Pulau Sumatera kembali berduka. Banjir bandang dan longsor melanda berbagai wilayah hingga menelan lebih dari seratus korban jiwa. Di tengah puncak musim hujan, siklon tropis, serta hutan yang kian gundul, Sumatera menghadapi bencana besar yang disebut warga sebagai kejadian terburuk dalam puluhan tahun terakhir.
#Puncak Musim Hujan yang Datang Bersamaan dengan Siklon
Curah hujan ekstrem menjadi pemicu awal bencana besar yang menyapu Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Menurut Dr. Muhammad Rais Abdillah, pakar meteorologi ITB, wilayah Sumatera bagian tengah dan utara memang sedang memasuki puncak musim hujan, periode yang biasanya menandai dua kali puncak hujan dalam satu tahun.
BMKG mencatat curah hujan yang jatuh mencapai 150–300 milimeter, kategori ekstrem yang jarang terjadi sekaligus sulit ditahan daerah aliran sungai (DAS) yang sudah rapuh.

“Sejak 24 November sudah terlihat adanya sirkulasi yang berputar dari Semenanjung Malaysia. Awalnya masih berupa vortex, belum terbentuk mata siklon yang jelas,” ujar Rais kepada detik, Sabtu (29/11/2025).
Sirkulasi itu kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar yang bergerak dari Selat Malaka ke barat. Di saat yang hampir bersamaan, BNPB juga mencatat keberadaan Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan bibit siklon 95B.
Kombinasi fenomena atmosfer ini membuat hujan turun hampir tanpa jeda, disertai angin kencang yang memaksa awan-awan hujan menggantung lama di atas Sumatera.
“Meski tidak sekuat siklon di Samudera Pasifik, Senyar tetap mendorong pembentukan awan hujan masif,” tambah Rais.
Bagi warga, hujan deras yang turun berhari-hari menjadi awal dari malapetaka yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

#Hutan Gundul dan Tanah yang Tak Lagi Mampu Menyerap Air
Kerusakan yang terlihat di lapangan bukan semata akibat derasnya hujan, tetapi juga kondisi daratan yang kian kehilangan kemampuan menahan limpasan air. Dr. Heri Andreas dari Fakultas Teknik Geodesi dan Geomatika ITB menjelaskan bahwa perubahan besar pada tutupan lahan telah membuat air hujan kehilangan ruang untuk meresap secara alami.
“Ketika presipitasi turun, air semestinya terbagi antara infiltrasi dan aliran permukaan. Namun di wilayah yang tutupan lahannya rusak, proporsinya menjadi timpang—lebih banyak air mengalir cepat ke sungai,” ujarnya.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan bahwa kerusakan hutan memperberat skala bencana kali ini. Aktivitas penebangan kayu skala besar serta pertambangan emas—termasuk yang dioperasikan PT Agincourt Resources—disebut telah menghilangkan kawasan penahan air alami.
Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, Jaka Kelana Damanik, bahkan menolak anggapan bahwa bencana ini murni disebabkan hujan berkepanjangan. Menurutnya, ada campur tangan manusia yang tidak bisa diabaikan. Salah satu tandanya adalah banyaknya batang kayu yang terseret arus saat banjir terjadi. Citra satelit juga menunjukkan area hutan di sekitar lokasi bencana telah mengalami penggundulan signifikan.
Walhi Sumut meyakini banjir bandang ini merupakan konsekuensi langsung dari ekosistem hulu yang rusak. Wilayah hulu yang seharusnya berfungsi sebagai “penyangga air” tidak lagi mampu menahan hujan berintensitas tinggi, sehingga air deras langsung meluncur ke lembah dan permukiman.
Kajian Risiko Bencana Nasional 2022–2026 pun menempatkan wilayah terdampak dalam kategori risiko tinggi banjir bandang dan tanah longsor. Sungai-sungai kecil yang dahulu jinak kini tak lagi mampu meredam volume air yang besar. Alhasil, ketika hujan ekstrem turun, air langsung bergerak cepat membawa lumpur, batu, dan batang-batang kayu besar dari hulu—menciptakan banjir bandang yang mematikan.
#Hutan Gundul dan Hulu Melemah, Banjir Bandang Jadi Bencana Besar
Dalam laporan BBC Indonesia, sekitar 50 orang dilaporkan terjebak di kawasan hutan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Mereka awalnya melarikan diri ke hutan untuk mencari perlindungan, namun justru terjebak di tengah situasi yang semakin memburuk.
Rose Zebua, seorang perantau di Jakarta, mengucap syukur berulang kali setelah mendapat kabar dari kerabatnya di Hutanabolon pada Jumat malam (28/11/2025). “Mungkin itulah keajaiban Tuhan,” ujarnya lirih.
Rose terakhir kali berkomunikasi dengan ibu dan saudara-saudaranya pada Selasa (25/11/2025), saat mereka melarikan diri ke hutan demi menghindari banjir bandang.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSetelah itu, semua kontak terputus. Tiga hari kemudian, kabar baik datang—beberapa warga Hutanabolon berhasil menemukan keberadaan keluarga Rose di tengah hutan.
“Dikasih makanan, didatangi mereka ke sana. Tapi hanya beberapa warga laki-laki yang bisa mendatangi karena arusnya [sungai] itu,” jelas Rose.
Meski sudah ditemukan, upaya evakuasi belum bisa dilakukan. Arus sungai terlalu deras, membuat warga hanya bisa mengantar makanan dan memastikan mereka bertahan hidup.
“Mau dievakuasi pun tadi, enggak bisa mereka. Karena deras sekali airnya. Diantar makanan aja,” tambahnya.
Dari penuturan warga yang sempat mencapai lokasi, ibu dan adik-adik Rose bertahan hidup dengan memakan apa pun yang tersedia—termasuk biji durian dan rumput.
“[Mereka] makan makanan apa yang ada, entah rumput dimakan,” kata Rose, menggambarkan betapa berat kondisi yang harus dialami keluarganya.

#Korban dan Kerusakan Meluas, Pengungsian Membengkak
Dampak bencana kali ini terasa amat luas. Di Sumatera Utara saja, 28.427 orang terpaksa mengungsi. Korban meninggal yang telah terkonfirmasi mencapai 116 jiwa dan 42 orang masih hilang, tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, hingga Kota Sibolga.
Evakuasi yang dilakukan oleh BNPB, Basarnas, dan relawan terus berlangsung, namun terkendala kondisi medan yang tertutup lumpur tebal serta jembatan yang banyak rusak. Aliran listrik di sejumlah desa terputus total, membuat komunikasi tersendat.
Warga yang selamat menyebut bencana kali ini sebagai yang terburuk dalam puluhan tahun. Banyak dari mereka kehilangan seluruh harta benda hanya dalam hitungan menit. Rumah, kebun, bahkan ternak hanyut begitu saja saat air bah datang tiba-tiba di tengah malam.
“Kami pernah melihat banjir, tapi tidak pernah seperti ini. Ini seperti sungai baru yang muncul begitu saja,” kata seorang warga dari Tapanuli Tengah.
#Bencana yang Terus Berulang dan Peringatan yang Harus Didengar
Meski bencana ini dipicu fenomena alam yang tak bisa dicegah, para ahli menegaskan bahwa dampak katastrofiknya bisa diminimalkan jika tata ruang dan perlindungan hutan dijalankan dengan benar. Penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan serapan air, serta pemodelan geospasial menjadi kebutuhan mendesak.
Rais juga menambahkan pentingnya peringatan dini cuaca yang berbasis data ilmiah dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. “Fenomena seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Ada tanda-tandanya. Literasi kebencanaan harus diperkuat,” tegasnya.
Namun, tanpa perbaikan tata kelola lingkungan, peringatan dini hanya akan menjadi alarm tanpa tindak lanjut. Kerusakan hutan yang terus berlangsung, penambangan emas yang menggali perut bumi tanpa kendali, serta maraknya alih fungsi lahan membuat Sumatera semakin rentan setiap tahun.
Bencana kali ini menjadi pengingat pahit, bahwa alam yang rusak akan menagih balas. Dan bila akar persoalan tak segera diselesaikan, tragedi serupa kemungkinan besar hanya tinggal menunggu waktu.***