- Mikroplastik ditemukan menempel pada daun jati, mangga, dan sejumlah tanaman semak di bantaran Kali Surabaya. Temuan siswa ini membuka pertanyaan tentang perjalanan partikel plastik dari lingkungan menuju manusia.
- Lima fragmen hitam ditemukan pada daun jati, sementara fragmen biru terdeteksi pada daun mangga. Eksplorasi siswa di Kali Surabaya mengungkap jejak mikroplastik yang tak kasatmata.
- Daun vegetasi riparian ternyata dapat menjadi tempat menempelnya mikroplastik. Temuan sederhana siswa di Kali Surabaya menunjukkan karakter permukaan daun memengaruhi kemampuan menangkap partikel dari lingkungan.
- Mikroplastik bukan hanya ditemukan di air dan sedimen. Eksplorasi siswa di bantaran Kali Surabaya menemukan partikel pada permukaan daun dan membuka dugaan perjalanan plastik melalui atmosfer.
- Temuan mikroplastik pada daun di bantaran Kali Surabaya belum menunjukkan sumber maupun dampaknya. Namun, partikel itu memunculkan pertanyaan: apakah yang menempel pada daun juga dapat terhirup manusia?
MIKROPLASTIK ditemukan pada permukaan sejumlah daun vegetasi riparian di bantaran Kali Surabaya. Temuan dari eksplorasi siswa ini, saat berlangsung di acara Surabaya River Festival 2026 di Taman Bantaran Ecoton pada Rabu, 23 September 2026.
Peneliti Ecoton yang juga pendamping siswa, Arief Maulana Sabilillah, mengatakan dirinya membimbing Kelompok 5 yang mendapat tugas mengamati mikroplastik pada daun.
Kelima siswa ini, kata Arief, terdiri atas Zifana Aulia R., Quinnsha C.A.Y., Leny Adelina S., dan Zhaky Fharel. Mereka berasal dari sekolah di Wringinanom, Gresik, dan Tarik, Sidoarjo. Para siswa mengamati keberadaan mikroplastik pada beberapa jenis vegetasi menggunakan mikroskop portabel.
“Dalam eksplorasi itu, siswa mengambil sampel daun dari beberapa jenis tanaman di Kali Surabaya,” ujar Arief, Selasa (6/10/2026).
Arief, yang merupakan lulusan Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini, mengatakan pengamatan yang ia lakukan bersama siswa ini, mewakili tiga habitus tanaman, yakni pohon, semak, dan rumput.
“Jenis pohon yang diamati adalah Mangifera indica (mangga) dan Tectona grandis (jati). Sementara kelompok semak terdiri atas Erythrina lysistemon dan Malvaviscus penduliflorus, sedangkan kelompok rumput menggunakan Cyperus rotundus,” terang Arief.
Dari setiap spesies, kelompok mengambil satu daun yang bersih dan satu daun yang berdebu. Sampel kemudian digunakan untuk membandingkan keberadaan partikel, pada kondisi permukaan daun yang berbeda.
Dari hasil pengamatan yang menggunakan mikroskop portable ini. Para siswa menemukan lima partikel fragmen berwarna hitam pada permukaan atas daun jati. Satu fragmen berwarna biru ditemukan pada permukaan bawah daun mangga. Masing-masing satu fragmen ditemukan pada daun dari kelompok tanaman semak.
Pengamatan ini, kata Arief, juga menunjukkan adanya perbedaan kemampuan permukaan daun dalam menangkap partikel. Daun jati dan Malvaviscus yang memiliki permukaan lebih kasar serta banyak trikoma. Terlihat lebih mudah menahan partikel dibandingkan daun mangga dan Erythrina yang relatif lebih halus.
“Pada daun Cyperus rotundus, kelompok tidak menemukan mikroplastik. Kondisi ini, kami duga berkaitan dengan luas permukaan daunnya. Relatif sempit serta lokasi tumbuh yang berada di bawah naungan pohon,” jelas Arief.
Meski menemukan sejumlah partikel, eksplorasi belum dapat digunakan untuk menyimpulkan sumber maupun dampak mikroplastik terhadap tanaman.
Arief mengatakan eksplorasi yang dilakukan bersama para siswa, memang berlangsung sederhana. Tujuannya, sekadar memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai pencemaran mikroplastik.
“Zhaki, misalnya, punya pendapat bahwa mikroplastik merupakan hal baru bagi dirinya. Kata Zhaki, mikroplastik mungkin tidak berdampak buruk bagi daun karena hanya menempel di permukaan dan bersifat sementara,” ucap Arief.
Saat berdiskusi, lanjut Arief, anggota kelompok juga melihat kemungkinan peran vegetasi riparian dalam menahan partikel. Siswa mengamati berasal dari udara maupun air hujan, sebelum masuk ke badan sungai.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDugaan mengenai sumber mikroplastik dari aktivitas, tentu saja masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
“Tapi karakter fisik partikel yang ditemukan membuat kelompok ini, mencurigai aktivitas pembakaran sampah sebagai salah satu kemungkinan sumber. Tetapi temuan tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat,” ujar Arief.

Mikroplastik dan permukaan daun
Permukaan daun atau phyllosphere merupakan habitat bagi berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, fungi, alga, virus, dan organisme mikroskopis lainnya. Permukaan tersebut juga menjadi salah satu bagian tanaman yang berinteraksi langsung dengan atmosfer.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat terdeposit pada permukaan daun. Karakteristik permukaan daun, termasuk lapisan kutikula dan trikoma, dapat memengaruhi kemampuan partikel untuk menempel.
Penelitian mengenai mikroplastik pada tanaman juga menemukan kemungkinan terjadinya akumulasi partikel pada jaringan tanaman. Namun, mekanisme penyerapan dan dampaknya terhadap fisiologi tanaman masih menjadi bagian dari penelitian ilmiah.
Mikroplastik yang berada di permukaan daun juga dapat berinteraksi dengan komunitas mikroorganisme yang hidup di phyllosphere. Keberadaan partikel tersebut berpotensi mengubah kondisi mikrohabitat pada permukaan daun.
Selain itu, mikroplastik dapat membawa atau mengikat sejumlah polutan lain, termasuk logam berat dan senyawa organik tertentu. Karena daun merupakan bagian penting dalam ekosistem dan menjadi sumber makanan bagi sejumlah organisme, keberadaan partikel tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diteliti lebih lanjut.

Eksplorasi siswa, bukan kesimpulan akhir
Arief menekankan, hasil pengamatan kelompok yang dibimbingnya, tidak dapat disamakan dengan penelitian laboratorium berskala penuh.
“Pengamatan ini hanyalah eksperimen sederhana. Tujuannya sebagai bentuk edukasi agar siswa-siswi SMA mampu memahami isu pencemaran mikroplastik di lingkungan,” ujarnya.
Menurut Arief, yang juga memiliki perhatian pada isu pencemaran antropogenik, khususnya plastic debris, mikroplastik, dan senyawa kimia aditif ini, penelitian yang lebih sistematis diperlukan untuk mengetahui jumlah, jenis polimer, sumber, mekanisme penempelan, serta kemungkinan dampak mikroplastik terhadap vegetasi.
Temuan di bantaran Kali Surabaya ini, setidaknya menjadi petunjuk bahwa persoalan mikroplastik tidak hanya dapat diamati di air dan sedimen. Permukaan vegetasi yang berada di sekitar sungai, juga dapat menjadi tempat ditemukannya partikel plastik berukuran kecil.
“Karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bagaimana mikroplastik berpindah dari atmosfer ke permukaan daun, bagaimana karakter permukaan tanaman memengaruhi penempelannya, serta apakah partikel tersebut dapat masuk ke jaringan tanaman atau rantai makanan,” tandas Arief.***