Lewati ke konten

Luka Kali Surabaya dari Good Morning Tomorrow dan Realita Ikan Munggut

| 7 menit baca |Kolom | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Fio Atmadja
  • Menonton film Good Morning Tomorrow membuka mata kita pada luka Kali Surabaya. Di balik layar kaca dan fenomena ikan munggut, saatnya menagih transparansi data lingkungan secara terbuka.
  • Mengapa ikan munggut muncul beruntun pascainsiden pabrik di Gresik? Film Good Morning Tomorrow dan realita lapangan menampar kita untuk berhenti mengelola sungai dengan pola pemadam kebakaran.
  • Saat Gen Z mulai gelisah lewat sinema Good Morning Tomorrow, kenyataan pahit di Kali Surabaya menuntut jawaban. Sudah waktunya membuka data pemulihan lingkungan tanpa retorika semu.
  • Dari layar bioskop pinggir sungai hingga fenomena ikan mabuk di Rolak Gunungsari, opinians ini membedah luka tersembunyi Kali Surabaya dan pentingnya transparansi data untuk publik.
  • Sungai bukan sekadar tempat kejadian perkara pascabencana. Melalui cermin film Good Morning Tomorrow, mari kita pastikan kondisi Kali Surabaya lewat data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penulis: Supriyadi, jurnalis Titikterang.co.id

PEKAN ini, film Good Morning Tomorrow resmi diputar ke publik. Sinema dokumenter-edukatif garapan Perum Jasa Tirta (PJT) I bersama lembaga kajian lingkungan ECOTON ini. Tentu bukan drama romansa biasa. Tapi sebuah karya yang membawa pesan krusial tentang nasib Kali Surabaya.

Saya berkesempatan menontonnya dua kali. Pertama, saat pemutaran perdana di pinggir Kali Surabaya, kawasan Wringinanom, Gresik, bersama para pelajar SMP dan SMA seputaran Wringinanom dan Tarik, Sidoarjo pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kedua, menonton kembali bersama khalayak umum di Institut français d’Indonésie (IFI) Surabaya pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Mengapa saya sampai menontonnya berulang kali?

Selain ingin menikmati sinematografi film berdurasi 57 menit. Karya rumah produksi Motion Witness Yogyakarta, yang digarap paruh Agustus 2026 ini. Saya penasaran melihat peran Jofanny Ahmad Arianto. Jofanny, mahasiswa Universitas Sunan Gresik yang aktif di ECOTON, sebagai pemeran utama mendampingi Ellana Go, siswi kelas 3 SMA asal Surabaya.

Namun lebih dari itu, saya ingin menyaksikan langsung, sejauhmana respons generasi muda, yang kita kenal Gen Z, yang memang menjadi sasaran utama film ini. Setelah meresapi alur ceritanya. Sekaligus melihat bagaimana pandangan mereka, tehadap kondisi Kali Surabaya, yang menjadi latar utama pembuatan film tersebut.

Jujur saja, ada realita menarik sekaligus menggelitik yang saya amati. Setelah melakukan wawancara seusai penayangan. Secara umum, anak muda seolah belum melihat dinamika Kali Surabaya secara mendalam. Usai menonton, seolah ada kesan datar saja: ya sudah.

BACA JUGA:  Transformasi Pemuda: Tak Lagi Relawan, Kini Awasi Sungai

Impresi berharga justru muncul saat diskusi berlangsung di pemutaran perdana bantaran Kali Surabaya. Di hadapan para narasumber, Pendiri ECOTON Prigi Arisandi, Agung Wicaksono dan Yanto dari PJT I, serta Jofanny sendiri.

Saat itu, saya merasakan ada daya kritis yang segar. Tiga siswi, yaitu Quinnsha Cavalry A.Y (SMAN 1 Tarik), Jessica Zahratul (SMKN 1 Driyorejo), dan Jessicha Putri F (SMAN 1 Tarik), dengan penuh impresi, begitu berani melayangkan pertanyaan tajam tentang keberanian pihak industri yang terus-menerus membuang limbah ke aliran Kali Surabaya.

Satu hal yang sangat disayangkan dari rangkaian pemutaran ini: dalam dua kali pemutaran film tersebut, Ellana tidak pernah hadir. Catatan kritis ini turut disinggung, Jessica Zahratul Jannah, siswi kelas IX SMK Negeri 1 Driyorejo, Gresik dalam artikelnya.

Padahal, sebenarnya penonton dan sesama generasi muda sangat ingin mendengar langsung sejauh mana Ellana memandang Kali Surabaya. Ingin membandingkan pergulatan batinnya, saat berakting di dalam film dengan perspektif riilnya di ruang diskusi.

“Aku Ellana… Sebagai seseorang yang tumbuh besar di kota, aku dulu tidak pernah benar-benar memikirkan dari mana air yang kita gunakan berasal… Semuanya terasa begitu sederhana, cukup membuka keran, lalu air mengalir.”

Keresahan di Layar Kaca

Sebagai penonton awam yang menyimak film ini hingga dua kali, perhatian saya selalu tertambat pada peran Ellana Go. Gambaran kehidupannya di apartemen mewah mencerminkan potret khas anak muda era gawai: terkungkung di tengah derasnya arus informasi. Limpahan informasi itu, ternyata tidak membuat Ellana lepas dari keterasingan. Terutama soal dari mana air bersih yang digunakannya sehari-hari berasal.

“Aku Ellana… Sebagai seseorang yang tumbuh besar di kota, aku dulu tidak pernah benar-benar memikirkan dari mana air yang kita gunakan berasal… Semuanya terasa begitu sederhana, cukup membuka keran, lalu air mengalir,” tutur Ellana dalam salah satu adegan.

Menariknya, sudut pandang Ellana runtuh begitu ia berdiri di atas aliran sungai dan menyaksikan buih-buih hanyut. Sungai yang selama ini ia tahu sekadar mengalir di tengah kota, ternyata menyimpan luka yang teramat dalam.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Luka itu makin terasa nyata tatkala menyimak paparan teknis Alfa Aritma Novianti dari PDAM Surya Sembada Surabaya dalam sesi wawancara bersama Jofan. Aritma mengungkapkan bahwa PDAM harus memproduksi lebih dari 12.000 liter air bersih per detik untuk melayani sekitar 640.000 pelanggan dengan standar air minum. Namun, beban operasional menjadi sangat berat ketika kualitas air baku memburuk.

BACA JUGA:  Wayahe Besuk Kali Brantas: Saatnya Menyembuhkan Sungai yang Sakit

Pada kondisi ekstrem, tingkat kekeruhan air yang idealnya dibatasi maksimal 6 NTU sebelum masuk filter kerap terlampaui, sehingga memaksa instalasi melakukan backwash berkali-kali. Peningkatan beban pengolahan air ini adalah sinyal telanjang bahwa sungai kita sedang tidak baik-baik saja.

Luka itu makin terasa nyata tatkala menyimak paparan teknis Alfa Aritma Novianti dari PDAM Surya Sembada Surabaya dalam sesi wawancara bersama Jofan. Aritma mengungkapkan bahwa PDAM harus memproduksi lebih dari 12.000 liter air bersih per detik untuk melayani sekitar 640.000 pelanggan dengan standar air minum. Namun, beban operasional menjadi sangat berat ketika kualitas air baku memburuk.

Antara Sinema dan Realita Sungai

Momen pemutaran film Good Morning Tomorrow bertaut erat dengan kenyataan pahit di Kali Surabaya. Memori publik warga Surabaya dan sekitarnya belum sepenuhnya pulih dari fenomena ikan munggut (ikan mabuk/mengapung) di Rolak Gunungsari, serta insiden serupa di Dam Jagir Wonokromo sebelumnya.

Sayangnya, fenomena ini tidak tersentuh sebagai materi diskusi, saat penayangan film. Padahal, keriuhan warga yang berbondong-bondong membawa serok dan jaring untuk memanen “rezeki tak terduga” itu menyimpan pertanyaan menggelitik: mengapa fenomena ikan munggut bisa terjadi secara beruntun dalam rentang waktu yang berdekatan pasca-insiden kebakaran di area PT Wings Surya kawasan Driyorejo, Gresik?

Melayangnya spesies endemik seperti bader dan keting adalah indikator ekologis yang tidak boleh diabaikan. Secara kausalitas, fenomena ini memang tidak boleh langsung dicap sebagai akibat pencemaran instan tanpa pembuktian laboratorium. Sebagaimana penekanan kritis dari ECOTON, pengujian ilmiah berbasis sampel air di titik kejadian (point of incident) adalah syarat mutlak sebelum ditarik kesimpulan final.

Namun, akar masalah tata kelola air kita sebenarnya terletak pada kebiasaan merespons bencana dengan pendekatan “pemadam kebakaran”, baru gaduh ketika ikan mengapung massal atau ketika air berubah warna dan berbau menyengat.

Lemahnya sistem pengawasan berkala dan real-time (real-time monitoring) membuat publik terus berada dalam posisi “buta” terhadap akumulasi beban pencemaran harian yang masuk ke badan air.

Tanpa transparansi data teknis, klaim “kondisi telah aman” hanyalah penenang semu.

BACA JUGA:  WALHI Jatim: Kebakaran TPA Benowo Bukti Gagalnya Pengelolaan Sampah, Desak Evaluasi PLTSa dan Open Dumping

Demikian pula halnya dengan tindakan pelepasan benih ikan (restocking) pasca-kejadian. Langkah tersebut hanya bernilai positif, jika didasari sains pemulihan (restoration science) semata. Tanpa adanya kejelasan mengenai kesesuaian keanekaragaman hayati endemik dan daya dukung kualitas air terkini, agenda semacam itu berisiko terjebak menjadi sekadar gestur simbolis.

Menagih Transparansi Data dan Komitmen Hukum

Kerentanan tata kelola ini kian tak terlihat. Tuntutan keterbukaan data lingkungan yang dilayangkan koalisi masyarakat sipil Posko Ijo menandai titik krusial baru: klaim pemulihan lingkungan tidak boleh lagi bertumpu pada retorika dan asumsi sepihak. Indikator pemulihan ekosistem yang sahih membutuhkan parameter terukur, antara lain:

  • Pengujian Air Pemadaman (Firewater): Sejauh mana limpasan air bekas pemadaman dikelola agar tidak mencemari badan air publik?
  • Analisis Residu Kimia: Apa saja kandungan senyawa berbahaya yang berpotensi terlepas ke lingkungan?
  • Independensi Sampling: Keterlibatan pihak independen dalam penentuan titik pengambilan sampel air dan sedimen.
  • Keterbukaan Metodologi: Transparansi pengujian laboratorium yang dapat diuji silang (cross-examine) oleh publik dan akademisi.

Tanpa transparansi data teknis, klaim “kondisi telah aman” hanyalah penenang semu. Demikian pula halnya dengan tindakan pelepasan benih ikan (restocking) pasca-kejadian. Langkah tersebut hanya bernilai positif, jika didasari sains pemulihan (restoration science) semata. Tanpa adanya kejelasan mengenai kesesuaian keanekaragaman hayati endemik dan daya dukung kualitas air terkini, agenda semacam itu berisiko terjebak menjadi sekadar gestur simbolis.

Mengingat Kali Surabaya memiliki rekam jejak hukum, termasuk acuan Putusan Mahkamah Agung Nomor 821 PK/Pdt/2025. Instrumen legalitas ini tidak boleh berhenti sebagai file berkas di arsip. Legitimasi hukum ini, wajib mewujud menjadi pengawasan sungai yang ketat, audit lingkungan independen, serta tindakan korektif-preventif yang pasti.

Sudah saatnya kita memutus pola lama yang memperlakukan sungai sebatas “tempat kejadian perkara” (TKP) pascabencana. Sungai tidak berkomunikasi lewat konferensi pers atau surat tanggapan formal, melainkan lewat daya dukung ekosistem dan kesehatan masyarakat yang menggantungkan hidup padanya.

Melalui cermin film Good Morning Tomorrow dan tamparan fenomena ikan munggut, kita diingatkan kembali: kita tidak boleh lagi merasa tahu kondisi sungai kita. Tetapi, perlu saya tekankan di sini, kita wajib memastikan bahwa kita benar-benar tahu berdasarkan data secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Dan itu berlaku bagi siapapun pelaku pencemaran Kali Surabaya. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *