Lewati ke konten

PCNU Lamongan dan Aksara Pegon: Belajar Bahasa Nenek Moyang, Biar Gak Cuma Swipe TikTok

| 3 menit baca |Ide | 9 dibaca

LAMONGAN – Kalau biasanya generasi muda cuma jago scroll feed TikTok, swipe Reels, dan like story teman yang lagi liburan, PCNU Lamongan punya misi lain: ngajari mereka aksara Pegon. Iya, aksara yang bikin huruf Arab bisa “ngomong Jawa” ini tiba-tiba naik panggung modern, dan bukan sekadar buat pajangan Instagram.

Bustanul Habibi, Sekretaris Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Lamongan, bilang kalau kampanye Pegon ini penting banget. Selain menjaga tradisi literasi pesantren, aksara ini juga mengenalkan warisan ulama Nusantara kepada generasi sekarang.

“Aksara Pegon bukan sekadar simbol, tetapi warisan literasi pesantren yang harus dijaga dan diwariskan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya dalam keterangan tertulis Senin, (22/9/2025).

Programnya sih kelihatannya sederhana: workshop, kelas singkat, dan lomba menulis Pegon. Tapi kalau dicermati, ini kayak menyelamatkan harta karun yang selama ini cuma jadi pajangan di perpustakaan atau dicatat ala kadarnya di buku sejarah. Bayangkan saja, huruf-huruf yang dulu dipakai Walisongo, nyaris punah, sekarang diajari ke anak-anak yang lebih fasih nge-scroll TikTok daripada nulis tangan.

#GenerasiPegon: Dari Layar ke Buku Tulis

Ada yang lucu tapi juga bikin getir: saat guru ngajarin cara nulis Pegon, beberapa murid sempat bingung. “Ini kok mirip Arab tapi beda ya?” tanya mereka polos. Ya iyalah, itu memang Arab versi Jawa, bro. Tapi kalau mereka mau paham, ya harus sabar sedikit, lepasin genggaman smartphone, dan angkat pena.

PCNU Lamongan nggak cuma ngajarin nulis, tapi juga mengenalkan sejarah di balik aksara ini. Dari naskah kuno sampai syair-syair islami yang dulu mengalir di pesantren. Jadi, murid-murid nggak cuma belajar simbol huruf, tapi juga belajar kalau jaman nenek moyang mereka punya cara unik untuk menyampaikan ilmu dan agama.

#PegonItuKeren, Tapi Butuh Kesabaran

Masalahnya, belajar Pegon itu nggak semudah nge-game. Ada huruf yang mirip, ada tanda baca yang beda, dan ada aturan baca yang bikin kepala nyut-nyutan kalau cuma dihafal. Tapi justru dari sini terlihat perjuangan: kalau generasi muda bisa sabar belajar Pegon, berarti mereka juga bisa sabar menghadapi hidup yang nggak melulu instant.

Di sisi lain, program ini juga kayak sinyal: PCNU Lamongan bilang, “Hei, jangan cuma ngurusin feed Instagram, ada warisan budaya yang lebih penting.” Lucu, tapi serius. Dan meskipun anak-anak awalnya skeptis, perlahan beberapa mulai tersenyum ketika berhasil nulis nama sendiri dalam Pegon. Rasanya kayak nemu achievement baru, tapi versi sejarah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#AksaraPegon: Simbol Cinta Tanah Air

Kalau ditarik ke skala lebih besar, program ini bukan cuma soal aksara, tapi soal identitas. Menulis Pegon itu seperti ngomong, “Aku masih terhubung sama akar budaya dan sejarahku.” Di tengah derasnya globalisasi dan budaya pop yang serba instan, Pegon jadi semacam jangkar: mengingatkan generasi muda, bahwa selain hashtag dan likes, ada warisan yang harus dijaga.

PCNU Lamongan sepertinya sadar benar: kalau aksara ini hilang, hilang juga sebagian kecil cara orang Jawa berkomunikasi, beragama, dan bercerita. Jadi, daripada cuma jadi bahan pameran museum, lebih baik Pegon aktif lagi di tangan anak-anak muda—meski awalnya susah, kaku, dan bikin frustrasi.

“Kami ingin Pegon hadir juga di ruang digital, sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Bustanul Habibi menegaskan.

Akhirnya, Pegon pun mulai “menginvasi” feed anak muda Lamongan. Bukan lewat video viral, tapi lewat pena, buku tulis, dan kelas-kelas sabar. Kalau ini berhasil, siapa tahu nanti ada anak muda yang bisa nge-rap pake Pegon, atau bikin meme sejarah yang malah viral. Yang jelas, satu hal sudah pasti: aksara Pegon nggak cuma kuno, tapi juga bisa keren kalau dibawa ke jaman sekarang.***

 

Supriyadi, jurnalis tinggal di Lamongan berkontribusi dalam penulisan artikel ini | Editor: Marga Bagus Santoso |

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *