutan demi menjaga fungsi ekologis Kali Surabaya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *