Lewati ke konten

Belajar Sungai dari Gogor, Anak Wonosalam Jombang Bertukar Pengetahuan Global

| 5 menit baca |Ekologis | 27 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Anak-anak Wonosalam belajar menjaga sungai melalui Biotilik Sungai Gogor, bertukar pengalaman dengan fasilitator lokal dan warga Korea, menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia sekolah.

Upaya menjaga kelestarian sungai tidak selalu lahir dari kebijakan besar atau proyek mahal. Di Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kesadaran itu justru tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan anak-anak sekolah.

Young dan Aeshnina Azzahara Aqilani, berdiskusi dengan siswa Polisi Air tentang Biotilik Sungai. Percakapan lintas budaya ini menjadi ruang berbagi pengetahuan, menanamkan kepedulian ilmiah dan rasa memiliki terhadap sungai sejak dini. | Foto: Polisi Air

Melalui kegiatan Biotilik di Sungai Gogor, mereka belajar membaca kondisi sungai, memahami pencemaran, sekaligus bertukar pengetahuan dengan relawan lingkungan dari dalam dan luar negeri.

Kegiatan Biotilik ini diikuti oleh Polisi Air Wonosalam, kelompok pemantau sungai yang rata-rata beranggotakan siswa dari SMP 1 Wonosalam. Dengan metode sederhana namun ilmiah, anak-anak diajak mengamati makroinvertebrata air, kondisi fisik sungai, serta aktivitas manusia di sekitarnya.

Dari sana, mereka belajar jika Sungai, ekosistem hidup yang langsung berkaitan dengan kesehatan manusia.

Fasilitator utama dalam kegiatan ini Aeshnina Azzahara Aqilani, yang biasa sapa Nina, Co-Captain River Warrior, yang telah lama mendampingi gerakan pendidikan sungai berbasis komunitas.

Nina menekankan, jika pengenalan sungai sejak dini bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi juga membangun rasa memiliki.

“Kalau anak-anak sudah merasa sungai ini bagian dari hidup mereka, mereka akan menjaganya dengan kesadaran sendiri,” ujar Nina saat mendampingi kegiatan di tepi Sungai Gogor, Ahad, (25/1/2026).

Pendampingan lapangan juga dilakukan oleh Arum Wismaningsih, Pembina Polisi Air. Arum banyak berperan memastikan metode Biotilik yang dapat dipahami anak-anak, sekaligus menghubungkan hasil pengamatan dengan isu pencemaran yang lebih luas.

Young, warga asal Korea Selatan, berbincang dengan siswa SMP 1 Wonosalam yang aktif sebagai Polisi Air. Pertukaran cerita lintas budaya ini mempertemukan pengalaman global dan kepedulian lokal dalam menjaga sungai sejak usia sekolah. | Foto: Polisi Air

#Belajar Sungai Sejak Dini

Arum menjelaskan, Biotilik merupakan metode ilmiah sederhana untuk menilai kualitas air sungai berdasarkan keberadaan makhluk hidup tertentu. Metode ini kerap digunakan oleh peneliti dan ilmuwan, namun di Wonosalam disederhanakan agar bisa dipelajari anak-anak.

“Anak-anak jadi tahu, kalau sungai tercemar berat, makhluk hidup tertentu tidak bisa bertahan. Dari situ mereka paham bahwa pencemaran itu nyata, bukan sekadar cerita,” kata Arum.

Dalam kegiatan ini, beberapa peserta aktif mencatat dan berdiskusi. Di antaranya adalah Zeema Aquila Tiya Huwaida, siswi kelas VII, dan Rizki Putri Dwi Artanti dari kelas VII-D.

Keduanya tampak antusias saat mengenali organisme air dan mencocokkannya dengan indikator kualitas sungai. “Awalnya aku kira sungai itu ya cuma air mengalir saja. Ternyata di dalamnya ada banyak makhluk hidup yang penting,” ujar Zeema.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sementara Rizki menambahkan, kegiatan di sungai membuatnya lebih memahami dampak sampah dan limbah rumah tangga. “Kalau sungai kotor, yang rugi bukan cuma ikan, tapi kita juga,” katanya.

Pendekatan belajar langsung di alam ini dinilai efektif untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. Anak-anak tidak hanya menerima teori, tetapi juga melihat langsung kondisi sungai yang menjadi sumber kehidupan warga sekitar.

Anak-anak Wonosalam membaca sungai lewat Biotilik Sungai Gogor—mengenali makhluk hidup air, memahami pencemaran, dan bertukar pengetahuan dengan fasilitator lokal serta warga Korea. Dari langkah kecil di tepi sungai, tumbuh kesadaran bahwa menjaga air adalah tanggung jawab bersama, dari lokal hingga global. | Foto: Polisi Air

#Pertukaran Pengetahuan Lintas Negara

Yang membuat kegiatan Biotilik di Sungai Gogor menjadi istimewa adalah keterlibatan Young, warga asal Korea Selatan, yang turut mengikuti dan mengamati proses pemantauan sungai. Young mengaku baru mengetahui kalau kegiatan tersebut melibatkan metode penelitian yang biasa digunakan ilmuwan.

“Saya baru tahu bahwa kegiatan ini dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan, tapi bisa diajarkan juga kepada anak-anak,” ujarnya.

Menurut Young, kondisi lingkungan di Korea Selatan memiliki kemiripan dengan Indonesia, terutama dalam hal pencemaran air. Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat di Korea terus berupaya meningkatkan kualitas air karena dampaknya sangat langsung terhadap kesehatan.

Ia juga menilai kegiatan Biotilik dan pendidikan lingkungan seperti di Wonosalam sebagai praktik baik yang patut dicontoh. “Ini adalah kegiatan yang sangat baik dan juga edukatif. Saya belajar banyak hari ini,” katanya.

Young menambahkan, pengalaman ini membuka wawasannya tentang pentingnya pendidikan lingkungan berbasis praktik. Ia sendiri bahkan berkeinginan untuk mencoba menerapkan model pendidikan serupa ketika kembali ke Korea.

“Ketika saya kembali ke Korea, saya ingin mencoba pendidikan seperti ini. Terima kasih, saya senang bisa memahami,” ucapnya.

Pertemuan lintas budaya ini menunjukkan, persoalan sungai dan air bersih adalah isu global. Meski konteks geografis berbeda, tantangan yang dihadapi relatif sama, yaitu pencemaran, tekanan aktivitas manusia, dan kebutuhan akan kolaborasi.

Bagi Nina, kehadiran peserta dari luar negeri memperkuat pesan, apa yang dilakukan anak-anak Wonosalam memiliki makna lebih luas. “Anak-anak jadi tahu bahwa menjaga sungai bukan hanya tugas lokal, tapi bagian dari tanggung jawab global,” katanya.

Kegiatan Biotilik Sungai Gogor menjadi contoh bahwa pendidikan lingkungan tidak harus rumit. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak mampu memahami konsep ilmiah, berani bersuara, dan tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli terhadap alam.

Di tengah tantangan krisis lingkungan, langkah kecil dari Wonosalam ini menunjukkan, jika perubahan bisa dimulai dari sungai, dari anak-anak, dan dari kemauan untuk belajar bersama.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *