Ratusan anak pulang membawa bibit pohon dan membawa pulang harapan baru. Melalui program JAPRI Keluarga, mereka belajar menanam, merawat, dan menjaga lingkungan rumah serta sungai, sembari menumbuhkan semangat ekologis bersama keluarga.
#Bibit Kecil yang Mengubah Cara Anak-Anak Memandang Alam
Halaman UPT SDN 192 Gresik, Jawa Timur, dipenuhi riuh rendah suara anak-anak. Bukan suara biasa, tapi ada ketakjuban, ada rasa bangga, dan juga ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
Di tangan-tangan kecil mereka, tergenggam bibit pohon yang akan mereka bawa pulang, jambu darsono, mangga, blimbing, nangka, bahkan sukun yang batangnya lebih panjang dari lengan mereka.

Program itu bernama, JAPRI Keluarga (Jaga Pohon Rawat Indonesia) yang resmi diluncurkan pada 18 Juli 2025.
Wajah anak-anak itu seperti berubah menjadi halaman-halaman buku yang siap ditulisi cerita baru. Mereka tak hanya menerima bibit, tetapi juga amanah untuk merawatnya, seperti merawat teman baru yang harus tumbuh bersama mereka.
Kepala Sekolah UPT SDN 192 Gresik, Wiwik Dwi Astutik, menyambut program ini dengan hangat. Ia percaya, pembelajaran terbaik bukan datang dari halaman buku, melainkan dari pengalaman langsung menyentuh tanah, memegang cangkul kecil, dan melihat daun pertama muncul.
Di belakangnya, para guru dan orang tua berdiri, menyaksikan bagaimana momen sederhana ini dapat menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran ekologis.
Dalam pidato singkatnya, Alaika Rahmatullah dari Ecoton mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan hanya isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Isu ini hadir di halaman rumah, di sungai yang mulai dangkal, di udara yang kian panas, dan di lingkungan yang semakin kehilangan hijau.
“Karena itulah JAPRI Keluarga hadir, mengembalikan kesadaran bahwa menjaga bumi dimulai dari rumah, “ kata Alaika.
Setiap anak menerima bibit pohon dan juga meteran kecil yang akan mereka gunakan untuk mengukur pertumbuhan pohon setiap minggu.
Di situlah letak pendidikan sesungguhnya: tidak hanya menanam, tetapi juga merawat, mencatat, dan mengamati. Sebuah pengalaman yang membentuk kedekatan baru antara anak dan alam.

#Dari Sekolah ke Sekolah, Gerakan Hijau Menyebar dan Mengakar
Setelah peluncuran, tim Ecoton tidak berhenti. Mereka bergerak ke enam sekolah dasar lain dan satu sekolah menengah pertama di Wringinanom.
Setiap kunjungan selalu diiringi cerita yang berbeda, tetapi antusiasme yang ditunjukkan anak-anak hampir selalu sama, besar, penuh keingintahuan, dan tulus.
Di salah satu sekolah, anak-anak bahkan menyiapkan pertanyaan yang mereka tulis semalam sebelumnya. “Kalau pohonnya tumbuh miring, apa yang harus saya lakukan?” tanya seorang siswa sambil mengangkat tangan kecilnya dengan percaya diri.
Cerita demi ceeita juga muncul di sekolah lain. Seorang siswa bercerita bahwa ia ingin menanam mangga karena ia ingin memetik buahnya bersama neneknya.
Cerita-cerita kecil inilah yang menjadi bahan bakar program JAPRI, mengubah pendidikan lingkungan menjadi lebih dekat, lebih manusiawi.
Tidak semua bibit ditanam di halaman rumah. Sebagian diarahkan ke lokasi bantaran sungai, tempat tanahnya masih kosong dan rentan erosi. Dengan pendampingan Ecoton, siswa dan masyarakat menanam pohon di sepanjang 2.989 meter bantaran sungai.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMereka menciptakan barisan hijau baru yang perlahan menghidupkan kembali kawasan tersebut. Setiap lubang tanah yang ditutup seolah menjadi cara mereka mengatakan kepada bumi: “Kami mulai dari sini.”
Hingga akhir tahun, 700 bibit pohon produktif berhasil didistribusikan dan 93 persen tumbuh sehat.
Sementara itu, 702 warga, terdiri dari siswa, orang tua, guru, dan masyarakat, terlibat dalam kegiatan adopsi pohon. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa gerakan kecil bisa menular, melebar, dan membentuk partisipasi kolektif.
Di beberapa rumah, anak-anak membuat jadwal menyiram pohon. Di halaman lain, seorang ayah membantu membuat pagar bambu rumah untuk pohon kecil anaknya.
Juga di bantaran sungai, kelompok warga membentuk giliran menjaga area tanam dari hewan liar. Pelan-pelan, JAPRI menjadikan lingkungan sebagai sekolah tanpa batas.
#Ketika Keluarga Menjadi Ruang Belajar Lingkungan yang Sesungguhnya
Salah satu keunikan JAPRI Keluarga adalah bagaimana program ini membawa pembelajaran ke dalam rumah. Banyak orang tua yang awalnya menganggap kegiatan ini hanya sebatas menanam. Namun setelah beberapa minggu, mereka mulai melihat perubahan pada anak-anak mereka.
Ada anak yang sebelumnya sering bermain gawai, kini setiap pagi memeriksa kelembapan tanah sebelum berangkat sekolah. Ada pula anak yang menempelkan foto-foto perkembangan pohonnya di dinding kamar, membandingkan daun pertama, kedua, dan ketiga. Beberapa keluarga bahkan mengubah rutinitas sore mereka menjadi waktu bersama untuk menyiram tanaman.
Seorang ibu dari SDN Lebani Waras menuturkan bahwa pohon sukun yang ditanam anaknya menjadi titik pertemuan keluarga. Mereka kini makan sore di dekat pohon itu sambil berdiskusi tentang tinggi terbarunya. “Rasanya rumah jadi lebih hidup,” katanya pelan sambil tersenyum.
Di sisi lain, seorang siswa dari MTs Modern Al-Huda memilih menanam nangka di pekarangan belakang. Ia bersungguh-sungguh mengukur pertumbuhan batangnya dan mencatatnya di buku harian kecil. “Biar nanti kalau sudah besar, saya ingat kapan saya menanamnya,” ujarnya. Ada kebanggaan tersendiri yang muncul ketika ia menyampaikan cerita itu.

Keluarga, tanpa disadari, menjadi sekolah yang lebih besar daripada ruang kelas. Mereka belajar bahwa merawat alam tidak harus dimulai dari program besar; cukup dari halaman rumah, dari waktu luang yang disisihkah, dari kesediaan untuk peduli.
#Masa Depan yang Tumbuh, Daun demi Daun
Menjelang penutupan laporan program, Ecoton dan PT Petrokimia Gresik menyampaikan terima kasih kepada seluruh sekolah di Wringinanom.
Mereka menyadari bahwa JAPRI Keluarga lebih dari sekadar distribusi bibit dan penanaman pohon. Program ini telah menjadi jembatan emosi antara anak, keluarga, sekolah, dan lingkungan.
Pohon-pohon yang kini tumbuh di halaman rumah warga bukan hanya penanda keberhasilan program, tetapi juga penanda perubahan cara berpikir. Mereka adalah bukti bahwa kesadaran ekologis dapat tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan bersama.
Di bantaran sungai yang dulunya gersang, kini garis hijau mulai tampak dari kejauhan. Di halaman-halaman rumah, tunas-tunas baru terus muncul. Dan di hati anak-anak, tumbuh keyakinan bahwa mereka bisa menjadi bagian dari perubahan iklim, bukan sekadar korban.
JAPRI Keluarga adalah cerita tentang harapan yang ditanam di tanah, tetapi tumbuh di dalam diri. Sebuah cerita yang kelak, ketika pohon-pohon itu besar, akan menjadi kenangan indah yang mereka bisikkan kepada generasi berikutnya: bahwa menyelamatkan bumi dimulai dari satu anak, satu keluarga, dan satu pohon.***