Lewati ke konten

Edukasi Mikroplastik sejak Dini, Greenpeace Rilis Buku Anak “Miko Si Monster Plastik”

| 5 menit baca |Mikroplastik | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Plastik sekali pakai dianggap higienis, tetapi mikroplastik mengintai. Greenpeace mengajak keluarga mengenal risikonya melalui buku cerita Miko Si Monster Plastik.
  • Lewat kisah Miko, Greenpeace mengajak anak dan orang tua memahami perjalanan mikroplastik sekaligus membangun kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai.
  • Kebiasaan membawa rantang kembali dikenalkan. Greenpeace mendorong keluarga meninggalkan ketergantungan plastik sekali pakai demi kesehatan dan lingkungan lebih berkelanjutan.
  • Mikroplastik tak terlihat mata, tetapi risikonya perlu diperbincangkan. Buku Miko menjadi pintu masuk edukasi plastik bagi keluarga Indonesia.
  • Anak-anak diajak menjadi agen perubahan keluarga melalui kisah Miko, sambil mengenali bahaya mikroplastik dan pentingnya sistem guna ulang.

PLASTIK sekali pakai selama ini kerap dianggap lebih aman dan higienis dibandingkan wadah guna ulang. Persepsi ini turut memengaruhi pilihan konsumsi rumah tangga, termasuk dalam penyimpanan dan penyajian makanan.

Namun, anggapan tersebut menyimpan persoalan. Plastik sekali pakai berpotensi menjadi sumber paparan bahan kimia dan partikel mikroplastik yang dapat berpindah ke makanan selama proses penyimpanan maupun konsumsi. Risiko ini sering kali tidak disadari karena mikroplastik berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat langsung oleh mata.

Persoalan mikroplastik yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari mendorong Greenpeace Indonesia berkolaborasi dengan duo penulis dan ilustrator asal Yogyakarta, Titah AW dan Sekar Bestari. Keduanya meluncurkan buku cerita bergambar berjudul “Rahasia Perjalanan Miko Si Monster Plastik”.

Buku yang diluncurkan di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada 26–27 September 2026 tersebut mengajak anak-anak mengikuti perjalanan mikroplastik dalam sistem pangan modern sekaligus mengenali dampak penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Untuk penyusunan buku Rahasia Perjalanan Miko, kami jadi banyak mempelajari dan refleksi soal gaya hidup anak-anak di kota sehari-hari, termasuk kami sendiri. Seberapa banyak sih plastik yang kita gunakan? Apa dampak jangka panjangnya dan kira-kira alternatif apa ya yang bisa kita akses untuk mengurangi plastik di hidup kita?” kata Titah dalam laman resmi Greenpeace pada 27 September 2026.

BACA JUGA:  PET Jadi ‘Raja Mikroplastik’, Laporan ECOTON: Tubuh Manusia Kini Resmi Jadi Tempat Sampah

Menurut Titah, proses penyusunan buku tersebut membuatnya semakin memahami bahwa persoalan plastik tidak hanya berkaitan dengan sampah. Isu plastik juga bersinggungan dengan politik, kesehatan, lingkungan, hingga kesadaran masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Sekar berharap buku tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi orang tua dan anak untuk membicarakan persoalan plastik, terutama risiko mikroplastik.

“Kami harap buku ini bisa jadi pintu masuk untuk anak-anak dan orang tua membicarakan isu plastik, terutama risiko mikroplastik, bersama-sama,” ujar Sekar.

Ia juga berharap anak-anak dapat menjadi agen perubahan di dalam keluarga dengan mendorong perubahan kebiasaan penggunaan plastik.

“Kami percaya anak-anak tuh sebetulnya aware sekali soal lingkungan sekitarnya,” imbuhnya.

Seorang anak mengikuti kegiatan edukasi mengolah makanan menggunakan bahan dan peralatan guna ulang dalam festival keluarga “Rantang Riang: Pantang Plastik Sekarang!” di Jakarta. | Foto: Dhemas Reviyanto/Greenpeace

Mikroplastik dan perubahan pola konsumsi

Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia, mengatakan tingginya produksi dan penggunaan plastik serta ketergantungan terhadap sistem sekali pakai dapat meningkatkan potensi kontaminasi mikroplastik dalam kehidupan manusia.

Menurut Afifah, ukuran mikroplastik yang sangat kecil membuat keberadaannya sulit disadari masyarakat.

“Karena ukurannya yang sangat kecil, mulai dari 5 milimeter saja, kontaminasi mikroplastik bisa terjadi kapan saja tanpa kita sadari,” kata Afifah.

Ia menilai perubahan pola pikir di tingkat rumah tangga diperlukan untuk mendorong pola konsumsi yang lebih aman bagi kesehatan sekaligus lebih ramah lingkungan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat dalam festival keluarga “Rantang Riang: Pantang Plastik Sekarang!” yang digelar di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Festival tersebut mengusung pendekatan pola asuh minim sampah. Selain peluncuran buku Rahasia Perjalanan Miko Si Monster Plastik, kegiatan juga diisi berbagai aktivitas edukatif mengenai risiko ketergantungan terhadap plastik serta pengenalan sistem guna ulang sebagai salah satu solusi.

BACA JUGA:  Mobil Laboratorium Ecoton Latih 50 Kader Lingkungan SMAN 1 Driyorejo Kaji Mikroplastik

Menghidupkan kembali budaya rantang

Ibar Akbar, Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, mengatakan sistem guna ulang sebenarnya bukan praktik baru bagi masyarakat Indonesia.

Melalui Rantang Riang, Greenpeace ingin mengajak keluarga menghidupkan kembali kebiasaan membawa bekal menggunakan wadah guna ulang, termasuk rantang, ketika bepergian.

“Lewat Rantang Riang, kami ingin mengajak keluarga Indonesia untuk mengembalikan kebiasaan lama keluarga yang sering bawa bekal pakai wadah guna ulang, seperti rantang, saat bepergian, daripada beli makanan atau minuman berkemasan sekali pakai,” kata Ibar.

Menurut Ibar, praktik guna ulang telah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga Indonesia. Namun, kebiasaan tersebut semakin tergerus oleh sistem ekonomi yang mendorong tingginya konsumsi produk sekali pakai.

“Padahal, sistem ini malah mendorong konsumsi tinggi terhadap produk sekali pakai tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang,” ujarnya.

Meski perubahan kebiasaan di tingkat keluarga penting, Ibar menilai upaya tersebut tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan plastik.

Menurut dia, pemerintah dan korporasi juga memiliki tanggung jawab dalam mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah, terutama melalui pengurangan produksi kemasan plastik sekali pakai sejak dari hulu.

“Peran pemerintah serta tanggung jawab korporat juga krusial dalam hirarki pengelolaan sampah. Rumah tangga yang berhasil mengelola sampahnya dengan baik harus didukung oleh regulasi yang tegas dan pengurangan produksi kemasan plastik sekali pakai dari hulu,” kata Ibar.

Ia menegaskan penyelesaian krisis sampah plastik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari rumah tangga, pemerintah, hingga korporasi.

“Tanpa ketiga aspek tersebut, krisis yang timbul dari sampah plastik tidak akan selesai,” tegasnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *