Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara bukan hanya merusak rumah dan merendam pemukiman, tetapi juga membawa ancaman tak kasatmata: mikroplastik. Temuan ilmiah dan penelitian lapangan menunjukkan bahwa krisis iklim memperburuk penyebaran partikel berbahaya ini, menimbulkan risiko kesehatan baru bagi warga dan memperparah kerusakan ekosistem sungai.
#Krisis Iklim Membuat Plastik Lebih Ganas
Banjir yang menghantam Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara pada akhir November 2025 ini, menyisakan pemandangan yang jauh dari sekadar rumah tergenang atau jalan yang terputus.
Di balik lumpur yang mengering, batang-batang kayu besar yang hanyut, dan sampah rumah tangga yang berserakan, ada ancaman baru yang tidak terlihat oleh mata, yaitu mikroplastik. Bahan yang selama ini identik dengan polusi laut dan air minum dalam kemasan itu, kini memasuki rumah warga melalui arus banjir yang makin ekstrem akibat krisis iklim.

Sebuah analisis global terbaru dalam jurnal Frontiers in Science mengungkap bagaimana perubahan iklim membuat mikroplastik menjadi lebih mobile, lebih mudah pecah, dan lebih beracun.
Kenaikan suhu hingga 10°C selama gelombang panas, misalnya, dapat mempercepat degradasi plastik menjadi fragmen mikroplastik dalam waktu singkat. Badai dan banjir ekstrem yang dipicu iklim memperluas jangkauannya hingga ke wilayah yang sebelumnya bersih. Bahkan kebakaran hutan dan permukiman dapat melepaskan partikel plastik serta zat toksik ke udara.
Penemuan ini selaras dengan pengamatan Lembaga Kajian Lahan Basah (ECOTON) di berbagai kota Indonesia, termasuk Sumatera. Ketika air bah menyeret sampah plastik dari bantaran sungai, drainase, dan daerah aliran sungai, plastik-plastik itu terurai menjadi serpihan kecil akibat kuatnya turbulensi air.
“Peristiwa banjir besar seperti ini adalah mesin alami penggiling plastik,” ujar Tasya Husna dari Divisi Publikasi ECOTON, Senin, 1 Desember 2025. Menurutnya, banjir di wilayah Pulau Sumatera memperlihatkan bagaimana sampah plastik, sedimen, dan kayu gelondongan bercampur membentuk aliran lintas materi yang memindahkan polusi hingga ke halaman rumah warga.
Selain mempercepat pecahan plastik, cuaca ekstrem juga meningkatkan toksisitasnya. Suhu tinggi membuat partikel plastik lebih mudah menyerap polutan seperti pestisida dan zat kimia berbahaya seperti PFAS, yang dikenal sebagai forever chemicals. Frank Kelly, peneliti dari Imperial College London, menegaskan bahwa polusi plastik dan krisis iklim “adalah dua krisis yang saling memperkuat.”
#Dari Air Sungai ke Sumur hingga Udara: Ancaman Menyeluruh
Dampak banjir di Pulau Sumatera tak berhenti pada kerusakan fisik. Ketika air mulai surut dan lumpur mengering, warga dikejutkan oleh bau tak sedap, warna air sumur yang keruh, dan sesak napas yang dialami sebagian penduduk. Di balik gejala itu, mikroplastik memainkan peran yang lebih besar dari yang diduga.
Pertama, ekosistem sungai menerima pukulan berat. Sedimen dari hulu yang tercampur dengan plastik dan limbah rumah tangga mengendap dan menciptakan lapisan polusi baru. Sungai yang biasanya menjadi sumber air dan jalur kehidupan penduduk desa berubah menjadi medium penyebaran partikel berbahaya.
Kedua, air sumur warga turut terkontaminasi. Arus banjir yang menerobos halaman dan ruang-ruang bawah rumah membawa serpihan plastik masuk ke akuifer dangkal.
Ketiga, ada ancaman yang datang setelah banjir: mikroplastik yang beterbangan. Ketika sedimen kering dan mengeras, partikel plastik dengan densitas rendah terangkat oleh angin, terhirup, dan masuk ke paru-paru warga.
Temuan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) pada 2025 menyatakan bahwa mikroplastik dapat mengganggu fungsi kognitif otak manusia. Situasi ini menjadi sinyal bagi warga yang tinggal di area terdampak banjir, karena mereka terpapar melalui tiga jalur sekaligus: air minum, udara, dan lingkungan rumah.
Studi internasional mencatat bahwa badai dan angin ekstrem bahkan dapat meningkatkan konsentrasi mikroplastik di sedimen pantai hingga 40 kali lipat, seperti kasus di Hong Kong. Fenomena serupa di Sumatera mungkin tengah terjadi dalam skala sungai dan daratan.

#Desakan Aksi Darurat: Mencegah Krisis Kesehatan Nasional
Melihat kompleksitas ancaman tersebut, ECOTON mendorong pemerintah daerah maupun pusat untuk bergerak cepat. Banjir Sumatera 2025 menjadi bukti nyata bahwa sampah plastik yang tidak terkelola, ditambah cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, berakhir sebagai ancaman kesehatan yang menyebar luas hingga ke permukiman warga.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
ECOTON merekomendasikan beberapa langkah mendesak:
• Pemantauan kualitas air sungai dan sumur pascabanjir untuk mendeteksi residu mikroplastik.
• Pemulihan daerah aliran sungai (DAS) dan penanganan sampah plastik di hulu maupun sepanjang aliran sungai.
• Pembatasan produksi plastik sekali pakai, salah satu penyumbang utama limbah banjir.
• Edukasi publik mengenai bahaya mikroplastik dalam air hujan, udara, dan air minum.
• Dukungan Indonesia terhadap perjanjian global pengurangan produksi plastik yang bersifat mengikat.
“Kejadian banjir Sumatera membuktikan bahwa sampah plastik mencemari sungai, lalu terbawa arus banjir dan hujan ekstrem ke rumah-rumah warga. Krisis iklim mempercepat semuanya. Kita harus bertindak sebelum situasi ini menjadi bencana kesehatan nasional,” tegas Tasya.
Dengan intensitas cuaca ekstrem yang diperkirakan terus meningkat, Pulau Sumatera kemungkinan besar bukan satu-satunya wilayah yang akan menghadapi ancaman serupa. Sebanyak 53 wilayah di tiga provinsi tersebut terdampak dan menunjukkan skala krisis yang semakin meluas.

# Daftar Lokasi Terdampak Bencana Banjir Bandang
Aceh
Berikut daftar wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh:
- Lhokseumawe
- Aceh Barat
- Aceh Utara
- Aceh Timur
- Aceh Singkil
- Bireun
- Gayo Lues
- Subulussalam
- Nagan Raya
- Pidie
- Aceh Besar
- Pidie Jaya
- Aceh Tamiang
- Aceh Tenggara
- Langsa
- Aceh Selatan
Akibat bencana ini, tercatat 96 jiwa meninggal, 75 hilang, dan 62.000 KK mengungsi di berbagai kabupaten/kota di Aceh.
Sumatra Utara
Lokasi bencana di Provinsi Sumatra Utara (21 wilayah):
- Tapanuli Tengah
- Sibolga
- Tapanuli Utara
- Tapanuli Selatan
- Mandailing Natal
- Pakpak Bharat
- Humbang Hasundutan
- Nias
- Padang Sidempuan
- Langkat
- Nias Selatan
- Serdang Bedagai
- Medan
- Deli Serdang
- Tanah Karo
- Tebing Tinggi
- Batubara
- Binjai
- Asahan
- Pelabuhan Belawan
- Pematangsiantar
Total dampak bencana: 176 meninggal, 32 luka berat, 722 luka ringan, 160 hilang, dan 30.445 orang mengungsi.
Sumatra Barat
Daftar 16 kabupaten/kota terdampak di Provinsi Sumatra Barat:
- Pesisir Selatan
- Kabupaten Solok
- Tanah Datar
- Padang Pariaman
- Agam
- Lima Puluh Kota
- Pasaman
- Kepulauan Mentawai
- Solok Selatan
- Pasaman Barat
- Padang
- Kota Solok
- Padang Panjang
- Bukittinggi
- Payakumbuh
- Pariaman
Total dampak: 92.877 pengungsi, 136 meninggal, 18 terluka, 114 hilang, dan 31 belum teridentifikasi.****