Perjalanan menyusuri hilir Bengawan Solo membuka kegelisahan: antara ambisi kota industri, jeritan nelayan, dan harapan pemuda menjaga Ujung Pangkah, warisan ekologis terakhir Gresik hari ini.
Seminggu setelah menutup halaman terakhir buku Reset Indonesia karya Farid Gaban dan Dandhy Laksono, ada kegelisahan yang tak kunjung padam di kepalaku. Kisah ekspedisi mereka terasa seperti cermin yang memantulkan satu pertanyaan, seberapa jauh aku benar-benar mengenal kota kelahiran sendiri?
Berbekal semangat yang sama, aku kumpulkan lima orang kawan yang rumahnya berdiri tepat di bibir aliran Bengawalan Solo, yang berada di Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur.
Dari bibir sungai legendaris itu, kami melakukan perjalanan kecil ke arah utara, menyusuri jejak “Sungai Nusantara” versi kami sendiri.
Tujuan kami satu, di Ujung Pangkah ini kami ingin membuktikan, Gresik bukan semata soal pabrik semen dan cerobong asap, tetapi juga tentang muara purba yang indah dan sarat makna.

#Ambisi Kota Industri: Lonceng Peringatan dari Pendopo
Namun, keasrian Ujung Pangkah kini berada di bawah bayang-bayang kebijakan yang kian ambisius. Gresik memang sejak lama dikenal sebagai kota industri, tetapi arah pembangunan belakangan ini membuat kami was-was.
Rencana setiap Bupati, menjadikan Gresik sebagai kota industri masif terdengar nyaring hingga ke telinga kami di pesisir. Narasi pembangunan dan investasi terus digemakan, seolah kemajuan hanya bisa diukur dari jumlah cerobong asap atau luas lahan yang dibeton.
Bagi para pengambil kebijakan di pusat kota, industrialisasi mungkin sebuah prestasi. Namun bagi ekosistem di utara, ini adalah ancaman eksistensial.
Ketika orientasi pembangunan hanya bertumpu pada industri skala besar, wilayah konservasi seperti Ujung Pangkah kerap dipandang sebagai “lahan tidur” yang siap dibangunkan paksa.
Kami khawatir, visi kota industri ini justru akan menyingkirkan sabuk hijau terakhir, benteng alami pesisir dari abrasi dan banjir rob.
#Romantisme dan Realitas di Ujung Utara
Banyak dari kita terbuai oleh lagu keroncong Gesang, namun lupa di mana perjalanan panjang Bengawan Solo berakhir. Sungai ini menyerahkan muaranya di Laut Jawa melalui Gresik, tepatnya di Ujung Pangkah.
Sejarah mencatat, aliran yang kita lihat hari ini merupakan hasil rekayasa kanal Belanda pada 1880, yang membelokkan sungai demi menyelamatkan Pelabuhan Surabaya.
Tak disangka, rekayasa itu justru melahirkan berkah ekologis. Lumpur yang dibawa sungai membentuk tanah timbul yang meluas drastis, mengubah Desa Pangkah Kulon dari sekitar 7.000 hektare menjadi kurang lebih 20.000 hektare.
Di sanalah surga itu tersembunyi. Sisa hutan mangrove menjadi rumah bagi beragam hayati, bahkan berfungsi sebagai feeding ground bagi lebih dari 112.000 burung migran. Di wilayah ini pula, sebagian warga Gresik menggantungkan hidup sebagai nelayan, sebuah kekayaan alam yang tak dimiliki daerah lain.

#Misteri Limbah dan Jeritan Nelayan
Namun, keindahan lanskap itu terasa getir saat kami berbincang dengan warga lokal. Di sanalah kami bertemu Anang Ma’ruf, nelayan Ujung Pangkah yang menjadi saksi hidup perubahan drastis di hilir sungai ini. Dalam tulisan ini ku tulis Pak Anang dan untuk menghormati aku tulis beliau.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPak Anang menuturkan keresahan para nelayan tentang paparan limbah yang terus mengalir hingga ke muara Bengawan Solo. “Cenderung tanpa kejelasan,” katanya, saat kami temuai dalam pekan ini.
Para nelayan bertanya-tanya, siapa sebenarnya pelaku pembuangan limbah tersebut. Sejak 2019, hasil tangkapan terus merosot. Pembangunan industri yang masif di Gresik dituding sebagai biang keladi yang mencemari air dan meracuni ikan, sumber utama nafkah mereka.
Pak Anang berharap pemerintah tidak tinggal diam. Beliau menuntut dukungan nyata, mulai dari bantuan sarana prasarana hingga kebijakan tegas yang mengikat industri soal pengelolaan limbah. Jangan sampai nelayan dibiarkan bertarung sendirian.
#“Air yang Membesarkan Saya”: Suara Anak Muda
Di tengah situasi yang menghimpit itu, nyala harapan muncul dari generasi penerus. Kami berbincang dengan Muhammad Daffa Al Hamdika, pemuda asli Ujung Pangkah. Berbeda dengan stigma apatis yang kerap dilekatkan pada anak muda, Daffa justru menyuarakan kegelisahan yang dalam.
Bagi Dika, menjaga Ujung Pangkah bukan sekadar tren aktivisme, melainkan panggilan jiwa dan utang budi. “Hasil perairanlah yang membesarkan saya sampai sekarang,” ujarnya.
Kesadaran bahwa ia tumbuh dari rezeki laut dan tambak menumbuhkan tanggung jawab moral dalam dirinya. “Saya ingin menyelamatkan apa yang menghidupi saya.”
Dika berharap lebih banyak pemuda Gresik peduli, dan yang terpenting, lebih berani. Ia merindukan generasi yang tak gentar melawan ancaman perusakan ekosistem. Keberanian untuk bersuara dan bertindak adalah kunci agar warisan alam ini tidak musnah di tangan keserakahan.
#Panggilan untuk Pemuda Gresik
Mendengar tekad Dika dan keresahan Pak Anang, kami sadar Ujung Pangkah sedang bertarung nyawa. Teman-teman saya memilih merekam semua yang terjadi di Gresik lewat lensa film. Aku memilih jalan tulisan.
Maka tulisan ini, undangan terbuka bagi kalian, anak-anak muda Gresik.
Kita mewarisi tanah luar biasa ini bukan untuk menyaksikannya diracuni limbah, melainkan untuk menjaganya. Seperti kata Dika, air dan tanah inilah yang membesarkan kita. Mari ceritakan kondisi kota kita. Tulislah, rekamlah, dan suarakan perlawanan terhadap kerusakan ini.
Kabarkan kepada dunia bahwa di ujung utara Gresik, ada warisan terakhir Bengawan Solo yang harus diselamatkan. Jika bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi?***

*) Jofan Ahmad Arianto, mahasiswa Fakultas Kesehatan Sains dan Psikologi Universitas Sunan Gresik dan aktif di Ecological Observation dan Wetlands Conservation (Ecoton).