- Sungai bukan cuma air mengalir, ia punya napas yang kini tercekik polusi. Pemutaran film Good Morning Tomorrow menantang anak muda: sanggupkah kita berhenti mengotori sumber air minum sendiri?
- Sering beli jajanan berwadah plastik sekali pakai? Tanpa sadar, kita ikut meracuni Kali Surabaya. Lewat sinema dan diskusi, ECOTON mengajak anak muda, yang kerap disebut Gen Z bertindak nyata sebelum air baku benar-benar sirna.
- Menyusuri hulu hingga hilir Kali Surabaya membongkar fakta memilukan: limbah industri dan sampah rumah tangga mengepung sungai. Film ini membuka mata bahwa krisis air baku adalah masalah personal kita.
- Dibuat dari kisah nyata susur sungai dan jeritan Kali Surabaya sepanjang 46 kilometer. Good Morning Tomorrow hadir bukan sekadar tontonan, melainkan pemantik keberanian generasi muda untuk menjaga lingkungan terdekat.
- Menjaga sungai bukan cuma tugas pemerintah atau LSM. Belajar dari pemulihan Sungai Seine di Paris, Kali Surabaya hanya bisa diselamatkan jika kita berhenti acuh dan mulai bergerak dari sekarang.

Penulis: Karina Sandra Pramudita, Siswa Kelas 11 SMK Negeri 1 Cerme Gresik yang lagi magang di Ecoton, 29 Juni – 31 Oktober 2026. Jauh dari orang tua dan kadang suka kangen rumah. Biasanya cuma bisa belajar soal sungai dari buku teks, tapi kali ini berani terjun langsung jadi “detektif sungai”. Jadi, jangan heran kalau pas pulang-pulang udah hafal luar kepala nama-nama ikan lokal, tapi masih suka ketuker bedain mana ikan dan mana temen sekolah.
SUNGAI tak sekadar aliran air, seperti yang kita lihat selama ini. Tetapi sungai juga memiliki napas. Aliran itu ingin hidup, memancarkan kebeningan. Pencemaran yang terjadi adalah pengganggu napas-napas aliran. Yang perlu disadari oleh kita bersama.
Lewat film Good Morning Tomorrow yang bertemakan “Ketika Sungai Menjadi Masalah Personal” yang pengambilan gambarnya di Kali Surabaya, terlihat jelas. Jika sungai yang memiliki panjang 46 kilometer itu sedang tercemar. Tentu saja, napas-napas alirannya terganggu.
Ada pertanyaan besar oleh saya saat menonton film garapan ECOTON dan Perum Jasa Tirta I di Institut français d’Indonésie (IFI) pada Kamis, 15 Oktober 2026. Pemutaran film yang menyedot perhatian kalangan muda, mulai dari pelajar SMA/SMK hingga mahasiswa di Surabaya dan sekitarnya itu: Apakah mampu mengubah perilaku warga secara personal?

Kalau mengikuti pada sesi diskusi, yang dipandu Lid Deborah Widodo, yang kemudian saya menyapa Kak Debora, mahasiswi FISIP Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Kak Debora mengatakan jika acara yang digelar malam itu, mulai pukul 19.30 – 21.30 WIB, memang sengaja dirancang sebagai ruang seni sinema, edukasi lingkungan, sekaligus mengajak aksi nyata tentang pemulihan sumber daya air.
“Acara ini memang sengaja dirancang dari sebuah kolaborasi antara PJT 1 dengan Ecoton. Tujuannya memberikan edukasi lingkungan terhadap kalangan muda. Yang saat ini kurang aware terhadap isu-isu lingkungan,” ucapnya kurang lebih yang saya ingat-ingat.
Menarik memang pernyataan Kak Deborah itu. Kakak dari Sorong ini memang berbicara pada kenyataan yang terjadi sekarang. Banyak anak muda yang kurang memberi perhatian serius terhadap sungai. Rata-rata anak muda menjadi penyumbang sampah ke sungai. Pembelian jajanan dengan menggunakan plastik sekali pakai merupakan bentuk penyumbangan sampah yang kemudian menuju ke sungai.
“Harapan dari film ini adalah agar teman-teman tergerak ketika melihat kerusakan sungai. Kami ingin film ini menjadi pemantik agar anak-anak muda ikut merasakan kepedulian terhadap sungai,” kata Kak Jofan dalam panggilan cepatnya.
Film yang dibintangi Jofanny Ahmad Afrianto dengan Ellana Go itu, menurut saya menyentuh memang. Berharap membawa perubahan pada diri saya, tidak menggunakan plastik sekali pakai. Tapi sayang, sudah dua kali saya menonton tanpa kehadiran Ellana Go. Pertama, saat diputar di Taman Suaka Ikan di bantaran Kali Surabaya pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Kedua malam itu, Kamis, Ellana Go juga tak muncul sebagai pemantik diskusi. Padahal saya dan mungkin juga penonton lainnya ingin mendengarkan cerita Ellena Go. Bagaimana dalam film itu Ellana yang seorang siswi SMA di Surabaya kerap menanyakan muasal air untuk kebutuhan harian warga di kota tempat tinggalnya itu. Mulai dari untuk mandi, mencuci, hingga konsumsi.
Pertanyaan yang mungkin saja tak pernah terdengar pada generasi muda saat ini. Yang saya kenal Gen Z itu. Terasa membawa pada realitas pahit dalam diri saya. Bagaimana tiap scene film yang menampilkan kondisi air Kali Surabaya sebagai air baku.
Kalau Kak Jofanny, saya kerap melihatnya. Karena saya saat ini sedang magang di Ecoton. Ia kerap saya lihat. Kalau tidak sedang di Kali Tebu Surabaya, yang saat ini juga terlibat dalam kegiatan isi ulang (Refill) sebagai pengembangan usaha Ecoton, sekaligus kampanye plastik sekali pakai kebutuhan rumah tangga.
Kak Jofanny sangat menguasai tema-tema saat dilangsungkan diskusi. Dalam pandangan emosionalnya yang cukup kuat. Mungkin saja itu dipengaruhi keterlibatan Kak Jofanny di Ecoton. Yang setiap hari dengan mata kepala saya melihatnya. Di lembaga itu, para pegiat lingkungannya berkutat pada persoalan Kali Surabaya.

Jofanny Memerankan Karakter Sesungguhnya
Karakternya dalam mengekspresikan kemarahan atas praktik industri yang membuang limbahnya langsung ke Kali Surabaya, menunjukkan bahwa hal itu benar terjadi. Sebab dibarengi ceritanya, bahwa sebelum pembuatan film, ia bersama tim Ecoton telah melakukan susur sungai, mulai dari hulu Kali Surabaya yang berada di Mlirip Mojokerto hingga Gunungsari Surabaya.
Dari sinilah, ia menunjukkan bukti jika pencemaran di Kali Surabaya, industri juga terlibat. Selain perbuatan warga sendiri yang membuang sampahnya di sepanjang Kali Surabaya, seperti sampah kemasan, popok, dan pembalut sekali pakai yang tersangkut di pepohonan bantaran.
“Harapan dari film ini adalah agar teman-teman tergerak ketika melihat kerusakan sungai. Kami ingin film ini menjadi pemantik agar anak-anak muda ikut merasakan kepedulian terhadap sungai,” kata Kak Jofan dalam panggilan cepatnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Namun kemudian Kak Jofanny menandaskan, jika perubahan tidak harus langsung berskala besar. Tapi sangat diperlukan langkah kecil terlebih dahulu. Dari diri sendiri dan orang-orang terdekat, seperti keluarga dan teman dekat.
“Selama sungai masih kita anggap sebagai tanggung jawab pemerintah, LSM, atau orang lain, masalah sungai tidak akan selesai,” ujar Pak Amir, kami memanggilnya.
Pandangan tak kalah menarik yang saya rasakan disampaikan peneliti senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, yang dalam catatan ini saya sebut Pak Amir. Pria yang mungkin saja baru kali pertama saya melihatnya ini, menceritakan tentang perjalanan bersama pendiri Ecoton, Pak Prigi Arisandi, yang bagi saya tak asing. Saat keliling Indonesia saat Ekspedisi Sungai Nusantara pada 2022–2023.
Selain berbagai pengalaman perjalanan, Pak Amir juga memiliki pandangan tentang Kali Surabaya. Kata Pak Amir, pentingnya mengubah cara pandang masyarakat agar tidak lagi membebankan penanganan krisis air semata-mata kepada instansi formal.
“Selama sungai masih kita anggap sebagai tanggung jawab pemerintah, LSM, atau orang lain, masalah sungai tidak akan selesai,” ujar Pak Amir, kami memanggilnya.
Pak Amir juga mengambil refleksi dari proyek pemulihan Sungai Seine di Paris, sebagai bukti bahwa sungai yang tercemar parah pun dapat dipulihkan kembali jika ada komitmen bersama. Meski menelan jangka panjang, kebijakan yang konsisten, serta investasi sosial dari seluruh elemen masyarakat.

Menggugah Diskusi dan Aksi Nyata
Diskusi berlangsung dinamis saat para peserta membagikan respons mereka. Arief Maulana Sabilillah—saya biasa menyapa Kak Arief, yang sama-sama magang di Ecoton. Bedanya Kak Arief ini sudah S2 dari UGM Yogyakarta, kalau saya masih SMK.
Kak Arief menarik dalam menanggapi diskusi. Ia menanyakan bagaimana cara menumbuhkan empati personal agar masyarakat mau bergerak aktif menjaga sungai.
Kak Jofanny pun menanggapi dengan cerita pengalamannya. Ia memiliki kenangan masa kecilnya yang tumbuh di dekat sungai, bermain dan berenang di aliran air yang dulu bersih. Sebuah latar belakang yang membentuk keterikatan emosionalnya hingga kini aktif dalam gerakan lingkungan.
Sementara itu, mahasiswa Teknik Lingkungan UPN Veteran Jawa Timur, yang aku lupa menanyakan namanya, maaf, ia menyela pola perilaku masyarakat yang terus mengulang kebiasaan membuang sampah sembarangan meski telah mengetahui dampaknya.
Diskusi menarik ini justru membuat mata saya tidak ngantuk, meski jam sudah menunjukkan malam. Karena saya mendengarkan bahwa penyelesaian krisis sungai membutuhkan kombinasi antara penegakan hukum, perbaikan sistem pengelolaan sampah, dan pengawasan industri secara ketat.
Hal ini diungkapkan Nasya, mahasiswi Universitas Brawijaya, yang mengaku mendapatkan sudut pandang baru usai menyaksikan pemutaran film tersebut.
“Kesan pertama saya setelah menonton Good Morning Tomorrow adalah film ini membuka perspektif baru tentang bagaimana pencemaran air, khususnya di Sungai Surabaya, menjadi isu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari,” tutur Nasya.
Melalui ruang edukasi kreatif seperti ini, ECOTON bersama para mitra berharap generasi muda tidak lagi memandang sungai sebagai objek yang terpisah dari kehidupan mereka, melainkan sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga keberlanjutannya.***