Lewati ke konten

Cerita dari Kedai Lalie Djiwo, Prigen: Kesadaran Ekologis di Komplek Gunung Berapi

| 7 menit baca |Ekologis | 21 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Empat siswi SMA di Pandaan mendatangi pemutaran film Pesta Babi di Tretes. Tugas sekolah membawa mereka memahami ekologi, konflik lahan, dan kuasa.

Di lereng dingin Tretes, Prigen, Kabupaten Pasuruan, percakapan tentang hutan muncul dari mulut empat siswi SMA Negeri 1 Pandaan pada Rabu sore, 6 Mei 2026. Mereka duduk di bangku panjang Kedai Lalie Djiwo sambil sesekali membuka catatan dan telepon genggam.

Rasa penasaranku muncul ketika melihat mereka berbincang serius dengan Alfin Aminullah, pengelola kedai yang juga aktivis Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta). Setelah aku mendapat penjelasan dari Alfin, tentang empat siswa itu, percakapan pun berlanjut dengan wawancara kecil yang mengalir hangat dan menyenangkan.

Aku pun bercakap dengan empat siswi itu. Mereka datang tidak hanya karena tugas sekolah, aku rasa. Mereka membawa rasa ingin tahu tentang penolakan alih fungsi hutan di Tretes yang ramai dibicarakan di media sosial. Dari obrolan singkat, terlihat bagaimana anak-anak muda itu mulai memahami hubungan antara hutan, ekosistem, sumber air, sampai masa depan warga di sekitarnya.

Menarik mendengar penjelasan dari mereka. Menjadikan aku membuang prasangka selama ini, jika anak muda sekarang sudah tak ada yang peduli terhadap lingkungan. Ternyata masih juga ada yang peduli.

Meski dengan bahasa sederhana, mereka berbicara tentang rantai makanan, keseimbangan alam, dan pentingnya menjaga kawasan hutan dari ancaman pembangunan real estate oleh PT Stasionkota Sarana Permai (SSP). Percakapan itu memperlihatkan kepedulian lingkungan yang tumbuh alami dari para remaja.

Suasana Kedai Lalie Djiwo pun mulai berdatangan pengunjung pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Dibarengi aroma kopi bercampur pohon pinus, udara pegunungan yang lembap, menambah suasana setiap perbincangan menjadi pengalaman terbaru.

Di tengah suasana itu, Gurita Ayunin Rosyadi, Almira Fissilmi Kaffah, Cellinda Calysta, dan Yola Meidina Mecca terlihat sibuk menyusun pertanyaan. Empat siswi kelas XI jurusan ilmu sosial itu datang untuk mewawancarai Alfin Aminullah dan Priya Kusuma, dua aktivis yang selama ini menolak alih fungsi kawasan hutan seluas 22,5 hektare untuk proyek real estate.

Percakapan mereka terdengar santai. Tawa kecil kadang pecah. Tetapi pertanyaan yang muncul terasa serius untuk ukuran anak sekolah menengah.

Ketika perbincangan dengan dua narasumber itu selesai. Aku mendekati mereka dan mengajak ngobrol untuk keperluan wawancara. Pertanyaanku dijawab dengan cerita tentang tugas akhir mata pelajaran sosiologi.

Gurita Ayunin Rosyadi, yang minta disapa Reta mengatakan, salah satu temannya tinggal dekat kawasan Tretes ini. Dari sinilah isu penolakan pembangunan real estate mulai menarik perhatian mereka.

“Di TikTok juga muncul aksi penolakan itu,” kata Reta. “Jadi kami tertarik menggali tema ini.”

Gurita Ayunin Rosyadi dan Almira Fissilmi Kaffah mewawancarai Alfin Aminullah di Kedai Lalie Djiwo, Rabu (6/5/2026), menjelang pemutaran film dokumenter Pesta Babi. Wawancara ini menjadi bagian dari tugas sosiologi mereka untuk memahami konflik sosial dan dampak alih fungsi hutan terhadap ekosistem serta sumber air di kawasan Prigen. | Foto: Supriyadi

#Pelajaran Ekologi di Tengah Konflik

Almira Fissilmi Kaffah yang juga ikut menjelaskan mengatakan, alasan memilih isu alih fungsi untuk digunakan real estate sebagai bahan penelitian sekolah. Menurut dia, isu di Prigen ini memiliki kaitan langsung dengan persoalan sosial.

“Karena ini konflik sosial, sedangkan makalah kami temanya masalah sosial,” ujar Almira. “Kami ingin bikin tema yang beda dari teman-teman lainnya. Masalahnya lebih luas.”

Percakapan lalu bergerak ke pembahasan ekologi. Dengan bahasa sederhana khas pelajar SMA, mereka menjelaskan hubungan antara tumbuhan, hewan, manusia, dan lingkungan hidup.

“Semuanya ada take and give,” kata Yola. “Ada simbiosis mutualisme. Mereka saling menemukan semestanya, ” ucapnya.

Mereka menjelaskan konsep biotik dan abiotik seperti sedang presentasi di depan kelas, aku amati. Yang biotik disebut sebagai makhluk hidup yang bernapas, seperti manusia, tumbuhan, dan hewan. Sedangkan unsur abiotik menjadi bagian yang menjaga siklus alam tetap berjalan.

Alfin beberapa kali tersenyum mendengar penjelasan itu. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir.

“Kalau hewan menyerang manusia bagaimana?” tanyaku, mengajak berlogika tentang semesta ini.

“Jadi itu keseimbangan, Pak,” sahut Yola dan Cellind yang seolah ada janjian untuk menjawab.

Mereka kemudian menjelaskan tentang tiga peran utama dalam rantai makanan: produsen, konsumen, dan pengurai. Ketiganya dianggap harus tetap berjalan agar ekosistem tidak rusak.

“Kalau produsennya hilang, nanti semuanya ikut terganggu,” ucap Cellind. “Makanya hutan seperti ini penting untuk mencegah longsor, banjir, sama kekeringan.”

Di tengah penjelasan itu, terlihat bagaimana media sosial membawa isu lingkungan masuk ke ruang kelas sekolah menengah. Konflik yang awalnya hanya terdengar di lingkar aktivis berubah menjadi bahan diskusi generasi muda.

Empat siswi tersebut datang membawa tugas semester. Tetapi sore itu mereka seperti sedang mempelajari hubungan manusia dengan ruang hidupnya secara langsung.

Gurita Ayunin Rosyadi, Almira Fissilmi Kaffah, Cellinda Calysta, dan Yola Meidina Mecca mewawancarai Alfin Aminullah dan Priya Kusuma di Kedai Lalie Djiwo, Rabu (6/5/2026). Wawancara ini merupakan bagian dari tugas sosiologi mereka untuk memahami konflik sosial dan perjuangan warga dalam menolak alih fungsi hutan di kawasan Prigen yang dinilai penting sebagai penyangga sumber air dan ekosistem. | Foto: Supriyadi.

#Benteng Terakhir Sumber Air

Dalam kesempatan itu, aku juga mendengar penjelasan Alfin, kepada empat siswi itu, Alfin, yang dalam kesehariannya pengelola kedai, sekaligus aktivis Gema Duta menjelaskan, alasan penolakan warga terhadap proyek pembangunan real estate di kawasan tersebut.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Yang paling urgent sumber daya air,” kata Alfin. “Di situ ada aliran air untuk tiga sampai empat desa di Kecamatan Prigen.”

Menurut Alfin, kawasan hutan yang hendak dibangun menjadi benteng terakhir ekologi warga sekitar. Di lokasi itu terdapat flora dan fauna endemik yang ditemukan melalui riset komunitas aliansi penolak pembangunan.

“Banyak flora dan fauna endemik di sana,” tutur Alfin. “Kebetulan habitatnya ada di area rencana pembangunan.”

Kondisi geografis kawasan juga dianggap berbahaya apabila dialihfungsikan. Kontur tanah cukup tinggi dan berada dekat permukiman warga.

“Kalau ngomong dampak, konturnya lumayan tinggi dan sangat dekat dengan rumah penduduk,” ujarnya. “Perlu pengkajian mendalam.”

Reta terdengar melontarkan pertanyaan yang membuat wawancara itu menjadi lebih serius.

“Kalau dialihkan, dialihkan ke mana?” tanyanya. “Kalau izinnya sudah ada bagaimana?”

Alfin menarik napas panjang sebelum menjawab. Menurut dia, warga sadar bahwa kekuatan yang dihadapi tidak kecil.

“Di belakang pembangunan itu ada banyak power,” katanya. “Dari sudut pandang pengembang, pembangunan harus berhasil.”

Meski begitu, warga bersama jaringan aliansi tetap bertahan menolak proyek tersebut. Mereka mengaku sudah menyiapkan langkah jika pembangunan tetap dijalankan.

“Teman-teman aliansi dan masyarakat sudah punya strategi,” ucap Alfin. “Yang penting masyarakat di tiga sampai empat desa sudah melakukan pengkajian dan sosialisasi menyeluruh.”

Kalimat Alfin, aku dengari seperti penanda bahwa konflik lingkungan di komplek gunung berapi Arjuno-Welirang itu, belum akan selesai dalam waktu dekat.

Cici menyampaikan pandangannya dalam diskusi usai pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kedai Lalie Djiwo, Rabu (6/5/2026). Dalam forum tersebut, ia menyoroti kegelisahan generasi Z yang mulai mempertanyakan warisan ruang hidup, tanah, dan lingkungan yang akan mereka terima di masa depan. | Foto: Via Yanti, warga Prigen.

#Warisan Tanah untuk Generasi Mendatang

Malam pun datang ketika pemutaran film Pesta Babi dimulai. Kedai berubah menjadi ruang diskusi terbuka. Mahasiswa, warga, aktivis lingkungan, dan anak muda duduk di bangku yang tersedia menghadap layar putih.

Setelah film selesai, diskusi yang mengahadirkan naramsumber Amiruddin Muttaqin dan Prigi Arisandsi dari Ecoton, Priya Kusuma dan Hadi Sucipto dati Gema Duta, dan Izul Haq dari Walhi Jawa Timur itu, berlanjut hingga malam.

Pada puncak pada sesi diskusi. Ada peserta menarik perhatianku. Cici, ia mengaku namanya dari GusDurian Pasuruan.

Ia mengatakan, “Gambaran realitas kita hidup di negeri sendiri yang tidak Merdeka. Kita tidak bebas mengelola tanah atau berkehidupan di sana.”

Menurut dia, masyarakat desa perlahan kehilangan kesadaran ekologis karena sistem sosial dan ekonomi yang membuat warga bergantung pada investasi maupun bantuan pemerintah.

“Banyak orang rela menjual tanah hanya demi kebutuhan hidup,” tuturnya. “Padahal tanah itu bisa menjadi keberlangsungan hidup.”

Cici juga berbicara tentang generasi muda yang mulai kehilangan bayangan mengenai masa depan ruang hidup mereka sendiri. “Banyak Gen Z bingung diwarisi apa nanti,” katanya.

Ucapan Cici seperti menyambung percakapan empat siswi tadi sore. Mereka datang dari sekolah dengan rasa penasaran terhadap isu yang viral di TikTok. Mereka pulang setelah mendengar cerita tentang sumber air, flora endemik, ancaman longsor, sampai perebutan ruang hidup.

Di Kedai Lalie Djiwo malam itu, diskusi lingkungan tidak hanya lahir dari aktivis, mahasiswa atau komunitas lingkungan. Suara tentang hutan juga datang dari remaja perempuan berseragam putih abu-abu, saat di sekolah, yang sedang belajar memahami dunia di luar buku pelajaran.

Dari pertanyaan sederhana tentang ekosistem, mereka perlahan menyadari bahwa hutan bukan cuma kumpulan pohon di lereng pegunungan. Hutan menjadi penyangga air, rumah bagi makhluk hidup, sekaligus penentu masa depan orang-orang yang tinggal di bawahnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *