Lewati ke konten

Dari Langit Turun Plastik: Warga Kota Malang dan ECOTON Bongkar Pencemaran Mikroplastik di Air Hujan

| 5 menit baca |Ekologis | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

DULU, hujan dianggap berkah. Kini, bisa jadi hujan yang turun di Kota Malang membawa partikel plastik dari langit. ECOTON dan warga membuktikan, air hujan tak lagi murni, tapi mengandung jejak pembakaran sampah dan gaya hidup plastik kita sendiri.

Kita bayangkan, air hujan yang kamu tampung buat siram tanaman, ternyata berisi serat plastik mikroskopis. Dari mana datangnya? ECOTON bersama warga Kota Malang mencoba menjawabnya lewat penelitian partisipatif yang hasilnya bikin siapa pun penggemar hujan, mendadak ingin pakai payung gas mask.

#Warga Jadi Peneliti, Hujan Jadi Bukti

Awalnya sederhana, posting ajakan di Instagram ECOTON. “Yuk, bantu teliti mikroplastik di air hujan,” tulis mereka. Tak disangka, lima warga dari empat kecamatan di Kota Malang menanggapi. Mereka bukan ilmuwan, tapi warga biasa yang ingin tahu, sebersih apa air hujan yang turun di atap rumah mereka?

Dengan panci, kaleng, atau mangkok baja antikarat, mereka menampung satu liter air hujan di tempat terbuka, tinggi minimal 1,5 meter dari tanah. Syaratnya: jangan dekat pohon, jangan pakai wadah plastik. Hasilnya, air hujan itu dikirim ke booth ECOTON di Malang Creative Center (MCC) lantai 5 untuk diperiksa menggunakan mikroskop stereo. Dari situlah, rahasia kecil di balik butiran hujan terbuka.

Dua anak tampak antusias mengamati tampilan partikel mikroplastik di layar mikroskop digital pada booth penelitian ECOTON di Malang Creative Center (MCC). Aktivitas ini mengenalkan warga, termasuk generasi muda, pada ancaman plastik mikro yang kini mencemari air hujan kota mereka. | Foto: Ecoton

Alaika Rahmatullah, peneliti ECOTON, mengungkap, “Semua sampel dari lima lokasi positif mengandung mikroplastik. Artinya, udara dan hujan kita sudah tidak lagi steril dari jejak plastik. Bahkan ketika kita merasa ‘bersih’ saat hujan turun, sebenarnya yang jatuh dari langit bisa jadi partikel plastik.”

Lokasinya tersebar di Sudimoro, Gadang, Merjosari, Blimbing, dan Singosari. Jumlah partikel tertinggi ditemukan di Blimbing, mencapai 98 partikel plastik per liter air hujan. “Yang bikin kaget, partikel-partikel itu ukurannya sangat kecil, tapi jumlahnya signifikan. Bisa dibilang, langit Kota Malang pun kini punya residu plastiknya sendiri,” tambah Alex, sapaan Alaika Rahmatullah.

#Plastik dari Asap, Turun Kembali Jadi Hujan

Menurut Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON, mikroplastik di udara tak muncul begitu saja. Ia lahir dari kebiasaan lama yang kita anggap sepele, membakar sampah plastik.

“Saat sampah dibakar, partikel plastik mikroskopis ikut terlepas ke udara bersama asap,” jelasnya. Partikel itu naik ke atmosfer, mengembun, lalu jatuh kembali bersama hujan. Inilah fenomena wet deposition, siklus plastik atmosferik yang baru disadari manusia modern.

Dari hasil analisis, sumber terbesar mikroplastik di air hujan Malang berasal dari pembakaran sampah plastik, mencapai 55%. Disusul transportasi (33,3%) akibat abrasi ban dan aspal, rumah tangga 27,7% dari cucian baju sintetis, serta limbah kemasan plastik yang tak terkelola sebesar 22%. Fiber plastik, hasil sobekan halus dari bahan sintetis, mendominasi lebih dari 80% partikel.

Dengan kata lain, polusi plastik tak lagi cuma ada di sungai dan laut. Ia kini terbang, menempel di udara yang kita hirup, lalu jatuh bersama hujan di halaman rumah. Kalau dulu langit menurunkan berkah, kini ia menurunkan sisa gaya hidup manusia modern yang gemar membakar dan membungkus segalanya dengan plastik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Seorang warga Kota Malang mengamati botol berisi sampel air hujan hasil penelitian ECOTON di booth pameran Malang Creative Center (MCC). Dari tampungan sederhana inilah terungkap jejak mikroplastik yang kini bahkan turun bersama hujan di Kota Malang. | Foto: Ecoton

#Ancaman dari Langit: Plastik Mikro, Masalah Makro

Temuan ECOTON ini bukan kasus lokal. Dunia sudah lebih dulu panik. Studi di Science of the Total Environment (2022) dan Environmental Pollution (2023) menunjukkan bahwa mikroplastik di udara bisa membawa logam berat seperti timbal dan kadmium, juga bahan kimia beracun seperti BPA dan phthalates. Efeknya bukan main: peradangan paru-paru, stres oksidatif, gangguan hormon, bahkan potensi kanker.

Kondisi ini menggambarkan satu hal: polusi plastik sudah menembus batas alam. Tak cukup mencemari sungai dan laut, ia kini melayang di udara, menyelinap ke paru-paru dan air hujan. Setiap tetes hujan membawa partikel sintetis yang tak kasatmata namun mampu mengubah ekosistem dan tubuh manusia secara perlahan.

Alaika Rahmatullah menyebut fenomena ini “siklus plastik atmosferik”. Plastik yang dibakar naik ke udara, mengalami kondensasi, lalu turun lagi ke bumi. Hasilnya: plastik yang dulunya dianggap sampah padat, kini berubah jadi kabut halus yang menyusup ke udara, hujan, tanah, dan air minum kita. “Partikel mikroplastik yang turun bersama air hujan bukan hanya mencemari lingkungan, tapi membuka jalur paparan baru bagi manusia,” ujarnya.

#Dari Penemuan ke Tuntutan: Jangan Biarkan Langit Kita Beracun

Dari penelitian ini, ECOTON tak hanya berhenti di laboratorium. Mereka membawa hasilnya jadi tuntutan konkret ke pemerintah daerah.

  1. Pertama, melarang total pembakaran terbuka sampah plastik di permukiman. Kedua, memperkuat pembatasan plastik sekali pakai, karena fiber dan film plastik adalah dua jenis mikroplastik paling dominan dalam air hujan.
  2. Ketiga, ECOTON menyerukan agar penelitian mikroplastik dilakukan rutin dan melibatkan warga. Pendekatan citizen science—di mana masyarakat dilibatkan langsung dalam pengumpulan data—terbukti efektif membangun kesadaran. Warga yang ikut meneliti kini bukan hanya tahu, tapi juga peduli, karena mereka melihat bukti sendiri di air hujan rumahnya.
  3. ECOTON menuntut agar isu mikroplastik masuk ke kebijakan kesehatan publik. Mikroplastik bukan cuma masalah lingkungan, tapi juga ancaman medis. Pemerintah didesak memasukkan parameter mikroplastik dalam kajian risiko kesehatan lingkungan (EHRA) dan pengujian kualitas air minum.

Karena jika polusi plastik sudah bisa turun dari langit, maka masalahnya tak lagi “di luar sana.” Ia ada di udara yang kita hirup, di air yang kita tampung, bahkan di tubuh yang kita jaga. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika hujan turun, kita akan bertanya:
ini air, atau residu plastik yang kembali pulang? ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *