KALAU di hulu sungai sudah penuh kopi sachet, di hilirnya jangan kaget kalau ikan pun rasanya tiga-in-one. Bendungan Sutami di Malang kini bukan lagi tandon air, tapi tandon plastik yang disponsori industri rumah tangga.
Tim Ecoton Foundation dan Brantas Mbois menemukan ribuan sachet mengapung di perairan bendungan. Dari merek sabun sampai kopi instan, semua numpang berenang. Para produsen tenang di kantor ber-AC, sementara plastiknya piknik di sungai.
#Sachet, Polusi yang Tak Pernah Lelah
Ribuan bungkus plastik sekali pakai jenis sachet menumpuk di Bendungan Sutami. Di antara pemandangan hijau perbukitan dan air yang mestinya jernih, justru terlihat kilauan warna kemasan deterjen, sampo, kopi, dan bumbu instan. Sebuah paduan warna yang ironis: cerah di mata, suram bagi ekosistem.
“Bendungan Sutami ini adalah titik penting yang menampung air untuk jutaan warga Jawa Timur. Tapi sekarang justru dipenuhi sampah plastik sekali pakai yang sulit terurai,” ujar Alaika Rahmatullah, Koordinator Brand Audit Ecoton Foundation dalam keterangan persnya, Senin (10/11/2025)
Ia menyebut plastik sachet sebagai “hantu kecil yang selalu kembali”. Karena sulit dikumpulkan dan pada akhirnya berubah jadi mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia lewat air dan ikan.
Menurut Ecoton, kondisi ini menunjukkan betapa krisis plastik bukan hanya urusan kota besar, tapi juga hulu sungai. Air membawa sisa aktivitas rumah tangga dan UMKM dari Batu dan Malang menuju bendungan. Di sinilah, semua kebiasaan buang sampah sembarangan bertemu dalam satu wadah besar, yaitu Bendungan Sutami.

#Audit di Bendungan, Buka-bukaan Merek
Komunitas Brantas Mbois bersama Ecoton melakukan Brand Audit untuk mengetahui siapa saja penyumbang plastik paling rajin di bendungan ini. Hasilnya bikin dahi berkerut, dan mungkin juga perut, kalau Anda kebetulan penggemar kopi sachet atau mi instan.
Dari 13 perusahaan yang teridentifikasi, dua nama besar menempati posisi puncak: Wings (25,4%) dan Unilever (22,2%). Di bawahnya berturut-turut OT Group (7,9%), Mayora (7,9%), Torabika (7,9%), Ajinomoto (6,3%), Sasa (6,3%), Garuda Food (4,8%), Nutrifood (4,8%), Mondelez (3,2%), Wilmar (3,2%), Sinar Mas Agro (1,6%), dan PT. Jico Agung (1,6%).
Kalau data ini diubah jadi iklan, mungkin slogannya berbunyi: “Dari masyarakat, untuk bendungan — didukung oleh 13 produsen terkemuka.” Tapi tentu, tak ada yang mau pasang logo di tumpukan sampah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Temuan ini mencerminkan kegagalan sistem pengelolaan sampah dan lemahnya tanggung jawab produsen,” ujar Dialan Blak, Juru Kampanye Brantas Mbois. Ia menegaskan, produsen seharusnya ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang sulit terurai, sesuai amanat UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

#Ekosistem yang Kian Pucat
Bagi warga sekitar, Bendungan Sutami dulunya tempat mencari ikan dan rekreasi murah meriah. Sekarang, airnya berwarna kusam dan penuh sampah yang mengambang seperti parade kecil plastik. Ironisnya, di balik pemandangan ini tersembunyi ancaman besar: mikroplastik yang masuk ke rantai makanan.
Alaika menjelaskan, partikel plastik ukuran mikron kini ditemukan dalam plankton, ikan, bahkan air minum. “Sachet itu bukan sekadar sampah visual. Ia adalah bom waktu lingkungan,” katanya.
Dalam jangka panjang, keberadaan mikroplastik dapat memengaruhi kualitas air baku yang digunakan PDAM dan berpotensi mengancam kesehatan masyarakat. Tapi, sejauh ini, reaksi pemerintah masih sebatas “akan dikaji lebih lanjut”—sebuah frasa favorit dalam kamus birokrasi.
#Desakan dari Hulu hingga Istana
Atas temuan itu, Ecoton dan Brantas Mbois mengajukan empat desakan keras. Pertama, Pemerintah Daerah Malang, BBWS Brantas, dan PJT I harus segera membersihkan serta memulihkan ekosistem Bendungan Sutami. Kedua, KLHK diminta menegakkan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) agar perusahaan tidak bisa pura-pura lupa terhadap sampahnya sendiri.
Ketiga, Wings dan Unilever diminta menarik kembali kemasan sekali pakai mereka dari pasar dan menggantinya dengan sistem guna ulang yang lebih bertanggung jawab. Dan terakhir, pemerintah daerah diharapkan memperkuat pengelolaan sampah dari kawasan hulu dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai.
Karena pada akhirnya, yang disebut “pembangunan berkelanjutan” tak akan ada artinya jika air sungai masih mengalir bersama sachet sabun dan kopi instan. Dan kalau Bendungan Sutami terus menampung plastik lebih banyak daripada air, mungkin suatu hari nanti papan namanya perlu diganti:
“Selamat Datang di Bendungan Sachetami.”
Berikut desakan tersebut, agar bisa terbaca pemerintah:
- Pemerintah Daerah Malang, BBWS Brantas dan PJT segera melakukan pembersihan dan pemulihan ekosistem Bendungan Sutami.
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegakkan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) bagi perusahaan yang ditemukan dalam audit.
- Produsen besar seperti Wings dan Unilever untuk segera menarik kembali kemasan sekali pakai mereka dari pasar dan menyediakan sistem guna ulang yang bertanggung jawab.
- Pemerintah daerah harus memperkuat pengelolaan sampah dari kawasan hulu, dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai.