SETIAP hari, 70 ribu orang di dunia terpaksa meninggalkan rumahnya karena cuaca yang semakin gila. Dari banjir di Brasil sampai panas ekstrem di Chad, bumi seolah menagih utang pada manusia dengan cara paling tragis.
UNHCR mencatat 250 juta orang jadi pengungsi akibat bencana iklim dalam satu dekade terakhir. Ironisnya, negara-negara yang paling menderita justru menyumbang emisi paling sedikit. Dunia memanas, tapi pendanaan untuk bertahan malah beku.
#Dunia yang Kehilangan Rumah dan Harapan
Bayangkan setiap hari, 70.000 orang harus meninggalkan rumahnya. Bukan karena ingin pindah, tapi karena air laut menelan desa mereka, atau karena tanah mereka retak jadi gurun. Laporan terbaru UNHCR, No Escape II: The Way Forward, menunjukkan betapa bencana iklim telah menjadi mesin pengusir manusia paling kejam abad ini—memaksa 250 juta orang mengungsi hanya dalam 10 tahun terakhir.
Pada pertengahan 2025 saja, ada 117 juta orang terpaksa lari dari perang, kekerasan, dan penganiayaan. Di banyak tempat, pelarian itu kini juga ditemani oleh badai, kekeringan, dan suhu yang bikin termometer menyerah. PBB menyebut krisis iklim sebagai “pengganda risiko”—bukan cuma memperparah konflik, tapi juga membuka luka lama ketimpangan sosial yang sudah menganga.
Negara-negara yang tadinya jadi tempat berlindung, kini ikut tenggelam. Lihat saja Brasil pada Mei 2024. Banjir di negara bagian Rio Grande do Sul menewaskan 181 orang, menenggelamkan kota, dan membuat 580 ribu orang kehilangan rumah. Ironisnya, di antara korban itu ada 43 ribu pengungsi dari Venezuela, Haiti, dan Kuba—orang-orang yang sebelumnya melarikan diri dari krisis, hanya untuk disambut oleh krisis baru.
#Ketika Dunia Tertimpa Langit
Perubahan iklim bukan lagi soal grafik dan konferensi. Ia kini hadir di wajah-wajah lelah pengungsi Rohingya di Myanmar, yang rumahnya porak-poranda dihantam Topan Mocha. “Gubuk adalah tempat berlindung kami. Perahu dan jaring memungkinkan kami menangkap ikan. Sangat menyakitkan bagi saya untuk kehilangan segalanya,” kata Ma Phyu Ma, 37 tahun, kepada peneliti PBB.
Di Chad, Afrika Tengah, lebih dari 1,4 juta pengungsi sudah hidup dalam kondisi genting. Tahun lalu saja, banjir membuat 1,3 juta orang di sana kehilangan tempat tinggal—lebih banyak dari gabungan 15 tahun sebelumnya. Di kamp-kamp pengungsi Sudan, air bersih bahkan cuma 10 liter per orang per hari, jauh di bawah standar darurat.
Tiga perempat pengungsi dunia kini tinggal di negara-negara yang rentan terhadap bahaya iklim. Di banyak tempat, mereka harus mengungsi dua kali, tiga kali, bahkan berkali-kali. Bayangkan hidup seperti itu: setiap kali membangun gubuk baru, badai berikutnya datang untuk merobohkannya lagi.
| Kategori / Peristiwa | Angka / Data | Keterangan / Konteks |
|---|---|---|
| Total pengungsi akibat iklim (2015–2025) | 250 juta orang | Jumlah total orang yang terpaksa mengungsi akibat bencana iklim selama satu dekade terakhir. |
| Rata-rata pengungsi per hari | 70.000 orang | Setiap hari, 70 ribu orang di seluruh dunia kehilangan rumah karena bencana terkait iklim. |
| Pengungsi akibat perang & kekerasan (pertengahan 2025) | 117 juta orang | Catatan UNHCR tentang orang yang mengungsi karena perang, penganiayaan, dan kekerasan. |
| Negara yang melaporkan pengungsian akibat konflik & bencana | 3× lipat dibanding 2009 | Peningkatan jumlah negara yang melaporkan pengungsian iklim sejak 2009. |
| Pendanaan iklim untuk negara rentan | ¼ (25%) dari kebutuhan | Negara-negara rentan hanya menerima seperempat dari total dana iklim yang mereka butuhkan. |
| Banjir di Rio Grande do Sul, Brasil (2024) | 181 orang tewas | Dampak banjir ekstrem di Brasil pada Mei 2024. |
| Pengungsi akibat banjir di Brasil | 580.000 orang | Termasuk penduduk lokal dan pengungsi dari negara lain. |
| Pengungsi terdampak (Venezuela, Haiti, Kuba) | 43.000 orang | Tinggal di wilayah yang paling parah terkena banjir di Brasil. |
| Topan Mocha, Myanmar (2023) | 160.000 etnis Rohingya terdampak | Tinggal di kamp sejak 2012, kehilangan tempat tinggal akibat badai. |
| Keadaan darurat UNHCR akibat cuaca ekstrem (2024) | ⅓ dari total | Sepertiga situasi darurat UNHCR disebabkan oleh banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan. |
| Pengungsi di negara berisiko iklim tinggi | ¾ (75%) | Tinggal di negara yang menghadapi bahaya iklim tinggi atau ekstrem. |
| Pengungsi di Chad (2024) | 1,4 juta orang | Total pengungsi dan pencari suaka di Chad. |
| Warga Chad mengungsi akibat banjir (2024) | 1,3 juta orang | Lebih banyak dari gabungan 15 tahun sebelumnya. |
| Konsumsi air pengungsi Sudan | <10 liter per hari | Jauh di bawah standar darurat minimum PBB. |
| Prediksi kondisi kamp pengungsi pada 2050 | 200 hari panas ekstrem per tahun | Risiko kesehatan dan kelangsungan hidup meningkat drastis. |
Namun, ada ironi besar di sini. Negara-negara seperti Sudan, Suriah, Haiti, dan Myanmar—yang hampir tak berkontribusi terhadap emisi global—justru jadi korban paling parah. Dunia kaya yang menyebabkan krisis iklim malah sibuk berdebat soal kuota emisi, sementara dunia miskin harus berenang menyelamatkan diri.
#COP30: Harapan di Tengah Krisis yang Semakin Panas
UNHCR mengingatkan, tanpa tindakan nyata, situasi ini bakal jadi mimpi buruk permanen. Pada 2050 nanti, kamp-kamp pengungsi di kawasan panas bisa menghadapi suhu ekstrem selama hampir 200 hari per tahun. Bayangkan hidup di tenda plastik di bawah terik 50 derajat, sambil kekurangan air dan makanan.
Filippo Grandi, Komisaris Tinggi UNHCR, menegaskan: dunia tidak bisa terus pura-pura buta. “Jika kita menginginkan stabilitas, kita harus berinvestasi di tempat-tempat yang paling berisiko. Untuk mencegah pengungsian lebih lanjut, pendanaan iklim harus menjangkau masyarakat yang sudah hidup dalam bahaya,” katanya.
Namun faktanya, negara-negara yang menampung pengungsi hanya menerima seperempat dari dana iklim yang mereka butuhkan. Pendanaan tersendat, janji-janji kering, dan negosiasi yang penuh jargon hijau tapi minim aksi. COP30 di Brasil nanti seharusnya jadi momentum besar. Tapi kalau lagi-lagi hanya diisi pidato manis dan foto bersama, maka 70 ribu orang lagi akan terus mengungsi setiap hari—dan bumi akan tetap panas, sementara nurani kita membeku.
Grandi menutup laporannya dengan kalimat yang seharusnya menggema di ruang konferensi COP30: “Mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja. COP30 tahun ini harus melakukan tindakan nyata, bukan janji kosong.”
Dunia mungkin sudah terbakar. Tapi masih ada waktu untuk memadamkannya—asal kali ini, kita benar-benar menyalakan aksi, bukan sekadar mikrofon.***