Lewati ke konten

Goresan Maut di Balik Sarapan: Ancaman Mikroplastik dan PFAS dari Wajan Kita

| 4 menit baca |Opini | 14 dibaca

Wajan tergores di dapur rumah melepas mikroplastik dan PFAS ke makanan panas, memicu paparan harian yang berisiko bagi kesehatan keluarga Indonesia.

Sarapan sering dipandang sebagai awal hari yang paling menenangkan. Wajan anti lengket menjadi andalan karena praktis dan efisien. Telur goreng dan nasi goreng tersaji cepat tanpa banyak minyak. Permukaan licin memberi rasa aman. Di balik kenyamanan itulah, tanpa kita sadari goresan kecil pada lapisan wajan membuka celah pelepasan partikel mikroplastik dan senyawa kimia berbahaya.

Penelitian kolaborasi University of Newcastle dan Flinders University Australia mengungkap fakta mencemaskan. Satu retakan kecil pada wajan anti lengket dapat melepaskan sekitar 9.100 partikel mikroplastik saat dipanaskan.

Apalagi dalam kondisi rusak berat, jumlahnya mencapai 2,3 juta partikel dalam 30 detik memasak. Partikel tersebut bercampur langsung dengan makanan yang dikonsumsi setiap pagi.

“Material pelapis non-stick termasuk keluarga PFAS. Microparticles yang masuk ke makanan berpotensi membawa risiko kesehatan yang belum sepenuhnya dipahami,” ujar Cheng Fang dalam penelitiannya yang dipublikasikan, 10 Desember 2022.

#Paparan Kecil, Dampak Besar

PFAS dikenal sebagai “kimia abadi” karena sulit terurai dan bertahan lama di tubuh manusia. Senyawa ini terakumulasi melalui paparan berulang dari berbagai sumber.

Lembaga seperti United States Environmental Protection Agency, National Toxicology Program, dan International Agency for Research on Cancer telah mengaitkan PFAS dengan kanker ginjal dan testis, gangguan tiroid, penurunan sistem imun, serta masalah reproduksi.

Paparan dari wajan hanya satu bagian dari rantai yang lebih luas. Kemasan makanan, air minum, dan debu rumah tangga memperkuat akumulasi zat ini dalam tubuh. Suhu memasak tinggi mempercepat degradasi pelapis anti lengket, sehingga pelepasan partikel dan uap berbahaya meningkat.

“Penelitian ini menyoroti ancaman debris pelapis wajan selama aktivitas memasak rutin,” kata Youhong Tang.

Dalam tubuh, PFAS mengikat protein darah dan mengganggu fungsi mitokondria. Proses ini memicu stres oksidatif serta inflamasi kronis. Aktivasi jalur inflamasi seperti NLRP3 berkaitan dengan penyakit degeneratif jangka panjang.  Dampaknya tidak langsung terasa, sehingga paparan kecil yang berlangsung terus-menerus menjadi ancaman serius.

Kondisi pasar di Indonesia memperparah situasi. Wajan anti lengket dengan harga terjangkau banyak beredar dengan kualitas rendah. Dalam satu hingga dua tahun, permukaan sudah rusak. Artinya, paparan mikroplastik dan PFAS terjadi secara rutin dalam aktivitas memasak sehari-hari.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Kesadaran Publik dan Tanggung Jawab Negara

Langkah awal berada di dapur rumah tangga. Menghentikan penggunaan wajan yang tergores menjadi keputusan penting untuk mengurangi paparan. Penggunaan spatula kayu atau silikon, menjaga suhu memasak tetap moderat, serta mencuci dengan bahan non-abrasif dapat memperpanjang umur peralatan.

Alternatif seperti stainless steel, besi cor, atau keramik tanpa PFAS semakin tersedia di pasaran. Edukasi publik perlu diperkuat agar konsumen memahami risiko dan dapat memilih produk yang lebih aman sesuai kemampuan ekonomi.

Pada tingkat kebijakan, pengawasan terhadap bahan kimia dalam produk rumah tangga perlu diperketat. Laporan International Pollutants Elimination Network Indonesia tahun 2023 menemukan kandungan PFAS dalam berbagai produk, termasuk kemasan makanan. Temuan ini menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat dan transparan.

Pengalaman global memperlihatkan bagaimana industri kimia pernah menutup-nutupi risiko PFAS selama puluhan tahun sebelum terungkap melalui proses hukum. Sejumlah negara telah membatasi penggunaan PFOA dan PFOS. Di banyak wilayah berkembang, regulasi masih tertinggal dan membuka ruang bagi bahan pengganti yang belum sepenuhnya aman.

Kesadaran konsumen, tekanan publik, dan kebijakan negara perlu bergerak bersama. Audit dapur rumah tangga dapat menjadi langkah awal yang konkret. Sarapan yang diharapkan menjadi sumber energi dapat berubah menjadi jalur paparan zat berbahaya jika risiko ini terus diabaikan.

Catatan Kaki

  1. Fang, C. et al. (2022). Science of The Total Environment – Studi pelepasan mikroplastik dari pelapis wajan.
  2. United States Environmental Protection Agency – Evaluasi risiko PFAS.
  3. National Toxicology Program – Laporan toksikologi PFAS.
  4. International Agency for Research on Cancer – Klasifikasi karsinogen.
  5. International Pollutants Elimination Network Indonesia (2023) – Kontaminasi PFAS pada produk dan lingkungan.
  6. US EPA, National Toxicology Program, IARC: Kajian risiko kesehatan PFAS dan klasifikasi PFOA sebagai kemungkinan karsinogen.
  7. IPEN Indonesia (2023): Laporan kontaminasi PFAS pada produk dan lingkungan di Indonesia.
  8. Studi 2025: Interaksi mikroplastik dan PFAS meningkatkan bioavailabilitas dalam sistem pencernaan.

 

Penulis: Dianira Chrisna Putrimahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat, Angkatan 2023, Universitas Negeri Malang. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *