Lewati ke konten

Nobar Film Good Morning Tomorrow di Wisma Jerman Surabaya: Kerusakan Sungai Bukan Beban Masyarakat

| 4 menit baca |Pelajar Mbois | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Wisma Jerman Surabaya sukses menggelar nobar dan diskusi publik film pendek Good Morning Tomorrow pada Sabtu (31/10/2026) yang dihadiri berbagai kalangan masyarakat.
  • Film ini menyoroti perjalanan kesadaran Ellana Go mengenai ancaman pencemaran dari hulu ke hilir serta dugaan pembuangan limbah pipa ke Sungai Surabaya.
  • Sejumlah titik kritis turut disoroti, termasuk Kali Porong, Kali Surabaya di Karang Pilang, Pintu Air Gunungsari, hingga kawasan Hutan Kali Surabaya.
  • Narasumber Thara Bening dan Jofanny menegaskan bahwa menjaga sungai memerlukan regulasi tegas, pengawasan limbah, serta pencegahan sampah melalui prinsip reduce dan reuse.
  • Persoalan sungai adalah tanggung jawab bersama, sehingga masyarakat diajak memulai perubahan dari lingkungan terdekat demi menjaga masa depan kehidupan air bersih.

Penulis: Karina Sandra Pramudita, siswa kelas 11 SMK Negeri 1 Cerme Gresik yang sedang menjalani magang di ECOTON pada 29 Juni–31 Oktober 2026.

Tulisan ini merupakan hadiah kecil dari Karina untuk khalayak, sekaligus ungkapan terima kasih kepada ECOTON yang telah memberikan ruang belajar, pengalaman, dan bimbingan selama menjalani masa magang. Dari yang awalnya belajar tentang sungai melalui buku teks, Karina kini berkesempatan terjun langsung mengenal sungai, lingkungan, dan kehidupan di dalamnya.

KERUSAKAN sungai bukan tanggung jawab warga yang tinggal di bantaran sungai. Tapi isu yang sudah mengancam kehidupan ini, sudah mulai meluas. Dan harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama stakeholder (pemerintah setempat) yang menjadi kawasan sungai.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik film pendek Good Morning Tomorrow: Ketika Sungai Menjadi Masalah Personal yang sukses digelar di Wisma Jerman Surabaya, pada Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, hingga orang tua. Acara diisi dengan pemutaran film yang dilanjutkan sesi diskusi interaktif guna mengajak peserta merenungkan kembali hubungan manusia dengan sungai serta dampak nyata pencemaran air bagi kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:  Anak-Anak Menanam Harapan Baru: Kisah JAPRI Keluarga Menghidupkan Rumah dan Sungai Gresik

Kesadaran Generasi Muda

Film Good Morning Tomorrow menyoroti perjalanan kesadaran Ellana Go, siswi kelas 3 SMA asal Surabaya. Kesadarannya bermula dari pertanyaan sederhana mengenai dari mana asal air yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan tersebut menuntunnya pada realitas bahwa sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini menghadapi ancaman serius dari hulu hingga hilir. Dalam film ini, Jofanny juga menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan air, termasuk adanya dugaan pembuangan limbah industri melalui pipa-pipa liar ke Sungai Surabaya.

Film berdurasi ringkas ini, turut memetakan sejumlah titik kritis di Surabaya dan sekitarnya. Kali Porong, misalnya. Sungai yang memiliki panjang 13 kilomter ini juga sedang tercemari. Begituhalnya Kali Mlirip, Mojokerto yang merupakan hulu dari Kali Surabaya.

Tak kalah tercemar hebat adalah Kali Sadar di Mojokerto. Kali Surabaya di Kawasan Karang Pilang ada Kali Tebu di Kali Tambakwedi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menjaga Sungai Butuh Regulasi Tegas

Sesi diskusi publik yang menghadirkan Thara Bening dan Jofanny sebagai narasumber menegaskan bahwa upaya menjaga sungai tidak cukup diselesaikan lewat kegiatan bersih-bersih sesaat.

“Perubahan tidak harus dimulai dari semuanya sekaligus. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, lalu tuntut kebijakan yang tegas agar sungai benar-benar terjaga dari hulu ke hilir,” ungkap Thara.

Beberapa poin penting yang dibahas dalam diskusi meliputi:

  1. Regulasi dan Pengawasan: Perlunya penegakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang membuang limbah sembarangan.
  2. Penerapan Prinsip 3R Sejak Dini: Penanganan sampah plastik di sungai tidak cukup mengandalkan daur ulang (recycle), melainkan pencegahan awal melalui reduce dan reuse, serta mendorong tanggung jawab produsen lewat konsep Extended Producer Responsibility (EPR).
  3. Pola Konsumsi Modern: Jejak sampah plastik dari produk sekali pakai yang kerap masuk ke saluran drainase hingga mencemari ekosistem sungai.
BACA JUGA:  Temukan Saluran Pembuangan di Hilir Kali Tengah, Posko Ijo Singgung PT Surabaya Mekabox

Jofanny menambahkan bahwa sungai memiliki batas daya tampung yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

“Sungai bukan sekadar aliran air. Sungai memiliki batas. Ketika kita diam saja melihat sungai tercemar, berarti kita membiarkan masa depan kita terluka pula,” tegasnya.

Mengubah Paradigma

Melalui kegiatan ini, para peserta diajak menyadari bahwa sungai bukanlah ruang terpisah dari kehidupan manusia. Pola pikir yang menganggap pencemaran sungai hanya tanggung jawab warga bantara harus diubah, sebab dampak buruk seperti banjir dan krisis air bersih dirasakan oleh semua.

Perlindungan dan pemulihan sungai membutuhkan kolaborasi pentahelix yang melibatkan individu, keluarga, lingkungan RT/RW, komunitas, pemerintah, hingga produsen.

Dengan berakhirnya acara nobar dan diskusi publik ini, diharapkan masyarakat Surabaya—khususnya dari kalangan Generasi Z—mampu mengambil langkah nyata dari lingkungan terdekat, karena menjaga sungai pada hakikatnya adalah menjaga masa depan kehidupan bersama.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *