Pembakaran plastik dalam teatrikal di depan Gedung Grahadi, Surabaya, menjadi alarm keras atas meningkatnya ancaman mikroplastik bagi kesehatan masyarakat Jawa Timur. Komunitas GrowGreen dan Ecoton menyoroti temuan mikroplastik di air hujan serta dalam darah manusia, sekaligus mendesak pemerintah menghentikan praktik pembakaran sampah plastik yang masih marak terjadi.
#Dipicu Paparan Mikroplastik Pada Darah Perempuan
Aksi teatrikal bakar plastik yang digelar komunitas GrowGreen dan Ecoton di depan Gedung Grahadi, Kamis (4/12/2025), menarik perhatian publik sekaligus menjadi seruan kuat agar praktik pembakaran sampah plastik di Jawa Timur segera dihentikan.
Dengan mengenakan kostum menyerupai manusia primitif yang sedang membakar sampah, para aktivis ingin menunjukkan bahwa kebiasaan membakar plastik bukan hanya kuno, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan masyarakat di era modern.

Aksi ini dipicu oleh temuan terbaru mengenai paparan mikroplastik pada manusia dan lingkungan di Jawa Timur. Dalam riset gabungan antara Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH) Korea, Ecoton, dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, ditemukan 23 bahan kimia plastik berbahaya dalam darah perempuan pemilah sampah di Gresik.
Pada saat yang sama, mikroplastik juga terdeteksi dalam air hujan di Malang, Gresik, Surabaya, dan Lamongan.
“Temuan mikroplastik ini adalah alarm keras. Mikroplastik telah memasuki tubuh manusia melalui udara dan lingkungan yang tercemar pembakaran sampah plastik,” ujar Anjar, Koordinator Aksi Komunitas GrowGreen.
Ia menilai situasi ini semakin mengkhawatirkan karena masyarakat terpapar dari dua jalur sekaligus: udara yang tercemar serta kontaminasi langsung yang masuk ke aliran darah.
#Temuan Mikroplastik dalam Darah dan Hujan: Ancaman yang Tidak Terlihat
Penelitian terhadap 32 perempuan pemilah sampah di Gresik mengungkapkan fakta yang dianggap para peneliti sebagai “momen krisis kesehatan publik”.
Dari 65 senyawa kimia plastik yang dianalisis, 23 di antaranya terdeteksi dalam darah maupun urin partisipan. Senyawa tersebut termasuk BPA, ftalat, PAH, dan flame retardants, bahan kimia yang telah lama dikaitkan dengan gangguan hormon, masalah kesuburan, gangguan metabolik, hingga risiko gangguan perkembangan pada janin.
Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menyebut temuan ini sebagai bukti bahwa mikroplastik kini menjadi ancaman nyata dan tak lagi berada pada level teoretis.
“Kondisi ini tidak boleh diabaikan. Pemerintah dan industri harus segera memperbaiki sistem pengelolaan sampah dan mengurangi sumber polusi plastik,” ujarnya. “Pemulung dan pekerja sektor informal adalah kelompok paling rentan dan harus mendapat perlindungan kesehatan yang lebih baik.”
Temuan serupa muncul dari penelitian mengenai kualitas air hujan di Jawa Timur. Mikroplastik ditemukan melekat pada partikel debu dan awan, kemudian turun ke permukaan bersama hujan.
Fenomena ini dikenal sebagai plastic rainfall dan telah dicatat di beberapa kota besar dunia. Kini, kondisi yang sama ditemukan di Jawa Timur, menandakan bahwa polusi udara akibat pembakaran sampah plastik telah mencapai tingkat mengkhawatirkan.

#Dampak Pembakaran Sampah Plastik: Dari Paru-paru hingga Otak
Pembakaran sampah plastik di ruang terbuka melepaskan berbagai partikel polutan berbahaya, termasuk mikroplastik berukuran PM10, PM2.5, hingga nanopartikel. Partikel-partikel ini mudah terhirup dan menetap di paru-paru sebelum masuk ke aliran darah. Selain itu, pembakaran plastik juga melepaskan zat toksik seperti dioksin dan furan yang diketahui bersifat karsinogenik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menjelaskan bahwa partikel mikroplastik memiliki kemampuan menembus alveoli paru-paru, masuk ke pembuluh darah, dan pada akhirnya melewati blood–brain barrier (BBB).
“Ketika mikroplastik memasuki otak, mereka dapat memicu peradangan saraf dan stres oksidatif yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif,” katanya. “Ini sejalan dengan temuan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat mengganggu memori, fokus, dan bahkan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif.”
Menurutnya, praktik pembakaran sampah plastik yang masih marak di permukiman, bantaran sungai, hingga area industri telah menciptakan risiko kesehatan yang tidak disadari masyarakat. “Paparan ini bersifat kronis dan akumulatif. Dampaknya tidak terlihat langsung, tetapi sangat signifikan untuk kesehatan jangka panjang,” tambah Sofi.
#Tuntutan dan Rekomendasi: Mendesak Pemerintah Bertindak
Berdasarkan temuan lapangan dan data ilmiah tersebut, Ecoton dan GrowGreen menyampaikan lima rekomendasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menekan peningkatan polusi plastik di lingkungan. Pertama, pemerintah diminta menerbitkan peraturan gubernur yang secara tegas melarang pembakaran sampah plastik di seluruh wilayah Jawa Timur, diselaraskan dengan peraturan daerah tingkat kabupaten dan kota.
Kedua, arah kebijakan pengelolaan sampah juga diminta bergeser dari sekadar pengelolaan menjadi pengurangan plastik sekali pakai. Pemerintah daerah didorong menyediakan fasilitas pengelolaan sampah non-insinerasi, seperti fasilitas daur ulang dan pengomposan.
Rekomendasi ketiga adalah moratorium pembangunan dan operasi insinerator. Menurut para aktivis, teknologi insinerasi justru berpotensi menghasilkan emisi mikroplastik baru dan harus ditinjau ulang. Pemerintah diminta menetapkan target pengurangan mikroplastik dari industri serta membuat regulasi untuk mencapai nol emisi mikroplastik dalam jangka panjang.
Keempat, pembentukan satuan tugas pengawasan pembakaran sampah. Satgas ini diusulkan melibatkan Satpol PP dan komunitas lingkungan untuk memperkuat pemantauan dan penegakan hukum.
Terakhir, perlindungan kesehatan bagi pemulung dan pekerja sektor informal perlu diperkuat melalui pemeriksaan medis berkala, penyediaan alat pelindung diri, serta edukasi kesehatan terkait bahaya polusi plastik.
Dengan meningkatnya temuan mikroplastik di udara, hujan, dan tubuh manusia, aktivis lingkungan menegaskan bahwa Jawa Timur kini berada di persimpangan. Tanpa tindakan tegas, polusi plastik berpotensi menjadi ancaman kesehatan besar yang memengaruhi generasi mendatang. Sebaliknya, jika rekomendasi diterapkan, Jawa Timur dapat menjadi contoh keberhasilan pengendalian mikroplastik di Indonesia.***