BIASANYA anak 12 tahun sibuk ngerjain PR, main TikTok, atau rebutan remote TV sama adik. Tapi buat Aeshnina Azzahra Aqilani, atau Nina begitu ia disapa, masa kecilnya diisi dengan sesuatu yang jauh lebih “bau.” Bukan bau gosip, tapi bau sampah plastik impor dari negara-negara kaya.
Awalnya, Nina cuma ikut ayahnya, seorang aktivis lingkungan dari Ecoton, keliling kampung di wilayah Gresik, Surabaya, Lamongan, Mojokerto, dan Jombang. Tapi yang mereka temukan bikin dahi berkerut, tumpukan limbah plastik asing berserakan di sekitar sungai. Banyak di antaranya bukan dari Indonesia. Ada tulisan “Made in USA”, “Germany”, bahkan “Canada”.
Limbah-limbah itu dikirim ke Indonesia dengan label palsu. Katanya “kertas daur ulang”, padahal isinya plastik yang nggak bisa didaur ulang. Bahasa kasarnya, negara maju kirim PR ke negara berkembang, biar rumahnya sendiri tetap kelihatan bersih.
Nina kecil nggak terima. Bayangin aja, di saat dia belajar tentang daur ulang di sekolah, negaranya malah jadi tempat buang sampah orang lain. Dari situ, dia nulis surat, bukan ke teman pena, tapi ke Donald Trump, Presiden Amerika Serikat ke-45, waktu itu. Dan ingat, Nina masih kelas 6 SD!
Dalam suratnya, Nina menulis dengan jujur, ekspor sampah plastik itu nggak adil. Negara kaya hidup bersih, tapi negara miskin yang harus ngurusin sisa-sisanya. Surat itu viral, masuk berita internasional, dan bikin banyak orang sadar kalau “kolonialisme” ternyata nggak selalu datang lewat senjata, kadang lewat kantong plastik bekas.
#Dari Gresik ke Dunia: Suara Kecil yang Menggema
Setelah suratnya viral, dunia mulai mengenal nama Aeshnina Azzahra Aqilani. Gadis asal Gresik ini diundang ke berbagai forum internasional. Tahun 2021, dia jadi pembicara di Plastic Health Summit di Belanda dan COP26 UNFCCC di Glasgow. Dua panggung yang biasanya diisi oleh politisi dan ilmuwan senior.
Nina, dengan percaya diri, berdiri di depan orang-orang penting dari berbagai negara dan bilang. “Berhentilah mengirimkan sampah kalian ke negara kami. Kami bukan tempat pembuangan dunia.”
Kalimatnya sederhana, tapi dampaknya luar biasa, tajam dan pedas. Sehingga banyak media internasional menulis kisah Nina. Bahkan, aktivisme Nina ikut mendorong European Green Deal, kebijakan Uni Eropa yang melarang ekspor limbah plastik ke luar Eropa mulai tahun 2027.
Nggak cuma sampai situ, Nina juga pernah bertemu dengan Angela Merkel (mantan Kanselir Jerman) dan Scott Morrison (mantan PM Australia). Dua-duanya dia hadapi tanpa takut. Katanya, kalau generasi muda diam, siapa lagi yang bakal bersuara buat bumi?

#River Warriors: Pasukan Sungai dari Jawa Timur
Nina nggak berhenti di panggung internasional. Tahun 2022, ia mendirikan River Warriors, sebuah gerakan lokal yang fokus membersihkan sungai dan mengedukasi masyarakat soal bahaya mikroplastik di Jawa Timur.
Dalam wawancaranya dengan SIEJ (Society of Indonesian Environmental Journalists), Nina berkata dengan nada tegas tapi tenang:
“Saya memahami bahwa isu lingkungan penting dan harus cepat diselesaikan. Kalau lingkungan tetap dibiarkan tercemar, maka kondisinya akan bertambah parah. Saya harus ikut melakukan sesuatu untuk membuat perubahan karena saya bagian dari generasi muda yang akan merasakan dampaknya di masa depan.”
Kalau kamu pikir bersihin sungai itu cuma urusan nyebur dan angkat sampah, kamu keliru besar. River Warriors punya pendekatan yang jauh lebih keren. Mereka bikin kampanye kesadaran publik, menggelar workshop daur ulang, sampai melakukan riset kecil soal mikroplastik di sungai-sungai. Mereka juga rutin kolaborasi dengan sekolah dan komunitas lokal biar edukasi lingkungan nggak berhenti di ruang kelas.
Bagi Nina, sungai bukan sekadar aliran air yang lewat di belakang rumah. Sungai adalah nadi kehidupan. Kalau nadinya kotor, tubuh bumi ikut sakit. Ia sering bilang,
“Kalau kita mau melawan plastik, kita mulai dari sungai, karena di sanalah semua sampah berakhir.”
Setahun kemudian, pada 2023, Nina meluncurkan program sekolah lingkungan dan museum anak-anak tentang limbah plastik. Di sana, pengunjung bisa lihat langsung bagaimana plastik berubah jadi mikroplastik, lalu tanpa sadar masuk ke tubuh manusia lewat ikan dan air yang kita konsumsi. Serem? Iya. Tapi cara ini efektif banget buat bikin anak-anak (dan orang dewasa) melek soal bahaya plastik.
#Dari “Girls for Future” ke Mimpi Jadi Pengacara Lingkungan
Perjalanan Nina nggak cuma berhenti di berita atau panggung-panggung aktivis. Namanya juga tercatat sebagai salah satu tokoh utama dalam film dokumenter internasional berjudul “Girls for Future.”
Film ini mengisahkan bahwa krisis iklim itu nyata dan sedang terjadi sekarang. “Girls for Future” adalah film inspiratif tentang empat aktivis muda berusia 11 hingga 14 tahun dari Indonesia, Senegal, India, dan Australia. Mereka mewakili suara generasi baru yang langsung merasakan dampak krisis iklim dan kerusakan lingkungan di depan mata.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Keempat gadis ini memperlihatkan keberanian dan keteguhan hati yang luar biasa dalam menghadapi tantangan global. Dari banjir, polusi, sampai tumpukan plastik, mereka nggak cuma mengeluh—mereka bergerak. Dan salah satunya adalah Aeshnina Azzahra Aqilani, gadis Lamongan yang menolak negaranya dijadikan tempat sampah dunia.
Bagi Nina, aktivisme bukan sekadar aksi bersih-bersih sungai atau orasi di konferensi internasional. Ia ingin perubahan sistemik.
Makanya, Nina punya cita-cita jadi pengacara lingkungan. Katanya, hukum bisa jadi alat penting untuk melindungi alam dan menuntut keadilan bagi mereka yang sering dilupakan, termasuk sungai dan laut yang terus tercemar.
Karena, ya, perjuangan lingkungan itu bukan cuma soal slogan “say no to plastic”, tapi juga soal keadilan global. Negara-negara kaya nggak bisa terus hidup nyaman dengan cara menindas lingkungan negara lain.
Dan lihatlah, dari sebuah desa kecil di Gresik, Jawa Timur, Nina berhasil membuat dunia mendengar suara anak muda Indonesia, suara yang jernih, keras, dan nggak takut menuntut perubahan.

#“Pulihkan Sungai Kami, Akhiri Era Plastik!”
Sekarang, di usia 17 tahun, Nina masih aktif berkampanye lewat media sosial, forum publik, dan aksi langsung. Pesannya sederhana tapi kuat, “Hentikan ekspor limbah plastik ke negara berkembang. Pulihkan sungai kami dan akhiri era plastik.”
Kalimat itu sering ia ulang di berbagai kesempatan. Tapi setiap kali ia ucapkan, selalu terasa segar, seperti teriakan kecil yang melawan kebiasaan besar.
Karena buat Nina, melawan plastik bukan cuma soal menjaga lingkungan, tapi juga soal harga diri bangsa. Indonesia bukan tong sampah dunia.
Anak-anak muda seumurannya mungkin masih bingung mau jadi apa, tapi Nina sudah tahu: dia mau jadi suara buat sungai, bumi, dan masa depan.
Di tangannya, gerakan hijau bukan sekadar gaya hidup eco-friendly, tapi bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan global.
Dan kalau kamu pikir satu anak nggak bisa mengubah dunia, mungkin kamu belum kenal Nina dari Gresik.

#Aktivisme Bukan Tentang Umur
Perjalanan Nina mengingatkan kita bahwa aktivisme bukan soal umur, tapi soal kepedulian. Di usianya saat ini, ia sedang menempuh studi di Unair Surabaya Hubungan Internasional. Ia sudah membuktikan bahwa suara anak muda bisa mengguncang panggung global.
Nina tercatat sebagai finalis International Children’s Peace Prize 2025, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada anak-anak di seluruh dunia yang berjuang demi perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan.
Marc Dullaert, Pendiri sekaligus Ketua KidsRights Foundation, berkata, “International Children’s Peace Prize 2025 adalah bukti atas keberanian, tekad, dan visi para penggerak muda yang membentuk dunia yang lebih adil dan setara. Tahun ini, para finalis, Nina, Bana, dan Divyansh, telah menghadapi tantangan luar biasa, memperjuangkan keadilan lingkungan, hak anak-anak terdampak perang, dan aksi iklim. Karya mereka mencerminkan semangat sejati dari penghargaan ini dan menginspirasi kita semua untuk ikut menegakkan hak-hak anak.”
Lewat perjuangannya, Nina membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan dari tangan seorang gadis remaja yang menulis surat untuk menyelamatkan bumi. ***