Lewati ke konten

Darurat Sampah di Jawa Timur: Unej dan Sarka Space Gandeng Warga Bondowoso Kelola Limbah Plastik

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Universitas Jember bersama Sarka Space menggelar sosialisasi tentang bahaya limbah plastik, mikroplastik, dan pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan di Bondowoso.
  • Bondowoso menghadapi persoalan serius karena berdasarkan data SIPSN 2025, 99,87 persen sampah tercatat belum terkelola.
  • Peserta diajak memahami bahwa sampah plastik sulit terurai dan dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik yang menyebar melalui tanah serta perairan.
  • Pengelolaan sampah didorong dimulai dari sumber melalui pemilahan, pengumpulan, penggunaan kembali, dan pengolahan untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
  • Kolaborasi perguruan tinggi, komunitas, bank sampah, dan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.

Penulis: Vika Anjani, mahasiswa aktif Program Studi Penyuluhan Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Selain aktif dalam kegiatan akademik, juga terlibat menginisiasi komunitas REPLAST Gen Z, komunitas yang bergerak di bidang lingkungan dengan fokus pada edukasi dan kampanye pengurangan penggunaan plastik, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

 

PERSOALAN sampah masih menjadi tantangan serius yang belum sepenuhnya terurai di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2025, Jawa Timur menempati posisi kedua sebagai provinsi dengan timbulan sampah tahunan tertinggi, mencapai 4,95 juta ton. Angka yang masif ini menegaskan betapa mendesaknya penguatan pengelolaan sampah di tingkat daerah.

Kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan terlihat di Kabupaten Bondowoso. Berdasarkan data SIPSN 2025, kabupaten ini menempati posisi pertama di Jawa Timur dalam hal persentase sampah yang belum terkelola, yakni mencapai 99,87 persen.

Pendiri Sarka Space, Ahmad Quraisy, mengungkapkan bahwa tingginya angka tersebut menjadi alarm sekaligus pengingat keras bagi semua pihak. “Angka 99,87 persen sampah yang belum terkelola di Bondowoso adalah tantangan besar yang tidak bisa dihadapi sebelah pihak. Kondisi ini menuntut kita untuk segera membangun kesadaran kolektif dari tingkat tapak, mulai dari bahaya limbah plastik hingga urgensi pengolahannya,” ujarnya, Sabtu (31/10/2026).

BACA JUGA:  35 Siswa Mawar Sharon Christian School Belajar Kelola Sampah di Kampung MOZAIK

Realitas pelik inilah yang mendorong kolaborasi strategis antara civitas akademika Universitas Jember (Unej) dan Komunitas Sarka Space di Kabupaten Bondowoso melalui program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).

Mengusung tema “Penguatan Hilirisasi Limbah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular pada Komunitas Sarka Space untuk Mewujudkan Zero Waste Pendukung Pertanian Perdesaan,” rangkaian kegiatan ini berfokus pada Sosialisasi Bahaya Limbah Plastik, Mikroplastik, dan Urgensi Pengolahan Limbah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Peserta mengikuti sosialisasi tentang mikroplastik dan dampaknya dalam kegiatan pengabdian masyarakat Universitas Jember bersama Sarka Space di Bondowoso. | Foto: Vika Anjani

Ancaman Mikroplastik di Lingkungan

Sosialisasi yang digelar di markas Sarka Space ini menghadirkan audiens yang partisipatif, mulai dari pengelola komunitas, perwakilan bank sampah mitra penyalur limbah, hingga warga sekitar. Pelibatan lintas elemen ini dinilai krusial untuk memastikan gerakan pemilahan sampah benar-benar dimulai dari sumber utamanya: rumah tangga.

Dalam sesi pemaparan, peserta diajak memahami karakter limbah plastik yang sangat sulit terurai secara alami dan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terdegradasi. Pembuangan plastik secara sembarangan tidak hanya merusak lanskap lingkungan, tetapi juga mencemari tanah dan ekosistem perairan.

Persoalan kian kompleks ketika sampah plastik di alam mengalami pelapukan fisik dan terfragmentasi menjadi partikel kasat mata berukuran renik yang disebut mikroplastik. Ukurannya yang sangat kecil membuat mikroplastik sulit dikendalikan, mencemari rantai ekologis, dan berpotensi menyusup ke dalam rantai makanan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Oleh karena itu, edukasi ini menekankan bahwa penanganan sampah tidak boleh hanya menunggu hingga terjadi penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kesadaran untuk memilah, mengumpulkan, menggunakan kembali (reusables), dan mengolah sampah sejak dari sumbernya adalah sebuah keniscayaan.

BACA JUGA:  Nina Peringatkan Dampak Racun Plastik yang Mengancam Kesehatan Perempuan Pengumpul Sampah Gresik, Berkirim Surat kepada Bupati
Peserta mengikuti diskusi dalam kegiatan sosialisasi bahaya limbah plastik dan mikroplastik bersama Universitas Jember dan Sarka Space di Bondowoso. | Foto: Vika Anjani

Peran Strategis dan Gerakan Akar Rumput

Di tengah tantangan pengelolaan sampah di Bondowoso, kehadiran Komunitas Sarka Space menjadi motor penggerak yang penting. Komunitas ini konsisten bergerak dalam pemanfaatan limbah—menampung pasokan dari jaringan bank sampah lokal—lalu mengolahnya kembali menjadi produk bernilai guna melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Sementara itu, anggota Sarka Space, Husain, menegaskan bahwa upaya mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi ini dirancang sejalan dengan misi membangun kesadaran lingkungan warga. “Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sampah plastik bukanlah akhir dari siklus, melainkan material yang bisa diberi nilai tambah jika dikelola dengan bijak dan konsisten,” tuturnya.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, komunitas kreatif, bank sampah, dan masyarakat ini, kegiatan pengabdian Unej dan Sarka Space diharapkan tidak berhenti sebatas seremonial kebersihan lingkungan. Lebih dari itu, kolaborasi ini menjadi fondasi awal dalam menumbuhkan budaya baru: mengurangi, memilah, dan mengolah sampah demi mewujudkan masa depan lingkungan perdesaan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *