Lewati ke konten

MOZAIK: Gerakan Kolektif Bisa Tekan Sampah Kali Tebu Surabaya

| 5 menit baca |Ekologis | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Sinergi lintas wilayah dorong pengurangan sampah dari hulu, soroti beban ribuan kilogram per hari, serta perlunya perubahan perilaku warga dan penguatan infrastruktur.

Kali Tebu terus menyimpan cerita tentang tekanan lingkungan di kawasan padat Surabaya utara. Aliran sungai yang melintasi sejumlah kelurahan itu menanggung beban sampah rumah tangga setiap hari, sekaligus memantulkan kebiasaan warga di sekitarnya.

Kondisi ini mendorong sinergi antara Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan Pemerintah Kota Surabaya melalui program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK), semakin dipertegas. Pertemuan strategis pun digelar di Aula Kecamatan Kenjeran pada Selasa, 5 April 2026.

Forum yang menghadirkan lurah, camat, perwakilan dinas lingkungan hidup, serta pemangku kepentingan dari wilayah yang dilalui Kali Tebu, mengarah pada penyelarasan peran sekaligus pembacaan persoalan dari berbagai sudut.

Dalam sesi tanya jawab, Lurah Simokerto Arief Insani menempatkan kondisi sungai sebagai cerminan perilaku bersama. “Yang sering dinilai itu sungainya kotor, tidak dilihat warga sudah mulai bergerak memilah sampah apa belum. Dari sisi warga kami juga masih banyak kekurangan,” kata Arief.

Menurut dia, perbedaan karakter wilayah memengaruhi kondisi sungai. Kepadatan penduduk, kebiasaan warga, hingga pola aktivitas ekonomi menciptakan variasi persoalan di setiap titik aliran. Pendekatan yang seragam dinilai sulit menjawab kompleksitas tersebut.

“Ayo kita gerak bareng. Tidak hanya di tempat kami saja, tapi banyak kelurahan. Harus lebih masif,” ujar Arief.

#Pendekatan Sosial dan Lintas Wilayah

Arief menilai dorongan perubahan perilaku perlu dibangun dengan pendekatan kebersamaan. Warga di berbagai wilayah memiliki tingkat kesadaran yang berbeda. Sebagian sudah memilah sampah, sebagian lain masih membutuhkan dorongan.

“Kita tidak bisa mencap semuanya baik atau buruk. Pasti ada kekurangan dan kelebihannya,” kata dia.

Diskusi yang juga menyinggung kemungkinan sumber sampah dari aktivitas ekonomi lokal. Produksi rumahan seperti industri tempe diduga menyumbang jenis plastik tertentu yang berakhir di sungai. Temuan ini menjadi catatan penting dalam merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.

Forum mempertemukan perspektif dari berbagai wilayah, mulai dari Kapas Madya Baru, Tambak Wedi, Kali Tanah Merah hingga Bulak Banteng. Setiap wilayah membawa persoalan spesifik. Di Kapas Madya Baru, praktik pembuangan sampah oleh pengguna jalan masih menjadi tantangan. Di Tambak Wedi, persoalan kepatuhan pembayaran iuran sampah dan perubahan perilaku warga masih mengemuka meski bank sampah telah terbentuk.

Suasana pertemuan lintas wilayah membahas penanganan sampah Kali Tebu yang menghadirkan unsur kelurahan, kecamatan, dan dinas terkait. Tampak KRISNA, Lurah Kapas Madya; Anggoro, Lurah Tambak Wedi Kenjeran; Fatimah Nurul dari DLH Surabaya; Arief Insani, Lurah Simokerto; M. Yusifian, Lurah Tambak Wedi; Agus Sugianto, perwakilan Sidotopo Wetan; Piter F.R, perwakilan Kelurahan Bulak Banteng; serta Noervita Amin, Camat Simokerto, mengikuti diskusi untuk memperkuat sinergi penanganan sampah dan perlindungan sungai. | Foto: Supriyadi

Gagasan pembentukan satuan tugas Kali Tebu menguat dalam forum. Satgas diharapkan berperan dalam patroli, penertiban, serta edukasi masyarakat. Camat Kenjeran Gin Gin Ginanjar menilai langkah pembentukan satgas dapat mempercepat perubahan di lapangan dengan melibatkan unsur pemerintah, praktisi, dan warga.

“Pembentukan satgas Kali Tebu perlu dipercepat dengan melibatkan kelurahan, dinas terkait, praktisi, dan masyarakat. Peran mereka penting untuk patroli, penertiban, sekaligus edukasi agar perubahan bisa terasa langsung,” kata Gin Gin.

#Infrastruktur dan Ekosistem Jadi Sorotan

Sementara itu, Camat Simokerto Noervita Amin menekankan pentingnya penanganan lintas wilayah. Kali Tebu melintasi tiga kecamatan, sehingga intervensi parsial dinilai tidak efektif. “Memang ada tiga kecamatan. Kenapa tidak nanti bergeraknya ke seluruh ruang,” kata Noervita.

Sejumlah langkah teknis telah direncanakan melalui penganggaran Musrenbang, termasuk perbaikan pelengsengan sungai. Upaya tersebut bertujuan memperkuat struktur bantaran sekaligus mencegah longsor. Dinas Lingkungan Hidup juga telah membantu perantingan pohon di beberapa titik, meski masih banyak vegetasi yang condong ke arah sungai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Persoalan sedimentasi menjadi perhatian utama. Endapan lumpur yang tebal menghambat aliran air dan memperburuk kondisi sungai. Penanganan membutuhkan alat berat serta koordinasi lintas wilayah agar dilakukan secara serentak.

“Sedimennya sangat tebal. Kalau penanganannya pakai alat berat harus dilakukan serentak, karena panjang alirannya cukup jauh,” ujar Noervita.

Dalam setiap langkah teknis, keseimbangan ekosistem menjadi pertimbangan penting. Penanganan yang tidak terukur berisiko merusak fungsi ekologis sungai. Noervita mengingatkan bahwa pemulihan sungai harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.

“Ekosistem harus dijaga. Penanganan tidak bisa dilakukan sembarangan,” kata dia.

Tantangan di lapangan masih terlihat, mulai dari praktik pembuangan limbah domestik langsung ke sungai hingga keterbatasan layanan pengangkutan. Tingginya volume sampah rumah tangga dan usaha serta limbah cair yang belum tertangani optimal menjadi pekerjaan rumah bersama. | Foto: Alaika

Harapan terhadap masa depan Kali Tebu juga disampaikan. Berdasarkan dokumentasi lama, sungai pernah menjadi ruang hidup yang bersih dan produktif. “Kalau melihat kondisi dulu, sungai bisa dilalui perahu. Harapannya bisa kembali seperti itu,” ujar Noervita.

#Timbulan Sampah dan Perubahan Perilaku

Dalam kesempatan tersebut, Arief Insani juga menyampaikan data timbulan sampah di wilayahnya sebagai dasar perencanaan. Setiap orang, kata dia diperkirakan menghasilkan 0,6 kilogram sampah per hari. Dengan asumsi satu RW dihuni sekitar 1.000 jiwa, maka satu RW menghasilkan sekitar 600 kilogram sampah setiap hari.

“Jika satu tempat penampungan sementara (TPS) melayani 10 RW, total sampah mencapai 6.000 kilogram per hari,” kata Arief.

Volume menurut Insani, memberi tekanan besar pada sistem pengelolaan sampah di tingkat lokal. Pemerintah menyediakan tongbin berkapasitas 250 kilogram untuk menampung sampah harian. “Perhitungan menunjukkan satu TPS membutuhkan sekitar 24 unit tongbin agar mampu menampung volume,” ujarnya.

Pengurangan sampah dari sumber menjadi strategi utama. Warga didorong memilah sampah sejak dari rumah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta menyalurkan sampah anorganik ke bank sampah.

Penggunaan barang guna ulang seperti botol minum, tas belanja, dan wadah makanan terus digencarkan untuk menekan plastik sekali pakai. Berbagai program lingkungan telah berjalan di sejumlah titik. Kegiatan pemilahan sampah dan pengolahan barang bekas menjadi produk bernilai guna menunjukkan adanya modal sosial yang dapat dikembangkan.

Dalam praktiknya masih terlihat, termasuk praktik pembuangan limbah domestik langsung ke sungai di beberapa lokasi. Keterbatasan layanan pengangkutan, tingginya volume sampah rumah tangga dan usaha, serta limbah cair yang belum tertangani optimal menjadi pekerjaan rumah bersama.

Tanpa perubahan perilaku yang konsisten, tekanan terhadap sungai akan terus meningkat. Forum Kali Tebu menegaskan, persoalan sampah membutuhkan gerakan kolektif lintas wilayah.

Sungai menjadi cermin bersama, tempat berbagai kebiasaan bertemu dan meninggalkan jejak, sehingga upaya pemulihan menuntut keterlibatan warga, pemerintah, dan komunitas dalam satu arah perubahan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *