- 35 siswa Mawar Sharon Christian School mengunjungi Kampung MOZAIK untuk belajar pengelolaan sampah melalui pembelajaran berbasis proyek.
- Kampung MOZAIK menjadi percontohan zero waste dengan praktik pemilahan, pengomposan, pengurangan plastik, dan pemanfaatan sampah.
- Siswa mengunjungi Trashboom, Dropo, Komposter Sumur, Refilin, GRADASI, dan Komposter Lahsamor untuk mengenal berbagai inovasi pengelolaan sampah.
- Siswa mempraktikkan pemilahan sampah organik dan pembuatan kompos dari sisa makanan menggunakan metode sederhana Galon Kura.
- Guru berharap pengalaman tersebut mendorong siswa terlibat mengelola sampah sekaligus mengembangkan penelitian dan inovasi pengolahan sampah di masa depan.

Penulis: Tonis Afrianto, Waste Prevention Manager Program MOZAIK ECOTON.
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang digagas Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Program ini didukung UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, Clean Rivers, dan Emirates Foundation, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di kawasan Kali Tebu, Surabaya.
SISWA Mawar Sharon Christian School Surabaya mengunjungi Kampung MOZAIK di kawasan Kali Tebu, Surabaya, Kamis (30/10/2026). Kunjungan yang diikuti 35 siswa itu, menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek, mengenalkan siswa secara langsung mengenai pengelolaan sampah dan upaya membangun lingkungan minim sampah.
Kampung MOZAIK merupakan salah satu kampung percontohan zero waste yang diinisiasi Yayasan ECOTON di kawasan Kali Tebu. Di kampung ini, warga mengembangkan berbagai praktik pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan, pengomposan, pengurangan sampah plastik, hingga pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua PKK RW 13, Mujiatiningsih. Setelah itu, para siswa diajak menyusuri sejumlah titik pembelajaran yang dikembangkan warga bersama ECOTON.
Menyusuri Titik Pengelolaan Sampah
Setelah sambutan, siswa diajak melihat Trashboom, fasilitas untuk menangkap sampah yang terbawa aliran sungai. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Drop Point Popok (Dropo), tempat khusus untuk pengumpulan popok sekali pakai.
Selanjutnya, siswa mengunjungi Komposter Sumur. Di lokasi tersebut, mereka mendapatkan penjelasan sekaligus praktik singkat memilah sampah organik menggunakan ORBIN.

Siswa kemudian mengunjungi Refilin, GRADASI, dan Komposter Lahsamor. Mereka juga dikenalkan dengan kebun ketahanan pangan yang memanfaatkan hasil pengolahan sampah organik untuk mendukung kegiatan bercocok tanam warga.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian siswa adalah praktik membuat kompos dari sisa makanan. Dengan menggunakan metode sederhana dan Galon Kura, siswa belajar bahwa sisa makanan yang selama ini dianggap sebagai sampah dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.
Sisa Makanan Menjadi Kompos dan Pupuk
Salah seorang siswa, Gabriel, kelas 11, menilai Kampung MOZAIK dapat menjadi contoh bagi kampung lain di Indonesia dalam membangun lingkungan yang lebih bersih dan peduli terhadap alam.
“Menurut saya, kampung ini sangat cocok dijadikan teladan bagi kampung-kampung lain di Indonesia untuk menjadi lebih bersih dan lebih peka terhadap alam,” ujar Gabriel.
Ia juga tertarik dengan inovasi pemanfaatan air dari kolam ikan lele untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
“Yang paling menarik adalah tong isi lele yang juga dibuat menjadi tempat pertumbuhan sayur. Air lelenya juga dipakai untuk menyiram sayuran. Menurut saya kreatif,” katanya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSementara itu, guru Mawar Sharon Christian School, David Lesmana, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai proses pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat.
“Kami di sini menemani anak-anak untuk berkunjung dan melihat proses pengolahan sampah di ECOTON. Melihat pengolahan sampah yang sudah dilakukan di sini sudah sangat baik,” kata David.

Menurutnya, keberadaan program pengelolaan sampah di Kampung MOZAIK menunjukkan bahwa persoalan sampah di kawasan sungai dapat dikendalikan melalui keterlibatan masyarakat.
Para siswa tidak hanya melihat proses pengolahan sampah, tetapi juga belajar pemilahan dan pengomposan. Bahkan, mereka diajak langsung membuat kompos dari sisa makanan.
“Mereka diajak langsung praktik untuk membuat kompos, pupuk cair dan pupuk padat dari sisa-sisa makanan atau sampah,” ujarnya.
David berharap pengalaman tersebut dapat meningkatkan kesadaran siswa untuk ikut terlibat dalam pemilahan dan pengolahan sampah di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Harapannya ketika anak-anak sudah datang ke sini, melihat situasi lingkungan dan pengendalian sampah, mereka bisa lebih menyadari bahwa mereka juga harus ikut andil dalam pemilahan dan pengolahan sampah di sekitar mereka,” katanya.
Menurut David, pembelajaran di Kampung MOZAIK juga dapat dikembangkan menjadi proyek penelitian siswa. Beberapa siswa diharapkan dapat melanjutkan kajian mengenai metode pengolahan sampah dan mengembangkan inovasi yang lebih efektif dan luas.
“Harapannya ada beberapa kelompok yang akan melanjutkan penelitiannya dalam hal pengolahan sampah, sehingga mereka bisa mengembangkan metode yang lebih masif, lebih besar dan lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah tidak semata-mata bertujuan mengurangi timbulan sampah. Sampah organik juga dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, seperti pupuk cair maupun pupuk padat untuk tanaman dan meningkatkan kesuburan tanah.
“Tidak hanya mengolah sampah, tetapi membuat sampah ini menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Misalnya melalui pengomposan, ternyata komposnya bisa dibuat pupuk cair atau pupuk padat untuk tanaman dan kesuburan tanah,” ujarnya.
Kunjungan ditutup dengan sesi santai, tanya jawab, praktik mengompos sederhana, serta foto bersama dan wawancara testimoni. Melalui pembelajaran langsung tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami persoalan sampah secara teori, tetapi juga memiliki pengalaman dalam mencari solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.***