Lewati ke konten

ECOTON Bawa MIMO ke Kali Tebu Surabaya, Anak-anak Melihat Mikroplastik Lewat Mikroskop

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 13 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • ECOTON membawa laboratorium berjalan ke Kali Tebu agar anak-anak melihat mikroplastik langsung melalui mikroskop.
  • Sampel air dan daun Kali Tebu diperiksa dalam edukasi mikroplastik di SDN Sidotopo Wetan 5.
  • MIMO memperkenalkan penelitian mikroplastik kepada anak-anak melalui pengambilan sampel dari lingkungan sekitar.
  • Edukasi ECOTON menunjukkan sampah plastik dapat terfragmentasi menjadi partikel berukuran sangat kecil.
  • Melihat mikroplastik lewat mikroskop membuat siswa menghubungkan pencemaran dengan kebiasaan menggunakan plastik.

Penulis: Fina Nailatul Izzah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON), yang berlangsung pada 31 Agustus – 11 Desember 2026.

 

LABORATORIUM biasanya identik dengan ruang tertutup dan peralatan khusus. ECOTON membawa aktivitas itu keluar ruangan melalui MIMO, Microplastic Mobile Laboratory, di sekitar Kali Tebu, Surabaya.

MIMO hadir di SDN Sidotopo Wetan 5 Surabaya. Anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan mengenai mikroplastik, tetapi ikut mengambil sampel lingkungan pada Senin, 31 Agustus 2026 itu.

Mereka mengambil sampel air dan daun dari sekitar Kali Tebu. Sampel kemudian diamati menggunakan mikroskop untuk mengenali partikel berukuran sangat kecil.

Cara tersebut membuat persoalan mikroplastik menjadi lebih konkret bagi peserta. Pencemaran plastik tidak lagi sekadar dibicarakan sebagai persoalan yang jauh.

Sampah plastik, dalam kondisi lingkungan tertentu, dapat mengalami fragmentasi. Pecahan itu dapat berubah menjadi partikel berukuran sangat kecil yang disebut mikroplastik.

Kepala Laboratorium Rafika Aprilianti memberikan edukasi tentang bahaya mikroplastik kepada anak-anak SDN Sidotopo Wetan 5. | Foto: M Iffan

#Laboratorium Dibawa ke Tengah Permukiman

ECOTON menggunakan MIMO sebagai sarana edukasi yang mendekatkan penelitian kepada masyarakat. Laboratorium berjalan tersebut memungkinkan warga mengenal proses pengamatan mikroplastik secara langsung.

BACA JUGA:  Anak-Anak Menanam Harapan Baru: Kisah JAPRI Keluarga Menghidupkan Rumah dan Sungai Gresik

Anak-anak menjadi bagian dari proses sejak pengambilan sampel. Mereka kemudian melihat objek penelitian menggunakan mikroskop yang tersedia dalam kegiatan.

Rafika Aprilianti dari tim Mikroplastik Journey mengatakan, MIMO dirancang membawa pengalaman laboratorium keluar dari ruang penelitian.

“Hadirnya Mimo ini mengajak masyarakat secara random untuk bermain mikroskop,” ujar Rafika, yang juga Kepala Laboratorium ECOTON. Menurut dia, masyarakat kini dapat melihat langsung bentuk mikroplastik yang biasanya diamati di laboratorium.

Pendekatan ini mengubah pola edukasi dari sekadar penyampaian informasi. Peserta memperoleh pengalaman langsung melalui proses pengambilan dan pengamatan sampel.

Bagi anak-anak, pengalaman tersebut juga memperkenalkan cara sederhana memahami persoalan lingkungan. Mereka belajar bahwa pencemaran dapat diteliti melalui bukti dari lingkungan sekitar.

Kali Tebu kemudian menjadi ruang belajar dalam kegiatan tersebut. Air dan daun yang berada di sekitar mereka menjadi bagian dari proses pengamatan.

#Siswa Menghubungkan Plastik dengan Pencemaran

Nadia, siswi kelas enam SDN Sidotopo Wetan 5, mengatakan kegiatan MIMO memberinya pengetahuan baru. Ia memahami bahwa kebiasaan membuang sampah berkaitan dengan kondisi sungai.

“Dengan adanya Mimo kita jadi banyak belajar bahwa sebenarnya kita tidak boleh membuang sampah di sungai,” ujar Nadia.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ia juga mengatakan masyarakat sebaiknya tidak membakar sampah plastik. Menurut Nadia, penggunaan plastik perlu mulai dikurangi dalam kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan serupa diperoleh Nisa, siswi kelas enam sekolah tersebut. Ia mengaku baru memahami isu mikroplastik setelah mengikuti kegiatan MIMO.

Siswa SDN Sidotopo Wetan 5 Surabaya sedang mengamati langsung sampel mikroplastik melalui mikroskop bersama tim ECOTON. | Foto: M Iffan

“Aku baru tahu ternyata minuman yang dikemas di plastik setelah diuji, ternyata juga tercemar mikroplastiknya,” kata Nisa.

BACA JUGA:  Festival Tiga Sungai Bulukumba: Satukan Warga Jaga Bialo, Bijawang, dan Balantieng

Ia kemudian memilih membawa tempat minum dan tempat makan sendiri. Kebiasaan tersebut dinilainya dapat membantu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Pernyataan kedua siswa itu menunjukkan perubahan pemahaman setelah mengikuti kegiatan. Edukasi tidak berhenti pada mengenali istilah mikroplastik, tetapi menyentuh pilihan sehari-hari.

#Dari Kali Tebu, Edukasi Menyasar Kebiasaan

MIMO tidak hanya memperkenalkan mikroplastik sebagai objek penelitian. Kegiatan tersebut juga mengajak masyarakat melihat kembali kebiasaan mereka menggunakan dan membuang plastik.

ECOTON mendorong peserta tidak membuang sampah ke sungai. Mereka juga diajak tidak membakar sampah plastik dan mengurangi plastik sekali pakai.

Membawa wadah makan dan minum sendiri menjadi salah satu kebiasaan yang diperkenalkan. Langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi timbulan sampah plastik dari aktivitas harian.

Pendekatan ini penting karena persoalan mikroplastik tidak selesai ketika sampah meninggalkan tangan manusia. Plastik yang masuk lingkungan dapat mengalami perubahan fisik dan terfragmentasi.

Namun, kegiatan edukasi semacam ini tidak menggantikan penelitian ilmiah yang terukur. Pengamatan menggunakan mikroskop dalam kegiatan pendidikan perlu dibedakan dari analisis laboratorium untuk menghasilkan data kuantitatif.

MIMO lebih berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengenalkan persoalan tersebut. Anak-anak diajak memahami bagaimana lingkungan dapat menjadi sumber sampel penelitian.

Di sekitar Kali Tebu, pengetahuan itu diperkenalkan melalui pengalaman yang sederhana. Air dan daun yang mereka temui sehari-hari menjadi bahan untuk belajar tentang pencemaran.

Dari sana, isu mikroplastik tidak lagi berhenti sebagai istilah teknis. Ia mulai dikaitkan dengan sungai, sampah, konsumsi plastik, dan kebiasaan masyarakat.

ECOTON berharap pendekatan tersebut mendorong masyarakat mengambil langkah pengurangan plastik. Kesadaran kemudian diharapkan berkembang menjadi perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

MIMO pada akhirnya membawa satu pesan sederhana kepada peserta. Untuk memahami pencemaran, masyarakat perlu melihat persoalan itu lebih dekat.***

BACA JUGA:  Lima Mahasiswa, Satu Pertanyaan, dan Kelahiran Gerakan Lingkungan dari Ruang Laboratorium ECOTON Bernama GrowGreen

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *