Lewati ke konten

Limbah Industri Tekan Daya Pulih Alami Kali Surabaya dan Ancam Air Baku Warga

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 16 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Penelitian di lokasi menemukan limbah industri terus membebani kualitas air Kali Surabaya setiap hari.
  • Warna dan volume limbah berubah antara pagi hingga sore berdasarkan pengamatan lapangan mahasiswa.
  • Industri kertas dan penyedap menyumbang beban organik berbeda dengan karakter limbah berlainan.
  • Daya pulih alami sungai semakin melemah akibat pencemaran berlangsung tanpa jeda setiap hari.
  • Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sumber air baku masyarakat Surabaya dan Gresik.

 

 

Penulis: Sayidina Allisyiah Khanza merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 6 Juli – 14 Agustus 2026.

 

#Datang Langsung dan Menyaksikan Kondisi Sungai

Setiap hari Kali Surabaya mengalir melewati kawasan industri Wringinanom dan Driyorejo, Gresik. Sungai ini menopang kebutuhan air jutaan masyarakat di wilayah hilir. Namun, aliran sungai itu juga membawa beban limbah dari berbagai kegiatan industri.

Saya baru pertama mendatangi kawasan sungai itu. Sebelumnya saya hanya mengenal lokasi itu melalui penelitian yang saya baca. Kenyataan di lokasi ternyata jauh berbeda dari bayangan sebelumnya.

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, saya mengikuti penelitian kualitas air. Penelitian dilakukan bersama enam teman pada lokasi industri sepanjang Kali Surabaya. Pengambilan data berlangsung pukul 08.30 WIB dan pukul 14.30 WIB, Jumat, 10 Juli 2026.

Selama ini saya menganggap produk kertas hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Saya juga melihat penyedap rasa sebatas pelengkap berbagai masakan rumah tangga. Setelah turun langsung, pandangan tersebut mulai berubah secara perlahan.

Di balik proses produksi itu terdapat limbah cair dalam jumlah besar. Industri kertas menghasilkan padatan tersuspensi serta senyawa organik cukup tinggi. Limbah tersebut berasal dari proses pulping dan pemutihan bahan baku.

Industri penyedap rasa memiliki karakter limbah berbeda dibandingkan industri kertas. Proses fermentasi menghasilkan beban BOD dan COD dalam konsentrasi tinggi. Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap kualitas air sungai.

Lokasi pertama berada pada efluen PT Adiprima Suraprinta. Warna air limbah tampak cokelat dibandingkan bagian hulu maupun hilir sungai keluar dari pipa elbow, yang saya perkirakan 5 – 6 dim. Pada sore hari, warna limbah terlihat semakin pekat dibandingkan pengamatan pagi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pengamatan berikutnya dilakukan pada PT Dayasa Aria Prima. Volume limbah pagi hari terlihat cukup besar keluar melalui pipa pembuangan. Menurut perkiraan , sekitar 60 persen air limbah keluar dari penampang pipa memasuki badan sungai.

Sore harinya volume limbah terlihat lebih kecil dibandingkan pagi sebelumnya. Warga bahkan memanfaatkan lokasi sekitar sebagai tempat memancing ikan. Perubahan kondisi tersebut terlihat jelas selama proses pengamatan lapangan.

#Sungai Kehilangan Kesempatan Pulihkan Diri

Pengamatan berikutnya saya lakukan pada PT Daesang Miwon. Pabrik MI-Won itu bergerak dalam industri bahan penyedap rasa berskala besar. Warna air terlihat lebih pekat dibandingkan lokasi industri kertas sebelumnya.

Bau menyengat juga tercium cukup kuat di sekitar saluran pembuangan limbah. Karakter itu berbeda dibandingkan lokasi pengamatan industri sebelumnya. Perbedaan itu menunjukkan karakter limbah setiap industri tidak selalu sama.

Dari berbagai referensi, sungai sebenarnya mempunyai mekanisme alami bernama self-purification. Mekanisme itu bekerja melalui pengenceran, aerasi, serta aktivitas mikroorganisme alami. Proses itu membantu mengurangi pencemar organik dalam batas tertentu.

Kemampuan tersebut bukan berarti berlangsung tanpa batas sepanjang waktu. Beban limbah berlebihan membuat proses pemulihan berjalan semakin lambat. Sungai kehilangan kesempatan memulihkan kualitas air secara alami.

Akibatnya penurunan kualitas air berlangsung terus menerus secara kumulatif setiap hari. Dampaknya tidak berhenti sebagai angka dalam hasil laboratorium semata. Air baku masyarakat Surabaya dan Gresik ikut menghadapi risiko pencemaran.

Temuan lapangan memperlihatkan perlunya pengawasan industri dilakukan secara lebih ketat. Penegakan baku mutu limbah sesuai PP Nomor 22 Tahun 2021 harus konsisten. Sanksi terhadap pelanggaran juga perlu diterapkan secara tegas.

Masyarakat berhak mengetahui kualitas air yang mereka gunakan setiap hari. Transparansi menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Menyelamatkan Kali Surabaya merupakan tanggung jawab seluruh pihak bersama.***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *