Dalam sebuah perbincangan di Semarang, peneliti ECOTON Alaika Rahmatullah dan Zero Waste Campaigner GREENPEACE Indonesia Ibar Akbar mengangkat kecemasan baru, mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman lingkungan, tetapi ancaman langsung terhadap kesehatan manusia. Percakapan keduanya menegaskan betapa mendesaknya kolaborasi lintas sektor untuk mencegah bahaya yang kini kian melekat dalam keseharian.
#Ancaman Tak Terlihat yang Sudah Masuk ke Tubuh Manusia

ANACAMAN mikroplastik selama ini kerap dianggap urusan sungai, laut, dan satwa liar. Namun obrolan antara Alaika Rahmatullah dari ECOTON) dan Ibar Akbar dari GREENPEACE Indonesia di Semarang, Selasa, 25 November 2025, membalik perspektif itu dengan cara yang tegas dan mengganggu, mikroplastik kini telah memasuki tubuh manusia, dan risikonya tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Menurut Ibar, berbagai riset yang dibaca tim GREENPEACE serta hasil laboratorium dari rekan-rekan medis menunjukkan mikroplastik ditemukan dalam darah manusia dan diduga mampu mengganggu fungsi otak. Indikasinya mengarah pada gejala serius: kesulitan fokus, gangguan daya ingat, hingga masalah dalam pengambilan keputusan.
“Ini bukan lagi isu lingkungan semata. Ini ancaman kesehatan masyarakat,” tegas Ibar. Mikroplastik berukuran sangat kecil dapat masuk ke aliran darah, berpotensi memasuki organ vital, dan memicu peradangan.
Dari sinilah diskusi mulai mengarah ke kebutuhan mendesak untuk memandang plastik sebagai ancaman holistik — bukan sekadar persoalan sampah.
#Respons Dunia Medis yang Masih Tertinggal
Dalam percakapannya, Ibar menyayangkan minimnya sorotan dari dunia kesehatan terhadap bahaya mikroplastik, padahal temuannya sudah meresahkan. Selama bertahun-tahun, isu ini didominasi ilmuwan lingkungan, aktivis sungai, dan organisasi pecinta alam — padahal dampaknya kini menyentuh jantung disiplin medis.
Ibar berharap rumah sakit, tenaga kesehatan, dan dokter mulai memberikan perhatian lebih besar pada isu ini. “Kalau riset medis diperkuat, kita punya landasan kuat untuk kebijakan publik. Data medis itu penting sekali,” ujarnya.
Bagi Alaika dari ECOTON, sinyal bahaya mikroplastik semakin jelas melalui temuan lapangan yang dilakukan bersama tim Microplastic Hunter. Sampel air hujan, air minum dalam kemasan, air sungai hingga feses manusia telah menunjukkan keberadaan partikel mikroplastik. “Kita tidak sedang menunggu ancaman dan ancamannya itu sudah berjalan,” kata Alaika.
Percakapan keduanya memperlihatkan bahwa dunia sains, lingkungan, dan kesehatan seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketika mikroplastik telah masuk ke tubuh manusia, kolaborasi lintas sektor bukan pilihan, tetapi keharusan.

#Publik Tidak Salah, Sistem yang Salah
Selain membahas risiko mikroplastik bagi tubuh, Ibar menyinggung satu hal yang sering disalahpahami, masyarakat bukan pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis plastik.
Produk sehari-hari, mulai makanan, minuman, peralatan rumah tangga hingga produk kebersihan. Telah didominasi plastik sekali pakai yang sebetulnya diciptakan untuk memudahkan industri, bukan konsumen.
“Kita tidak punya banyak pilihan. Sistem membuat kita bergantung pada plastik,” ujar Ibar.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKarena itu, ia menegaskan bahwa perubahan terbesar harus terjadi di hulu, perusahaan harus mengurangi produksi plastik sekali pakai dan mulai membangun sistem reuse yang nyata, bukan sekadar program daur ulang yang hanya menyentuh sebagian kecil sampah.
Pemerintah juga dituntut untuk memperkuat regulasi agar pengurangan plastik tidak hanya menjadi imbauan tanpa gigi.
“Yang penting bukan masyarakat harus sempurna dulu. Yang penting masyarakat mendorong perubahan sistemik,” tambahnya.
Suara publik, lewat kampanye, petisi, pilihan konsumen, dan tekanan politik, tetap menjadi kekuatan yang dapat memaksa perubahan industri dan kebijakan negara.
#Perubahan Dimulai dari Rumah, tetapi Harus Dipercepat oleh Kebijakan
Sementara itu, Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti, menyampaikan harapannya agar masyarakat ke depan semakin memahami bahaya mikroplastik. Menurutnya, ketika publik mengetahui risiko mikroplastik bagi kesehatan dan lingkungan, mereka dapat mulai melakukan perubahan dari hal-hal sederhana di rumah.
“Misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih barang yang bisa dipakai ulang, dan sebisa mungkin menerapkan prinsip reduce dan reuse,” ujar Rafika.
Ia juga menekankan pentingnya menghindari pembakaran sampah di rumah karena asapnya sangat berbahaya bagi kesehatan. “Masyarakat bisa mulai memilah dan membersihkan sampah sejak dari sumber – di area rumah masing-masing – agar tidak menambah beban lingkungan.”
Menurut Rafika, perubahan kecil yang dilakukan oleh banyak orang dapat membawa dampak besar. Namun ia menegaskan bahwa upaya masyarakat harus dibarengi dengan dukungan kebijakan yang lebih tegas agar perubahan terjadi lebih cepat dan bersifat sistemik.
“Harapan saya, masyarakat semakin paham bahaya mikroplastik. Mulailah mengurangi plastik dari rumah, jangan membakar sampah, dan biasakan memilah. Kurangi-kurangi-kurangi dulu, lalu reuse, reuse, reuse, dan reuse,” tegasnya.
Intinya, kata Rafika, langkah sederhana yang dikerjakan bersama-sama dapat menciptakan masa depan yang lebih sehat.***