Lewati ke konten

Dari Trashboom ke Media Sosial: Cara Kader Surabaya Senjatai HP Demi Kelestarian Kali Tebu

| 5 menit baca |Kali Tebu | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Pelatihan digital di basiscamp MOZAIK Kenjeran Surabaya pada 25 Oktober 2026 membekali Kader Surabaya Hebat dan Satgas Sungai Lestari agar mampu mendokumentasikan aksi pelestarian lingkungan secara profesional dan menarik.
  • Dipandu fotografer M. Iffan, para peserta mempelajari teknik dasar visual seperti garis grid, leading lines, hingga sudut pandang kamera sebelum langsung mempraktikkannya di dua titik krusial bantaran Kali Tebu.
  • Antusiasme tinggi dirasakan peserta seperti Rohim dan Yuli yang bersemangat mempraktikkan langsung teknik pengambilan video baru untuk mendokumentasikan budidaya lele serta pemanfaatan lahan sempit di sekitar lokasi kegiatan.
  • Pegiat gaya hidup zero waste Kak Apiki mendobrak stigma bahwa konten memerlukan alat mewah, mencontohkan ide kreatif sederhana dari perlengkapan makan prasmanan guna ulang di acara tersebut.
  • Kak Apiki membagikan formula praktis pembuatan konten mulai dari perumusan hook, penyusunan naskah, teknik editing CapCut, hingga pesan bahwa viralitas bukanlah tujuan akhir utama seorang kreator pemula.

Penulis: Erica Damayanti, Media Communication ECOTON. Artikel ini ditulis sebagai bagian dari Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang digagas Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Didukung UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, Clean Rivers, dan Emirates Foundation, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di kawasan Kali Tebu, Surabaya.

SUASANA ruang kelas pelatihan di basiscamp MOZAIK, Jalan Platuk Dono Mulyo, Kenjeran, Surabaya, mendadak dinamis pada Minggu, 25 Oktober 2026. Dipandu fotografer M. Iffan, para peserta diajak membedah teknik dokumentasi yang selama ini kerap diabaikan.

Diikuti ibu-ibu Kader Surabaya Hebat (KSH) bersama Satgas Sungai Lestari, gerakan pelestarian Kali Tebu kini melangkah jauh melampaui evakuasi sampah, pemilahan, dan brand audit. Mereka kini membekali diri meracik aksi nyata menjadi karya digital yang memikat.

BACA JUGA:  Lima Stasiun AQMN Surabaya Pantau Kualitas Udara, Mahasiswa ITS Ungkap Mekanisme ISPU

Mulai dari garis grid, leading lines, pengaturan sudut pandang, hingga pergerakan kamera dasar dijabarkan secara aplikatif, santai, dan mudah dicerna. Usai sesi teori singkat, para peserta langsung diterjunkan ke lapangan. Terbagi dalam tiga kelompok, mereka menyisir dua titik krusial di Surabaya:

  • Trashboom Hulu Kampung Mozaik di Simokerto.
  • Trashboom Tengah di Bank Sampah MARKISA, Tanah Merah Utara.

“Kita hidup di era digitalisasi, di mana semua kalangan sudah tidak bisa lepas dari smartphone. Semua hal kini disosmedkan,” ujar Iffan dalam rilis yang dikutip Senin (25/10/2026).

Iffan menegaskan, langkah ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Dokumentasi visual adalah jembatan vital, agar kerja keras relawan di bantaran sungai mampu menjangkau kesadaran publik secara lebih luas.

“Yang perlu kita sadari adalah mengajak masyarakat membangun kesadaran agar tidak membuang sampah dan limbah ke sungai. Itu paling penting,” tegas Iffan.

Widia Anggia Vicky atau Kak Apiki menyampaikan materi pembuatan konten edukasi lingkungan dalam pelatihan pengelolaan media sosial bagi Kader Surabaya Hebat dan Satgas Sungai Lestari di Surabaya. | Foto: M. Zidan Abdillah

Iffan menegaskan, langkah ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Dokumentasi visual adalah jembatan vital, agar kerja keras relawan di bantaran sungai mampu menjangkau kesadaran publik secara lebih luas.

Praktik Langsung di Lapangan

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Rohim (50), anggota Satgas Sungai Lestari dari Kapas Madya Baru, menikmati setiap proses pengambilan video yang dipelajari.

Hal senada dirasakan Yuli, perwakilan KSH Simokerto. Ia langsung mempraktikkan teknik baru saat mendokumentasikan budidaya lele dan pemanfaatan lahan sempit di sekitar lokasi kegiatan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Kita diajak ambil gambar pas kasih makan lele, cara manfaatkan lahan sempit, sampai cara siapin alatnya. Kita masih pemula, jadi perlu banyak belajar,” ungkap Yuli penuh semangat.

BACA JUGA:  Realitas Miris Kali Tebu Surabaya: Dari Saset hingga Sofa di Mata Mahasiswa Unesa
Anggota Satgas Kali Tebu, Edi, mempraktikkan teknik pengambilan gambar menggunakan telepon pintar dalam pelatihan pembuatan konten edukasi lingkungan bagi Kader Surabaya Hebat dan Satgas Sungai Lestari. | Foto: M. Zidan Abdillah

Kak Apiki menunjukkan bahwa ide-ide kreatif berserakan di sekitar kita. Ia mencontohkan pemandangan sederhana di lokasi acara, di mana makan siang disajikan secara prasmanan menggunakan piring dan gelas guna ulang.

Mendobrak Stigma: “Viral Bukan Tujuan Akhir”

Sesi paling dinanti hadir dari Widia Anggia Vicky, atau yang akrab disapa Kak Apiki. Pegiat gaya hidup zero waste ini langsung mematahkan anggapan bahwa pembuatan konten menuntut peralatan mewah atau persiapan rumit.

Kak Apiki menunjukkan bahwa ide-ide kreatif berserakan di sekitar kita. Ia mencontohkan pemandangan sederhana di lokasi acara, di mana makan siang disajikan secara prasmanan menggunakan piring dan gelas guna ulang.

“Dari pemandangan sesederhana ini saja, aku sudah kepikiran untuk membuat konten edukasi pengurangan sampah plastik,” ujarnya.

Untuk membekali kader pemula, Kak Apiki memaparkan formula praktis pembuatan konten dari nol:

  1. Perumusan HOOK: Memasang daya tarik di detik-detik awal berupa pertanyaan unik atau fakta mengejutkan guna menghentikan scrolling.
  2. Alur Kerja Sistematis: Menyusun checklist ide, merangkai naskah ringkas, menguasai teknik editing dasar via aplikasi CapCut, hingga menyusun caption yang relevan.

Menutup sesinya, Kak Apiki menitipkan pesan penenang bagi para kreator pemula bahwa angka penonton dan viralitas bukanlah ukuran utama keberhasilan misi lingkungan.

“Tidak masalah jika penontonnya belum ribuan. Jadikan sedekah kalau konten yang kita buat belum viral. Jadikan itu bukti nyata yang perlahan akan menginspirasi dan mengedukasi masyarakat luas,” pungkasnya. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *