Lewati ke konten

BRIN, Riset, dan Mimpi Nobel yang Masih Nyangkut di Administrasi

| 4 menit baca |Opini | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ruben Cornelius Siagian Editor: Supriyadi

Sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Tapi sampai hari ini, belum juga ada satu pun orang Indonesia yang bisa berdiri di Stockholm sambil pegang medali Nobel, senyum-senyum di depan wartawan, dan bilang: “Terima kasih, ini untuk ibu saya yang dulu nyuci tabung reaksi saya pakai Sunlight.”

Sementara itu, Jepang udah punya lebih dari 25 Nobel, Korea Selatan makin dekat, dan Amerika? Jangan ditanya. Tiap tahun kayaknya selalu ada orang sana yang bangun tidur, minum kopi, terus ting! jadi pemenang Nobel.

Kita? Ya masih sibuk bikin webinar bertema “Strategi Menuju Nobel 2045” dengan PowerPoint berisi 80 slide penuh logo kementerian.

#Negara yang Rajin Merdeka tapi Malas Meneliti

Mari jujur sebentar. Kita ini negara yang jago bikin slogan: “Bangkit, Tumbuh, dan Maju Bersama”, tapi pas giliran riset, kita malah rebahan bareng.

Dana R&D (riset dan pengembangan) kita bahkan belum nyentuh 0,3% dari PDB. Bandingkan dengan Korea Selatan yang bisa lebih dari 4%. Bayangin aja: kita riset pakai kalkulator, mereka pakai superkomputer.

Jadi jangan heran kalau banyak peneliti kita yang akhirnya kabur ke luar negeri. Mereka bukan nggak cinta Indonesia, tapi kalau di sini harus riset pakai mikroskop zaman Orde Baru dan honor cair tiga bulan sekali, siapa yang tahan?

Di luar negeri, mereka dapat akses laboratorium canggih, publikasi internasional, dan kopi gratis. Di sini? Kadang masih disuruh tanda tangan absen manual dan ikut apel pagi.

#BRIN: Antara Riset dan Rapat

Secara di atas kertas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tuh keren banget. Ada portal digital, e-layanan, manajemen talenta, sampai sertifikasi peneliti. Tapi di lapangan, banyak peneliti bilang, “Yang kita riset malah sistemnya, bukan sainsnya.”

BRIN punya struktur yang rapi, tapi terlalu sibuk mengatur talenta sampai lupa ngasih ruang buat mereka berkreasi. Banyak peneliti yang lebih sibuk ngisi laporan bulanan daripada ngulik eksperimen.

Kita ini kayak tim sepak bola yang punya seragam bagus, lapangan rumput sintetis, tapi bolanya nggak pernah disentuh.

Dan yang paling ironis, sistemnya masih percaya banget sama ijazah dan sertifikat. Padahal di luar sana, banyak peneliti hebat yang nggak sempat kuliah tinggi tapi ide-idenya luar biasa. Di sini, yang penting punya NIDN dan surat tugas. Kreativitas belakangan.

#Kita Cinta Ilmu, Tapi Cuma di Quotes Instagram

Masalah terbesar kita bukan kurang orang pintar. Banyak banget anak muda Indonesia yang jenius. Cuma, sistemnya nggak kasih mereka panggung.

Sekolah dan kampus kita masih sibuk ngajarin hafalan, bukan rasa ingin tahu. Ilmu pengetahuan itu kayak api — butuh bahan bakar, bukan sekadar tepuk tangan. Tapi kita masih sibuk bikin lomba pidato tentang pentingnya riset, bukan risetnya itu sendiri.

Dan tiap kali ngomong “sains”, kita selalu bilang: “Kita punya banyak potensi.”
Bro, kalimat itu udah dipakai sejak zaman Bung Karno. Potensi tanpa aksi itu cuma jadi bahan pidato pejabat di seminar nasional.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Nobel Itu Bukan Mimpi, Tapi Konsekuensi

Kita sering bilang, “Kapan ya Indonesia dapat Nobel?” Pertanyaan yang sebenarnya lebih pas: “Kapan Indonesia benar-benar serius soal riset dan pendidikan?”

Nobel itu bukan hadiah lotre. Itu konsekuensi logis dari sistem riset yang sehat, pendanaan yang cukup, dan budaya ilmiah yang hidup. Jepang nggak langsung punya 25 Nobel dalam semalam — mereka investasi riset sejak 1949.
Kita? Baru bikin lembaga riset terpadu, tapi sudah ribut soal jabatan dan anggaran.

Jadi kalau mau Nobel, jangan cuma nunggu dugaan mujizat akademik. Mulailah dari hal kecil: dana riset yang cukup, kurikulum yang mendorong nalar, penghargaan untuk peneliti, dan budaya yang menghormati ilmu pengetahuan — bukan cuma pejabat berjas.

#Nobel Bisa Datang, Kalau Kita Mau Serius

Indonesia itu kaya, sumber daya alam, budaya, otak-otak cerdas. Tapi kekayaan itu percuma kalau kita lebih sibuk bikin seremoni ketimbang eksperimen. Kita nggak kekurangan talenta. Kita kekurangan sistem yang mempercayai mereka.

Jadi, kalau suatu hari nanti ada orang Indonesia naik panggung Nobel, semoga bukan karena keberuntungan, tapi karena bangsa ini akhirnya sadar bahwa ilmu pengetahuan bukan cuma tugas dosen — tapi fondasi peradaban.

Dan kalau hari itu tiba, semoga pejabat-pejabat kita nggak malah bikin baliho bertuliskan:

“Selamat! Indonesia Akhirnya Dapat Nobel! Didukung Penuh oleh Kementerian Kami!”

Karena kalau itu yang terjadi, mungkin Alfred Nobel bakal ngelus dada dari alam sana.***

 

*) Artikel mengalami perubahan pada bentuk penulisan, pelafalan atau penyebutan dari yang dikirim penulis, tetapi makna dasarnya tidak mengalami perubahan, disesuaikan platform TitikTerang.

**) Ruben Cornelius Siagian, aktif menulis opini di media nasional dan lokal. Jejaknya berserak di Google ScholarScopus, sampai ResearchGate—bukti kalau dia lebih suka debat pakai data daripada drama.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *