Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Membaca Sampah dari Mrican Kota Kediri

| 6 menit baca |Ekologis | 38 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Dari gang penuh peringatan jenaka hingga analisis isi tempat sampah, Kelurahan Mrican menjadi ruang belajar nyata Zero Waste Academy 2026 di tengah panas Kota Kediri.

Memasuki Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, langkah pengunjung langsung disambut gang-gang sempit yang sarat pesan. Khususnya di RT 02 RW 03, dinding rumah, pagar, dan sudut gang dipenuhi tulisan peringatan pengelolaan sampah.

Firly Mas’ulatul Jannah dari Ecoton (tengah) memberikan penjelasan tentang analisis karakteristik sampah kepada peserta Zero Waste Academy 2026. | Foto: Supriyadi

Isinya, tentu bukan hanya larangan membuang sampah plastik sekali pakai, tetapi juga teguran bagi perokok.

Di beberapa titik, wadah puntung rokok sengaja disediakan. Pesannya jelas, rokok boleh saja, tetapi puntungnya jangan jadi beban lingkungan. Tulisan peringatan itu dibuat sederhana, bahkan kerap salah eja atau tulis. Namun justru di situlah daya tariknya, jujur, apa adanya, dan mengundang senyum.

“Lucu, tapi rasanya kok malu sendiri kalau melanggar,” ujar Dina Andriani, peserta Zero Waste Academy 2026 dari SIBA Klasik Gresik. Ia tertawa kecil membaca salah satu tulisan di tembok gang. “Kayak ditegur tetangga sendiri.”

Hal serupa dirasakan Eka Ernawati dari Bank Sampah Lingkungan Bersahabat, Kecamatan Balongpanggang, Gresik. Menurutnya, pesan yang lahir dari warga lebih mudah diterima.

“Ini bukan spanduk mahal. Ini bahasa kampung, tapi justru kena ke hati,” katanya.

Gang-gang Mrican seolah menjadi ruang edukasi terbuka. Tanpa semarak dengan hiasan podium maupun mikrofon, warga menyampaikan pesan lingkungan lewat tulisan tangan yang sederhana, tentu saja efektif.

#Panas Kota dan Akademi yang Turun ke Lapangan

Kunjungan ke Mrican merupakan kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) dalam rangkaian Zero Waste Academy 2026, yang digelar Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), dan Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA).

Lurah Mrican, Johan Firdaus, menyambut peserta Zero Waste Academy saat berkunjung ke Kelurahan Mrican. | Foto: Supriyadi

Siang itu, Sabtu, (31/1/2026) suhu udara mencapai 30 derajat Celsius, terpantau dari gawai peserta. Panas terasa menyengat. Seorang warga berceletuk sambil mengipas wajah, “Sekarang Kediri panas dibanding dulu, bapak-bak, ibu. Lahan sudah banyak habis. Bandara saja lebih dari 450 hektar, belum lagi tol.”

Celetukan itu disambut tawa, tetapi juga menyimpan kegelisahan. Ekspansi pembangunan perlahan menggerus ruang hijau, membuat panas kian terasa di permukiman padat seperti Mrican. Di tengah kondisi itu, warga justru berupaya mengelola sampah dari sumbernya.

Ketua RT 02 RW 03 Kelurahan Mrican, Sujarno, menjelaskan alasan wilayahnya menjadi lokasi kunjungan lapangan.

“Kegiatan kita ini yaitu kegiatan Akademi Zero Waste. Di tempat kita ditunjuk sebagai perwakilan Kota Kediri,” ujarnya.

Penunjukan itu tak lepas dari prestasi lingkungan Mrican sebagai juara satu pengelolaan lingkungan tingkat Kota Kediri. “Makanya diarahkan ke sini untuk kegiatan Akademi Zero Waste dari Ecoton. Di sinilah lokasi kunjungan site-nya,” kata Sujarno.

Salah satu faktor penilaian utama adalah pengelolaan sampah yang terdokumentasi dengan baik. “Sampah di sini sangat terdokumentasi, kita kelola dengan digitalisasi,” ujarnya.

Lingkungan ini juga menerima berbagai dukungan dari Dinas Lingkunga Hidup Provinsi Jawa Timur, berupa dana pembinaan Rp 20 juta, komposter, kendaraan roda tiga (tossa) sebagai alat angkut sampah senilai sekitar Rp 25 juta, serta fasilitas biopori standar. “Kalau ditotal nilainya bisa 25 sampai 30 juta,” kata Sujarno.

Namun, ia menegaskan bahwa penghargaan bukan tujuan akhir. Yang terpenting adalah menjaga praktik pengelolaan sampah tetap berjalan di tingkat warga.

Eka Ernawati dari Bank Sampah Lingkungan Bersahabat, Kecamatan Balongpanggang, Gresik, menaiki kendaraan tossa bantuan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. Ia berharap pengelolaan sampah binaannya juga dapat memperoleh dukungan serupa. | Foto: Supriyadi

#AKSA, Kompos, dan Biopori: Membaca Masa Depan Sampah

Puncak kegiatan hari itu, Analisis Karakteristik Sampah (AKSA). Sampah rumah tangga dikumpulkan, dibongkar, lalu dipilah satu per satu. Dari situlah perilaku konsumsi warga dibaca.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Firly Mas’ulatul Jannah dari Ecoton menjelaskan, AKSA dilakukan selama tiga hari. “Kami mengumpulkan sekitar 40 jenis sampah dari tanggal 29, 30, dan 31 (Januari 2026),” ujarnya.

Sebanyak 25 warga terlibat sebagai responden, dengan dukungan 19 relawan serta peserta Zero Waste Academy 2026 yang tengah mengikuti kegiatan di Kota Kediri.

“Hasil sementara menunjukkan sampah residu yang paling banyak ditemukan adalah plastik multilayer dan kantong kresek, baik bening maupun bersablon,” kata Firly.

Temuan itu menegaskan, Mrican belum sepenuhnya bebas dari plastik sekali pakai. Namun, perubahan mendasar telah dimulai. “Mrican sudah melakukan pemilahan sampah dari rumah. Yang dikirim ke TPS hanya residu,” ujarnya.

Sampah daur ulang disalurkan ke Bank Sampah Pringgodani, sementara sampah organik diolah melalui pengomposan. Di beberapa titik RT, komposter berdiri sederhana, sebagian bantuan, sebagian hasil inisiatif warga.

Biopori juga dibuat di sejumlah lokasi, membantu pengolahan sampah organik sekaligus meningkatkan daya serap tanah. “Organiknya ditaruh di beberapa titik komposter itu,” kata Firly.

Direktur Ecoton, Dr. Daru Setyorini, juga menegaskan, analisis karakteristik sampah menjadi fondasi penting dalam merancang langkah pengelolaan sampah berikutnya.

“Di Mrican, ibu-ibu sudah tidak lagi menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Saat menerima tamu pun, kemasan plastik mulai ditinggalkan. Namun, residu masih ditemukan dalam jumlah cukup besar,” ujarnya.

Temuan tersebut, menurut Daru, menunjukkan masih perlunya pemilihan yang lebih rinci terhadap jenis plastik residu yang tersisa, termasuk sampah B3 yang masih muncul. “Dari data itu, kita bisa menentukan produk apa saja yang harus diganti dengan pilihan yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Ia menegaskan analisa karakteristik sampah menentukan banyak hal, kebutuhan sarana, arah regulasi pembatasan, hingga teknologi yang diperlukan. “Ini juga menentukan potensi sampah daur ulang yang bisa dijual ketika dipilah dari sumber,” ujarnya.

Meski semua belum terpenuhi, Lurah Mrican, Johan Firdaus, berharap praktik baik di RT 02 RW 03 bisa menular. “Sebenarnya ada empat bank sampah di kelurahan ini, tapi yang paling menonjol memang di RT 2 RW 3,” katanya.

Kelurahan Mrican memiliki 36 RT dan 8 RW dengan luas wilayah sekitar 1,418 kilometer persegi. Lurah Mrican, Johan Firdaus, berharap seluruh elemen warga dapat bergerak bersama dalam mengatasi persoalan sampah. “Harapannya semua bisa bersinergi dan maju seperti RW 2 RT 3,” ujarnya.

Johan juga menegaskan, Kelurahan Mrican tetap terbuka terhadap kritik. Meski telah meraih capaian dalam pengelolaan sampah, ia mengakui masih ada sejumlah hal yang perlu dibenahi.

“Mungkin pengunjung masih melihat warga yang menggunakan hiasan rumah dari plastik atau bahan peringatan yang masih berbahan plastik,” katanya.

Di bawah terik Kota Kediri, di antara gang sempit penuh peringatan jenaka, komposter, dan lubang biopori, Zero Waste Academy 2026 menemukan maknanya.

Pengelolaan sampah bukan sekadar soal teknologi atau target angka, melainkan kerja sunyi yang konsisten, dimulai dari rumah, dijaga bersama, dan kadang disampaikan dengan humor sederhana di tembok gang. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *