Lewati ke konten

Studi Tiru Pengelolaan Sampah, Pemdes Balongbendo Sidoarjo Sambangi ECOTON

| 4 menit baca |Reportase | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
  • Pemdes Balongbendo belajar pengelolaan sampah ke ECOTON. Perangkat desa bersama BPD, LPM, RT, RW, dan KSM mengikuti edukasi pemilahan sampah dari sumber.
  • Pemilahan sampah dimulai dari rumah. ECOTON menekankan bahwa persoalan sampah tidak hanya soal volume, tetapi juga rendahnya kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.
  • Dorong penerapan prinsip zero waste. Masyarakat didorong mengurangi barang sekali pakai, menggunakan kembali barang, melakukan perbaikan, serta memanfaatkan kembali material yang masih bernilai.
  • Sampah dipilah menjadi tiga kategori. Sampah organik diolah, sampah anorganik yang bernilai ekonomi disalurkan ke bank sampah atau pengepul, sedangkan residu menjadi sampah yang dibawa ke TPA.
  • Balongbendo siapkan perluasan program ke 4 RW dan 13 RT. Kepala Desa Sumanto menyatakan pemilahan masih dalam tahap persiapan. Pemdes berencana mengajak RT dan RW untuk melihat langsung proses pengelolaan sebelum program diperluas kepada masyarakat. 

PEMERINTAH Desa (Pemdes) Balongbendo, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, mengambil langkah serius dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah di wilayahnya. Sejumlah perangkat desa mulai dari unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), pengurus RT, RW, serta kelompok swadaya masyarakat (KSM) mendatangi Yayasan ECOTON dalam agenda bertajuk “Studi Tiru Pengelolaan Sampah”, Jumat (30/10/2026).

Kegiatan edukasi ini menghadirkan pegiat lingkungan ECOTON, Sofi Azilan Aini, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Sofi menyoroti bahwa akar persoalan sampah di tengah masyarakat tidak hanya terletak pada tingginya volume sampah, melainkan pada minimnya kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga.

Menurutnya, sistem pengelolaan sampah konvensional yang selama ini mengandalkan pola “kumpul, angkut, dan buang” membuat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kian kewalahan menampung beban sampah yang terus bertambah. Oleh karena itu, pemilahan dari sumber menjadi kunci utama untuk menekan volume sampah.

BACA JUGA:  Edukasi Mikroplastik sejak Dini, Greenpeace Rilis Buku Anak "Miko Si Monster Plastik"

“Yang dibuang itu tidak semuanya. Yang dibuang itu hanya residu,” tegas Sofi di hadapan para perangkat Desa Balongbendo.

Perangkat Desa Balongbendo, Sidoarjo, mengikuti kegiatan edukasi pengelolaan sampah dan study tiru di ECOTON. | Foto: Supriyadi

Terapkan Prinsip Zero Waste dan Pengelolaan Berkelanjutan

Dalam pemaparannya, ECOTON memperkenalkan konsep zero waste sebagai gaya hidup yang berorientasi pada pelestarian sumber daya melalui pengurangan barang sekali pakai, penggunaan kembali (reuse), perbaikan, dan pemanfaatan ulang. Masyarakat diajak mengubah pola konsumsi agar tidak menyumbang sampah berlebih.

Sofi menjelaskan bahwa dalam penerapan sistem zero waste, sampah wajib dipilah menjadi tiga kategori utama dengan penanganan yang berbeda:

  1. Sampah Organik: Dapat diolah secara mandiri, salah satunya melalui metode komposting.
  2. Sampah Anorganik: Material yang masih memiliki nilai ekonomi dan dapat didaur ulang (seperti kaleng atau botol plastik), yang dapat disalurkan melalui bank sampah atau pengepul.
  3. Residu: Sampah yang benar-benar sudah tidak memiliki nilai guna maupun nilai ekonomis, sehingga menjadi satu-satunya bagian yang harus dibawa ke TPA.

Pola ini dinilai jauh lebih ideal dibandingkan metode konvensional, karena mampu memastikan sampah bernilai ekonomis tidak terbuang sia-sia dan sampah organik tertangani di tingkat lokal.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Perangkat Desa Balongbendo, Sidoarjo, menyimak paparan edukasi pemilahan dan pengelolaan sampah yang disampaikan pegiat lingkungan ECOTON dalam kegiatan Study Tiru Pengelolaan Sampah di ECOTON. | Foto: Supriyadi

Pemdes Balongbendo Siapkan Perluasan Program

Kepala Desa Balongbendo, Sumanto, mengungkapkan bahwa penerapan pemilahan sampah di desanya saat ini masih berada dalam tahap persiapan dan pematangan konsep. Pihaknya berencana melibatkan para pengurus RT dan RW untuk meninjau dan mempelajari langsung proses pengelolaan sampah sebelum program ini digulirkan secara masif kepada warga.

“Belum, itu kan baru rencananya kita ajak RT, RW ke sini, biar tahu nanti apakah lanjut atau tidak,” ujar Sumanto.

BACA JUGA:  Sampah Sachet Banjiri Bendungan Sutami,ECOTON dan Komunitas Brantas Mbois Desak Pemerintah Pulihkan Sungai

Ia menambahkan, praktik pemilahan sampah sebenarnya telah mulai dicoba secara mandiri di beberapa tingkat rumah tangga. Namun, Pemdes Balongbendo bertekad memperluas cakupannya agar gerakan ini menjadi budaya bersama. Dengan dukungan struktur wilayah yang mencakup 4 Rukun Warga (RW) dan 13 Rukun Tetangga (RT), desa ini memiliki modal sosial yang kuat untuk menggerakkan partisipasi warga.

Melalui kunjungan ke ECOTON, Pemdes Balongbendo berharap mendapatkan landasan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur. Selanjutnya, hasil edukasi ini akan dikonsolidasikan bersama RT, RW, BPD, LPM, dan KSM setempat. Langkah strategis ini diharapkan mampu membawa Desa Balongbendo mewujudkan tata kelola sampah berbasis masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *