HUJAN di Surabaya kini tidak hanya membawa kenangan masa kecil, tapi juga paket bonus bernama mikroplastik. Temuan terbaru dari Jejak, GrowGreen, River Warrior, dan ECOTON menunjukkan air hujan di lima lokasi kota ini tercemar parah. Warga diminta waspada: jangan mangap saat hujan turun.
Pakis Gelora mencatat rekor: 356 partikel mikroplastik per liter air hujan. Bukan prestasi, tapi peringatan keras dari langit. Dari pembakaran sampah hingga gesekan ban dengan aspal, semua menyumbang polusi partikel plastik yang kini turun langsung dari awan dan masuk ke tubuh warga.

#Surabaya, Kota yang Bahkan Langitnya Ikut Tercemar
Jika selama ini kita waspada terhadap banjir, kemacetan, dan parkir liar, kini daftar kewaspadaan warga Surabaya bertambah, mikroplastik dalam air hujan.
Penelitian yang dilakukan pada 11–14 November 2025 oleh Jaringan Gen Z Jawa Timur Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), GrowGreen, River Warrior, dan ECOTON memberi gambaran muram, bahwa hujan bukan lagi sekadar air yang jatuh dari langit, – yang selama ini kita percayai sebagai berkah- ternyatai juga membawa paket polusi yang dibawa angin.
Penelitian sederhana namun akurat itu menggunakan wadah aluminium, stainless steel, dan mangkok kaca berdiameter 20–30 cm, diletakkan lebih dari 1,5 meter dari tanah selama 1–2 jam. Hasilnya, semua lokasi tercemar. Yang paling memprihatinkan, warga Surabaya secara tidak sadar mungkin telah menelan mikroplastik setiap hujan turun.
Siti Nor Shofiyah, Koordinator studi independen dari GrowGreen yang juga mahasiswa Unievrsitas Negeri Surabaya (Unesa) mengatakan, “Kami menghimbau agar warga tidak mangap atau menelan air hujan, karena itu bisa meningkatkan kontaminasi mikroplastik dalam tubuh.”

#Pakis Gelora Jawara: 356 Partikel per Liter
Dari lima lokasi pengamatan, Pakis Gelora menjadi juara bertahan polusi mikroplastik: 356 partikel per liter. Disusul Tanjung Perak dengan 309 partikel per liter. Bukan rekor yang membanggakan, tapi sebuah lonceng besar yang terus berdentang keras di telinga kota ini.
Alaika Rahmatullah, koordinator penelitian mikroplastik Kota Surabaya, menjelaskan bahwa tingginya polusi di Pakis Gelora dipicu oleh pembakaran sampah, aktivitas pasar, dan lokasi yang berdampingan dengan jalan raya. “Mikroplastik dalam air hujan berasal dari pembakaran sampah plastik serta gesekan ban dengan aspal,” ujarnya. Di lokasi padat aktivitas manusia dan kendaraan, partikel-partikel ini beterbangan, terbawa angin, dan akhirnya ikut turun bersama hujan.
Yang paling sering ditemukan adalah jenis fiber, atau serat halus mikroplastik yang ukurannya nyaris tak terlihat mata manusia. Sofi Azilan Aini dari ECOTON mengatakan, “Hanya dua jenis mikroplastik yang ditemukan di udara kota Surabaya, dan fiber mendominasi.”
Jenis fiber ini biasanya berasal dari pakaian sintetis, kegiatan laundry, filter AC, dan tentu saja pembakaran sampah plastik. Dan karena ukurannya sangat kecil, partikel ini mudah masuk ke sistem pernapasan, air minum, bahkan makanan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Ketika Mikroplastik dari Laut Ikut Turun dari Langit
Temuan paling menarik sekaligus mengkhawatirkan datang dari penjelasan Ridha Fadhillah, peserta studi independen dari GrowGreen. Dalam temuannya ia menegaskan, bahwa sebagian mikroplastik di air hujan Surabaya kemungkinan besar berasal dari laut.
“Dalam siklus air, uap air terbentuk dari evaporasi air laut. Jika laut tercemar mikroplastik, maka polusinya ikut naik, ikut menguap, dan akhirnya turun sebagai hujan,” jelasnya.
Jelasnya, polusi plastik di lautan Jawa Timur tidak hanya mengancam ikan, terumbu karang, atau nelayan, tetapi juga masyarakat kota yang tinggal jauh dari pesisir. Ketika langit pun mengembalikan polusi plastik ke daratan, ini pertanda bahwa siklus pencemaran telah lengkap—dan memukul balik manusia di titik paling dasar, yaitu air yang kita minum dan hirup.
Ada enam sumber mikroplastik terbesar di Surabaya yang telah diidentifikasi, di antaranya:
- Pembakaran sampah plastik
- Gesekan ban kendaraan bermotor dengan aspal
- Aktivitas laundry dan menjemur pakaian
- Timbunan sampah plastik
- Polusi industri
- Asap kendaraan bermotor
Sederhana tapi tegas, aktivitas harian kita sendirilah yang membuat langit mengirimkan mikroplastik kembali.
#Dari Stop Bakar Sampah hingga Sanksi Sosial
Dari penelitian ini, para peneliti menyampaikan beberapa rekomendasi yang semestinya menjadi pekerjaan rumah serius Pemkot Surabaya dan warga. Mulai dari stop bakar sampah terbuka, stop buang sampah ke sungai, sampai stop penggunaan plastik sekali pakai.
Mereka bahkan menyarankan adanya “sanksi sosial berupa pemasangan foto warga yang membakar sampah atau membuang sampah ke sungai/pesisir.”
Terakhir, mereka menekankan perlunya uji reguler mikroplastik di udara Surabaya, agar kota ini memiliki data yang jelas dan pembuat kebijakan tidak jalan dalam gelap.
Sampai rekomendasi itu benar-benar dijalankan, satu pesan ini masih relevan dan perlu diingat, jika hujan turun, jangan mangap. Bukan romantis, tapi riskan.***