DI TENGAH hiruk-pikuk kehidupan kota, sampah plastik masih jadi tamu tak diundang yang meracuni sungai, ikan, dan tubuh kita sendiri. Aeshnina Azzahara Aqilani, Duta Anti Sampah Plastik kelahiran Sidoarjo, menatap masalah ini bukan sekadar lewat berita, tapi dengan pengalaman nyata, mulai dari surat ke presiden hingga mengamati gunungan plastik impor di desa-desa kecil.
Dia bicara soal ketidaktegasan pemerintah, dampak mikroplastik pada generasi muda, dan perjuangan melawan budaya sekali pakai.
Masalahnya bukan cuma sampah, tapi juga pola pikir penguasa yang cuma mikirin profit, sementara people dan planet nyaris tak dianggap. Nina, begitu ia disapa, punya misi sederhana tapi radikal, sungai harus bersih, anak muda harus sadar, dan industri harus bertanggung jawab.
#Dari surat ke Trump sampai Joe Biden, perjuangan anak muda
Ketika sebagian orang masih sibuk dengan urusan sekolah dan media sosial, Nina sudah mengirim surat ke Donald Trump dan Joe Biden, meminta agar pabrik kertas di Indonesia tidak menerima sampah plastik yang menyamar sebagai kertas daur ulang impor.
“Pabrik kertas di Indonesia butuh bahan baku kertas daur ulang, tapi sampah kita sudah tercampur dengan organik sehingga mereka impor dari negara maju, Amerika, Kanada, Australia, Inggris. Sayangnya, mereka menyelundupkan plastiknya ke dalam kertas itu,” cerita Nina dalam Podcast Lantai 2 by Suara Surabaya pada 19 Mei 2024.

Respons? Apresiasi, tapi tidak ada tindakan nyata. Sampah tetap masuk, mikroplastik tetap menyebar. Bahkan, peraturan pemerintah yang seharusnya membatasi kontaminasi plastik cuma dua persen, tetap jadi angka teori. Menurut Nina, ini bukan soal kemampuan teknologi, tapi soal keberanian penguasa, people dan planet masih kalah dari profit.
#Desa Bangun dan pabrik yang memuntahkan racun
Desa Bangun di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjadi saksi bisu proses pemilahan sampah plastik impor. Warga bekerja setiap hari memilah botol, kresek, dan plastik keras lain, yang sebagian dijual ke pabrik daur ulang atau digunakan sebagai bahan bakar industri tahu dan kerupuk. Akibatnya, udara tercemar, air sungai berbusa hitam, dan mikroplastik menyebar ke seluruh desa.

“Pekerjanya hanya pakai celana biasa, tanpa masker atau sarung tangan. Mereka menghirup racun setiap hari, anak-anak ikut bermain di gunungan plastik. Banyak yang kini batuk-batuk dan organ vitalnya terganggu,” ujar Nina. Dampak jangka panjang, kata dia, bukan cuma soal kesehatan, tapi juga perubahan hormon manusia dan ikan, bahkan menyebabkan menstruasi dini pada generasi muda.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#INC dan kegagalan membatasi produksi plastik
Partisipasi Nina di Intergovernmental Negotiating Committee (INC) di Kanada memperlihatkan kegagalan diplomasi global soal plastik. Perjanjian internasional yang diharapkan bisa mengurangi produksi plastik sebanyak 70 persen, gagal karena lobby industri lebih kuat. Delegasi Indonesia hadir, tapi Nina bukan dari pemerintah, dia diundang atas nama NGO.
Hasilnya mengecewakan, perjanjian plastik tetap hanya membicarakan regulasi, labeling, dan daur ulang, tanpa tindakan radikal membatasi produksi. Nina menilai, ini bukti betapa industri dan pemerintah di negara maju lebih mementingkan keuntungan daripada keberlanjutan planet.
#Solusi? Reduce, Reuse, bukan Recycle
Dalam percakapan panjang dengan Podcast Lantai 2 by Suara Surabaya ini, Nina menekankan urutan prioritas pengurangan sampah, reduce dan reuse, bukan recycle. “Recycle itu mitos. Negara maju saja menutup pabrik daur ulang karena mahal dan polutif. Yang paling efektif adalah mengurangi konsumsi plastik sekali pakai dan beralih ke tumbler atau sedotan stainless,” jelasnya.
Menurut Nina, literasi, kolaborasi, dan inisiatif pribadi adalah kunci. Anak muda harus sadar, belajar, dan bergerak bersama. Ia menegaskan, sungai bukan tempat sampah; sungai adalah sumber kehidupan. Jika generasi sekarang terus mengabaikan plastik, generasi berikutnya akan menanggung risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan yang jauh lebih parah.
Di tengah perdebatan global dan ketidaktegasan pemerintah, Nina tetap optimis. Ia percaya, dengan kesadaran kolektif, edukasi, dan keberanian bertindak, sungai bisa kembali bersih, generasi muda bisa sehat, dan planet bisa selamat dari plastik.
Sementara itu, ia tetap menulis surat, turun ke sungai, dan menatap masa depan dengan semangat aktivisme yang tak pernah padam — meski harus menghadapi kenyataan bahwa Jokowi dan para penguasa lama sering kali masih lebih mementingkan profit daripada people dan planet.***