Lewati ke konten

Eksplorasi Mikroplastik: Cara Ecoton Edukasi 118 Siswa Citra Berkat Surabaya

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Sebanyak 118 siswa kelas 5 belajar bahaya mikroplastik melalui praktik dan pengelolaan sampah organik.
  • Ecoton dan Ecoaksi mengenalkan mikroplastik kepada siswa melalui mikroskop, sabun, serta praktik eco enzim.
  • Siswa Citra Berkat Surabaya belajar mengenali mikroplastik sekaligus mengolah sampah organik menjadi eco enzim.
  • Edukasi mikroplastik mendorong siswa memahami dampak sampah terhadap kesehatan, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari.
  • Praktik pembuatan sabun dan eco enzim menjadi pengalaman belajar lingkungan bagi siswa kelas 5.

Penulis: Zhafira Naurasari, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON), yang berlangsung pada 31 Agustus – 11 Desember 2026.

ECOLOGICAL Observatioan and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Eco- Aksi menggelar kegiatan edukasi lingkungan di Sekolah Citra Berkat Surabaya, CitraLand Utara. Sebanyak 118 siswa kelas 5 mengikuti pelatihan mengenai bahaya mikroplastik dan pembuatan eco enzim.

Para siswa mempelajari dampak mikroplastik terhadap kesehatan serta lingkungan hidup. Mereka juga mempraktikkan pembuatan sabun dan eco enzim berbahan dasar sampah organik. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman teknis serta kesadaran ekologis sejak dini.

Inisiatif edukasi ini menekankan pentingnya pengolahan limbah mandiri dari lingkup domestik. Langkah ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan pemilahan sampah yang konsisten di sekolah.

Tasya Husna dari Ecoton menyampaikan materi eco enzim kepada siswa kelas 5 Sekolah Citra Berkat Surabaya. | Foto: M. Zidan Abdillah

#Edukasi Kesadaran Lingkungan Dini

Pemateri dari Ecoton, Jofanny Ahmad, menyampaikan pentingnya pengenalan bahaya mikroplastik sejak usia sekolah. Pembentukan pola pikir pada jenjang sekolah dasar dinilai lebih efektif dan tahan lama.

Anak-anak diharapkan menjadi penggerak perubahan dalam membiasakan pemilahan sampah di rumah. Komunikasi antara anak dan orang tua menjadi kunci penyebaran informasi ini.

BACA JUGA:  Atasi Krisis Iklim, AZWI Minta Pemda Susun Rencana Aksi Pengurangan Emisi Metana

“Bahaya mikroplastik ini kami perkenalkan sejak gerbang sekolah, dari SD, SMP, hingga SMA, karena di situ kita bisa membentuk pola pikir dan kesadaran dengan lebih mudah tentang bahaya mikroplastik bagi tubuh dan kesehatan. Harapannya, koneksi antara anak dan orang tua bisa terbentuk saat anak menyampaikan hal megenai hal ini kepada orang tuanya. Anak-anak kita jadikan motor penggerak,” ujar Jofan di depan peserta, Rabu (w23/9/2026).

Jofan juga menekankan bahwa persoalan sampah berakar dari kebiasaan di tingkat rumah tangga. Penutupan TPA di berbagai kota besar menuntut masyarakat mengelola sampah organik secara mandiri.

Tumpukan sampah organik di TPA berisiko menghasilkan gas metana berbahaya saat bercampur plastik. Pengolahan sampah organik menjadi eco enzim juga bernilai ekonomi serta mendukung model green business.

“Permasalahan sampah bukan hanya soal TPA atau TPS, tapi juga ada di rumah-rumah kita. Ketika masyarakat sudah bijak mengelola sampah organik, sampah organik tidak akan lagi masuk ke TPA,” kata Jofan.

#Pembiasaan Pemilahan Sampah Sekolah

Di tempat yang sama, guru kelas 5, Dana, menilai kegiatan edukasi ini sangat krusial bagi perkembangan siswa. Hasil tes awal menunjukkan banyak siswa belum memahami mikroplastik maupun pengelolaan sampah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pelatihan ini diharapkan membangun kebiasaan pemilahan sampah sejak dari rumah hingga sekolah. Langkah awal ini penting mengingat pengelolaan sampah di Indonesia masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

“Acara ini sangat penting, karena dari pretest yang diberikan, ternyata masih banyak yang belum paham apa itu mikroplastik dan bagaimana mengelola sampah. Harapannya, ke depan anak-anak sudah memahami hal ini dari rumah, sehingga memilah sampah menjadi kebiasaan di sekolah dan kemudian di masyarakat. Kalau tidak dimulai sekarang, mau kapan lagi? Saya lihat Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara di sekitar kita yang sudah mampu mengelola sampah dengan sangat baik. Intinya, kami ingin memulai kebiasaan baru,” ujar Dana.

BACA JUGA:  Ketika Bumi Menolak Dimiliki Manusia
Siswa kelas 5 Sekolah Citra Berkat Surabaya mengenal mikroplastik melalui mikroskop bersama Jofanny Ahmad. | Foto: M. Zidan Abdillah

Sekolah Citra Berkat telah menerapkan konsep zero waste melalui Program of STEAM and Sustainability (PSS). Pembelajaran akan terus berlanjut ke jenjang kelas yang lebih tinggi secara konsisten.

Siswa akan diajak mengaplikasikan ilmu dengan memilah sampah sisa makanan harian. Sampah organik tersebut nantinya diolah kembali dengan memanfaatkan bantuan maggot.

#Respon Antusiasme Peserta Siswa

Rangkaian kegiatan edukasi dan praktik pembuatan sabun mendapat sambutan hangat dari para peserta. Metode pembelajaran praktis membuat siswa lebih mudah memahami materi pengelolaan lingkungan.

Dua siswa peserta, Bima dan James, membagikan kesan positif mereka selama mengikuti acara. Keduanya menilai sesi praktik pembuatan sabun dan eco enzim sebagai bagian paling seru.

Ilmu yang didapatkan selama pelatihan dinilai sangat aplikatif untuk diterapkan sehari-hari. Keterampilan ini dapat langsung dipraktikkan di lingkungan sekolah maupun di rumah masing-masing.

“Materi bikin sabun paling seru dan bakal diterapkan di sekolah hingga di rumah. Kami kasih nilai 100 dari 100 karena membuat sabun berguna bagi lingkungan, dan pembuatan eco enzim juga seru,” ujar Bima dan James.

Melalui kegiatan ini, keterlibatan aktif siswa diharapkan mampu menekan volume sampah plastik. Kesadaran berkelanjutan menjadi modal utama menciptakan lingkungan yang lebih sehat.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *