Lewati ke konten

Cilik Menggigit: Capung Terperangkap Hantu Tak Kasat Mata (Mikroplastik)

| 4 menit baca |Opini | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Intan Fatimah Az-zahrah Editor: Supriyadi

Capung, penjaga ekosistem, kini terperangkap mikroplastik tak kasat mata. Ancaman kecil berdampak besar: lingkungan rusak, penyakit mengintai, manusia menanggung akibat dari air udara setiap hari.

Bayangkan capung lincah yang biasanya melindungi manusia dengan memangsa jentik-jentik nyamuk, tiba-tiba bergerak lelet, mengalami stres, lalu mati perlahan karena musuh tak kasat mata: mikroplastik. Ini bukan cerita fiksi, melainkan temuan ilmiah terkini yang menegaskan satu hal—mikroplastik telah menyusup dan mengancam dunia hidup kita, bahkan dari makhluk sekecil capung.

#Definisi Mikroplastik

Mikroplastik berasal dari hal-hal sepele di sekitar kita: kantong kresek, botol sekali pakai, kemasan sachet, serat pakaian sintetis, ban kendaraan, hingga produk kosmetik. Benda-benda plastik tersebut terurai menjadi partikel sangat kecil berukuran kurang dari 5 mm yang nyaris tak kasat mata, namun berbahaya.

Mikroplastik dibedakan menjadi dua jenis, yakni mikroplastik primer (diproduksi dalam ukuran kecil seperti scrub wajah dan kosmetik) dan mikroplastik sekunder (berasal dari plastik berukuran besar yang terdegradasi akibat sinar UV, gelombang air, dan angin).

#Siklus Hidup Capung

Capung merupakan serangga unik yang hidup di dua alam: air dan udara. Capung betina meletakkan telur di permukaan perairan yang rindang dan kaya vegetasi. Telur tersebut menetas menjadi nimfa yang hidup di air selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Dalam fase nimfa, capung memangsa organisme air seperti jentik nyamuk dan zooplankton. Pada tahap inilah capung sering dijadikan bioindikator lingkungan, karena beberapa spesies hanya mampu hidup di perairan bersih, sementara jenis lain dapat bertahan di perairan tercemar. Menjelang dewasa, nimfa naik ke permukaan, mengalami pergantian kulit (molting), lalu berkembang menjadi capung dewasa yang terbang bebas di udara.

#Bagaimana Mikroplastik Masuk ke Capung?

Mikroplastik menyusup ke tubuh capung melalui air, makanan, dan udara. Saat nimfa hidup di perairan tercemar—seperti sungai, danau, atau tambak—mikroplastik tertelan bersama air atau masuk melalui mangsa yang telah terkontaminasi. Partikel-partikel ini dapat menempel pada insang atau masuk ke saluran pencernaan.

Yang mengkhawatirkan, mikroplastik tidak sepenuhnya keluar saat nimfa bermetamorfosis menjadi capung dewasa. Partikel tersebut tetap terakumulasi di jaringan tubuh, bahkan berpotensi masuk kembali melalui udara tercemar ketika capung terbang.

Siklus hidup capung. Ilustrasi AI

#Temuan Mikroplastik pada Capung

Sejumlah penelitian menemukan mikroplastik jenis serat (fiber), fragmen, dan foam di dalam tubuh capung. Penelitian Haque dkk. (2025) mencatat bahwa spesies Brachythemis contaminata mengandung hingga 38,5 ± 6,87 partikel mikroplastik per gram jaringan.

Sementara itu, Maneechan & Prommi (2022) menemukan 121 partikel mikroplastik pada Pantala flavescens, dengan rata-rata 1,34 ± 1,11 partikel per individu. Temuan ini menunjukkan bahwa nimfa capung kemungkinan salah mengira mikroplastik sebagai mangsa, serta terpapar dari air dan sedimen yang telah tercemar.

#Apa Penyebabnya?

Penyebab mikroplastik sangat dekat dengan aktivitas harian manusia. Satu kali pencucian pakaian sintetis dapat melepaskan hingga 500.000 serat mikroplastik. Sampah plastik yang dibuang sembarangan membutuhkan ratusan tahun untuk terurai. Limbah industri tekstil dan kertas, penggunaan scrub wajah dan pasta gigi, serta pembakaran sampah terbuka mempercepat penyebaran mikroplastik ke air dan udara.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pengelolaan sampah yang buruk memperparah situasi, mempercepat degradasi plastik menjadi partikel kecil yang berbahaya bagi seluruh ekosistem.

#Bagaimana Dampaknya?

Benarkah benda sekecil itu berdampak besar? Jawabannya: iya. Mikroplastik dapat memperlambat pertumbuhan nimfa capung, mengganggu hormon, dan menurunkan daya tahan tubuh. Capung dewasa menjadi lemah, sulit berburu, dan betina mengalami gangguan reproduksi.

Jika populasi capung menurun, jentik nyamuk berpotensi meledak. Artinya, ancaman penyakit seperti DBD dan malaria bisa meningkat. Lebih jauh lagi, mikroplastik berpindah dalam rantai makanan. Capung yang tercemar dimakan ikan atau burung, lalu berujung di meja makan manusia. Tanpa disadari, mikroplastik pun masuk ke tubuh kita.

#Apa yang Perlu Kita Lakukan?

Langkahnya sederhana namun krusial: kurangi plastik sekali pakai, gunakan tumbler dan tas belanja kain, hentikan pembakaran sampah terbuka, dan kelola sampah dengan benar. Dukung pembersihan sungai dan dorong pemerintah menerapkan regulasi ketat terhadap limbah industri.

Capung kecil ini memberi peringatan keras—mikroplastik bukan hanya masalah laut, tetapi juga udara, air tawar, dan kesehatan manusia. Saatnya bertindak sebelum “hantu tak kasat mata” ini semakin ganas dan merusak kehidupan kita bersama.***

Intan Fatimah Az-zahrahmahasiswa Biologi, Angkatan 2023, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan merupakan bagian dari salah satu komunitas @zero.micro_. Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *