Lewati ke konten

Eco Aksi dan Refilin Tekan Sampah Sachet di Kali Tebu Surabaya Melalui Guna Ulang

| 6 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Sampah Kali Tebu didominasi popok dan sachet, mencapai satu ton pada April hingga Juli.
  • Edukasi warga Simokerto mendorong pengurangan sampah kawasan Kali Tebu hingga 900 kilogram.
  • Eco Aksi dan Refilin mengajak warga mengurangi sachet melalui praktik guna ulang.
  • Warga Simokerto mendorong toko Refilin untuk menekan sampah plastik dari rumah tangga.
  • Anak muda diajak menjadi sales Refilin sekaligus edukator pengurangan sampah sachet di Surabaya.

Penulis: Zhafira Naurasari, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON), yang berlangsung pada 31 Agustus – 11 Desember 2026.

SAMPAH popok dan sachet mendominasi timbulan sampah di Kali Tebu, Surabaya. Petugas trashboom mencatat sekitar satu ton sampah terkumpul pada April–Juli 2026 ini. Data tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh pola konsumsi rumah tangga harian.

Kondisi itu mendorong Eco Aksi dan Refilin menggelar aksi nyata. Kegiatan berlangsung di Kelurahan Simokerto, tempat warga diajak langsung mengurangi penggunaan sachet melalui praktik guna ulang (reuse).

“Refilin sangat bagus, apalagi melihat kondisi Kali Tebu saat ini,” kata Iin, warga Simokerto, saat melakukan pembelian produk Refilin, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang diinisiasi ECOTON ini mengajak sekaligus memberikan edukasi tentang dampak buruk sampah plastik bagi ekosistem. Edukasi juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.

“Kondisi Kali Tebu yang dipenuhi sampah sachet ini menjadi pengingat tentang pola konsumsi kita. Dan kita harus mau berubah,” kata Alexandra Anastasia Liegouri, salah satu anggota Eco Aksi yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Ia juga menambahkan bahwa aksi guna ulang ini merupakan bentuk langkah nyata Eco Aksi guna menyelamatkan ekosistem sungai demi masa depan lingkungan Surabaya. “Surabaya harus menjadi kota Zero Waste, nol dari sampah,” tandasnya.

BACA JUGA:  MOZAIK: Gerakan Kolektif Bisa Tekan Sampah Kali Tebu Surabaya
Bersama warga Simokerto, pegiat lingkungan mensosialisasikan pentingnya reuse untuk mengurangi sampah sachet dari rumah tangga. | Foto: Muhammad Zidan Abdillah

Sampah Rumah Tangga Mengalir ke Kali Tebu

Kelurahan Simokerto berada di sepanjang aliran Kali Tebu. Kedekatan permukiman dengan sungai ini membuat pengelolaan sampah menjadi amat penting. Sampah yang tercecer berpotensi besar masuk ke aliran sungai saat hujan.

Berdasarkan data yang dicatat MOZAIK, operasi pembersihan pada 20–21 Juni 2026 oleh DLH Surabaya bersama tim MOZAIK berhasil mengangkat 16 ton sampah dari sungai (DLH Surabaya Angkut 16 Ton Sampah dari Kali Tebu). Selain itu, pemantauan tanggal 11–26 Mei 2026 mencatat total sampah yang dievakuasi mencapai 11.579,77 kilogram atau sekitar 11,5 ton (Sampah Kali Tebu Surabaya Tembus 11 Ton). Pada puncak evakuasi awal Mei 2026, volume sampah yang terjaring alat trashboom (penahan sampah) bahkan mencapai 1.425 hingga 1.435 kilogram dalam sehari (Kali Tebu Surabaya Hasilkan 1,4 Ton Sampah Sehari).

Eco Aksi menilai edukasi perlu menyentuh masyarakat secara langsung. Pengetahuan tentang tempat pembuangan saja dinilai masih belum cukup. Warga juga perlu memahami dampak jangka panjang dari sampah plastik.

“Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik dapat merusak ekosistem. Material tersebut juga berpotensi mengganggu kehidupan berbagai organisme perairan. Karena itu, pengurangan dari sumber menjadi bagian paling penting,” jelas Ferlita Aurelia Wijaya, yang juga anggota Eco Aksi dan mahasiswa Ilmu Komunikasi Unesa.

Data petugas menunjukkan timbulan sampah kawasan mulai mengalami penurunan. Pada periode Juli–Agustus, sampah yang tercatat berkurang menjadi 900 kilogram. Angka tersebut menjadi indikator penting dalam melihat perubahan kawasan.

Bagi warga, persoalan sampah tidak hanya terlihat setelah turun hujan. Timbunan limbah ringan dapat terbawa menuju saluran ketika arus meningkat.

Pendekatan guna ulang menawarkan pilihan sebelum kemasan menjadi sampah. Warga tidak hanya diminta memilah, tetapi juga mengurangi kemasan.

BACA JUGA:  Festival Tiga Sungai Bulukumba: 500 Kg Sampah Diangkut, Gerakan Jaga Sungai Nusantara Resmi Dimulai

Kegiatan lapangan ini menjadi ruang mendengar kebutuhan warga setempat. Masukan dari warga sangat diperlukan agar program berjalan berkelanjutan.

Yuli menyebut toko Refilin dapat memudahkan akses belanja masyarakat. Ia melihat kebutuhan terhadap pilihan belanja yang lebih ramah lingkungan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Keterlibatan anak muda menjadi kunci utama perubahan perilaku masyarakat. Mereka dapat menjadi penghubung informasi antara penyelenggara dan warga.

Bagi Eco Aksi, pengurangan sachet perlu dilakukan secara konsisten. Edukasi intensif diperlukan ketika perubahan konsumsi membutuhkan kebiasaan baru.

Warga Simokerto diajak membangun kebiasaan reuse sebagai langkah sederhana menjaga Kali Tebu dari sampah plastik. | Foto: Muhammad Zidan Abdillah

#Refilin Dorong Pengurangan Sampah dari Sumber

Aksi 1 September sekaligus memperkenalkan kegiatan Refilin kepada masyarakat. Refilin mendorong pencegahan timbulan sampah melalui praktik guna ulang kawasan. Pendekatan tersebut berhasil mengurangi ketergantungan terhadap kemasan sekali pakai.

Iin menilai kegiatan Refilin sangat relevan dengan kondisi Kali Tebu. Menurutnya, perubahan kebiasaan perlu dilakukan bersama-sama oleh masyarakat. Upaya penanganan tidak cukup jika hanya mengandalkan petugas kebersihan.

Respons positif juga datang dari pengurus lingkungan setempat. Yuli Arwoko, Ketua RW 13 Kelurahan Simokerto, menyampaikan dukungan penuhnya. Ia berharap layanan Refilin dapat hadir lebih dekat dengan pemukiman.

“Kami ingin membuka toko Refilin di lingkungan sekitar untuk membantu mengurangi sampah plastik, dengan harapan sampah yang dibuang ke TPA tidak semakin menumpuk,” ujar Yuli.

Kehadiran Refilin dinilai dapat membuka pilihan konsumsi yang lebih berkelanjutan. Warga dapat menggunakan kembali wadah sendiri untuk kebutuhan rumah tangga. Langkah itu sekaligus menjadi alternatif pengganti kemasan sachet sekali pakai.

#Anak Muda Didorong Menjadi Penggerak Guna Ulang

Kegiatan Eco Aksi tidak hanya berhenti pada edukasi warga. Masyarakat, terutama anak muda, mendapat peluang bergabung sebagai sales Refilin. Peran tersebut dikemas menarik melalui program bernama NYADUK.

BACA JUGA:  Perketat Sanksi Hingga Blokir KTP, Surabaya Ancam Pembuang Sampah Sembarangan di Kali Tebu

NYADUK merupakan singkatan dari nyales dan edukasi. Peserta berperan mengenalkan produk sekaligus menyampaikan pesan edukasi lingkungan. Model ini diarahkan untuk memperluas gerakan guna ulang berbasis kawasan.

Eco Aksi mengajak pemuda di kawasan Surabaya Utara untuk terlibat. Mereka didorong menjadi pelopor pengurangan sampah sachet di lingkungannya. Gerakan tersebut diarahkan untuk membangun kebiasaan baru dari tingkat komunitas.

Pengurangan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan petugas. Tanggung jawab menjaga kebersihan tidak berhenti pada layanan pengangkutan semata. Perubahan juga perlu dimulai dari keputusan konsumsi setiap rumah tangga.

Kali Tebu menjadi salah satu ruang penting untuk melihat persoalan ini. Sampah yang muncul mencerminkan kebiasaan penggunaan produk sehari-hari. Karena itu, pengurangan dari sumber menjadi langkah yang harus diperkuat.

Eco Aksi dan Refilin menempatkan guna ulang sebagai pendekatan utama. Pendekatan itu dipadukan dengan edukasi dan keterlibatan aktif anak muda. Tujuannya mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan.

Aksi di Simokerto menunjukkan dukungan nyata warga terhadap upaya tersebut. Rencana membuka toko Refilin menjadi salah satu bentuk respons konkrit. Pelibatan pemuda juga membuka ruang bagi gerakan lingkungan tumbuh luas.

Dengan pengurangan dari sumber, beban pengelolaan sampah dapat ditekan. Upaya itu membutuhkan konsistensi warga dalam mengubah pola konsumsi. Perubahan kecil di tingkat rumah tangga akan memperkuat pengurangan sampah kawasan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *