Sampel air hujan dari Paciran menunjukkan temuan mencengangkan, ratusan partikel mikroplastik ikut turun bersama hujan. Fakta itu menjadi pemantik serius bagi JAYCA 2025 untuk menggelar sosialisasi bahaya plastik sekali pakai di MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran, mendorong siswa menjadi generasi muda yang sadar lingkungan dan siap mengambil peran perubahan.
#Kesadaran Baru: Mikroplastik Mengintai di Hujan, Udara, dan Makanan
KEKHAWATIRAN atas paparan mikroplastik bukan lagi sekadar teori ilmiah. Di kecamatan pesisir, tepatnya Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hasil uji terhadap air hujan memperlihatkan 230 fiber, 2 fragmen, dan 3 filamen mikroplastik.
Temuan itu menjadi bukti nyata bahwa pencemaran plastik tak hanya mengotori laut dan darat, tetapi juga telah menyatu dengan udara lalu turun bersama hujan. Kondisi itulah yang mendorong GrowGreen dan ECOTON sebagai mentor Jawa Timur Young Changemaker Academy 2025 (JAYCA 2025) sosialisasi lingkungan di MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran pada Senin (24/11/2025).
Sosialisasi berlangsung sejak pukul 10.00 – 12.00 WIB, diikuti siswa kelas X IT putra, X IT putri, dan anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Agenda ini bukan sekadar penyampaian materi, tetapi bentuk keberlanjutan dari deklarasi Muda Wani Gerak yang sebelumnya diikuti MA Muhammadiyah 1 Karangasem bersama 200 anak muda se-Jawa Timur. Deklarasi itu menjadi simbol komitmen Gen Z untuk mendorong perubahan sosial melalui aksi nyata, khususnya dalam isu lingkungan.
Sesi pembuka berlangsung dengan cara interaktif untuk memetakan pemahaman peserta mengenai mikroplastik. Hasilnya menunjukkan, mayoritas siswa masih belum mengetahui apa itu mikroplastik dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan maupun lingkungan.
Dari situlah proses pembelajaran dimulai—bukan dari ruang kosong, tetapi dari kebutuhan mendesak untuk memahami ancaman yang semakin dekat.

#Pemahaman Ekologis: Dari Kekhawatiran hingga Aksi
Pemateri pertama, Siti Nor Shofiyah, membedah definisi mikroplastik, ragam bentuknya, serta jalur kontaminasi yang membuatnya berbahaya. Ia menekankan bahwa plastik dapat melepaskan partikel kecil ke makanan, terutama saat terkena suhu panas atau perlakuan fisik.
“Paparannya jangka panjang dan dapat memengaruhi sistem hormon dan organ tubuh,” tegasnya. Penjelasan itu langsung memantik respons emosional dari peserta.
Salah satunya datang dari Sinta Nur Aprilia dari IPM, yang mengaku baru menyadari bahaya yang mengintai dari kebiasaan sederhana.
“Ternyata mikroplastik bisa larut ke makanan kalau masih panas. Jadi takut, karena selama ini aku sering beli seblak panas yang dibungkus plastik atau styrofoam,” ujarnya.
Materi kedua dibawakan oleh Anjar Bintoro Aji Mujiono dari komunitas GrowGreen. Ia tidak hanya menjelaskan dampak plastik sekali pakai, tetapi juga membangkitkan kesadaran peran generasi muda dalam perubahan.
Menurutnya, pelibatan pelajar di MA Muhammadiyah 1 Karangasem ini bukan tanpa alasan, merekalah kelompok yang paling mampu menjadi agen perubahan di sekolah, rumah, dan masyarakat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kita tidak ingin generasi muda hanya mengetahui bahaya plastik. Mereka harus menjadi motor perubahan. Mikroplastik sudah ada di udara, air, dan makanan kita, jadi langkah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai adalah kebutuhan, bukan pilihan,” tegasnya.
Pandangan kritis juga datang dari peserta lain, Victor Rabbani, yang juga terlibat aktif di JAYCA 2025. Ia menyoroti pola konsumsi masyarakat. Menurutnya budaya konsumtiflah yang berdampak pada lingkungan. .
“Plastik sekali pakai itu kelihatannya biasa saja, tapi efeknya besar kalau terus digunakan tanpa kontrol. Kita harus mulai mengurangi dan mencari alternatif yang lebih aman,” tuturnya.
#Praktik Lapangan: Ketika Ancaman Terlihat Jelas di Lensa Mikroskop
Usai materi, kegiatan berlanjut ke praktik uji mikroplastik pada sampel air hujan Paciran. Dengan metode penyaringan menggunakan mistic can, penetesan ke cawan petri, lalu pengamatan mikroskopik, peserta dapat melihat sendiri bentuk fiber dan fragmen yang terperangkap dalam tetes air.
Kejutan terlihat di wajah banyak siswa, bahwa ancaman yang semula abstrak kini menjadi nyata di hadapan mata mereka.
Temuan 230 fiber, 2 fragmen, dan 3 filamen mikroplastik menjadi titik balik. Jika air hujan saja tercemar, maka udara dan lingkungan sekitar jelas berada dalam kondisi darurat.
Di sinilah nilai penting kegiatan ini tampak, bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi menggugah sense of urgency sekaligus menyalakan optimisme untuk bertindak.
Tak lupa di akhir kegiatan, para mentor menekankan langkah sederhana namun berdampak, membawa botol minum dan tempat makan sendiri, menghindari kemasan plastik panas, memilih produk ramah lingkungan, serta mengajak orang sekitar untuk melakukan hal serupa.
“Gerakan ini kecil, jika dilakukan bersama, akan menjadi kekuatan perubahan besar, “ ucap Shofiyah.
Sosialisasi ini bukanlah titik akhir melainkan awal perjalanan. Dengan makin banyaknya pelajar memahami isu mikroplastik, harapannya Paciran, dan Jawa Timur tentunya. Dapat melahirkan generasi muda yang bukan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi pelopor yang menggerakkannya.***