Temuan terbaru dari uji sampel warga di Semarang mengungkap fakta mencengangkan: air hujan, air minum, hingga air sumur telah terkontaminasi mikroplastik. Lewat pameran dan uji cepat laboratorium, Greenpeace, Ecoton, dan Jarlima mengajak publik melihat langsung ancaman yang selama ini tersembunyi namun terus mengintai kesehatan.
#Krisis yang Turun Bersama Hujan

SEMARANG dikejutkan oleh temuan yang tidak lagi bisa dianggap remeh. Dalam kegiatan Pameran The Hidden Threat of Microplastic di Kota Lama Semarang, GREENPEACE Indonesia bersama ECOTON dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam Semarang (Jarlima) memperlihatkan bagaimana mikroplastik telah menyelusup ke hampir seluruh sumber air masyarakat.
Warga diminta membawa sampel air dari rumah, mulai dari air minum isi ulang, air sumur, air kran, hingga air hujan yang mereka tampung sendiri. Hasilnya mengiris kesadaran bersama, semua sampel, tanpa terkecuali, mengandung mikroplastik.
Metode rapid assessment yang dilakukan tim laboratorium menunjukkan dominasi dua jenis partikel, yaitu fiber dan filamen – dua bentuk mikroplastik yang kerap berasal dari kemasan sekali pakai dan serpihan serat sintetis dari pakaian.
Temuan ini bukan hanya menunjukkan buruknya kualitas lingkungan, tetapi juga menegaskan bahwa polusi plastik kini telah memasuki tubuh manusia dari jalur paling vital, yaitu air konsumsi.
Linggayani Soentoro, Direktur Eduhouse Preschool Semarang yang membawa anak-anak didiknya ikut uji sampel, menggambarkan keterkejutan para siswa. “Mereka kaget karena air yang mereka minum sehari-hari ternyata berisi mikroplastik, “ kata Lingga, Selasa, 25 November 2025.
“Kita tidak bisa lagi menganggap ini ancaman jauh. Anak-anak perlu tahu realitasnya, dan negara harus hadir memperkuat edukasi dengan kebijakan yang tegas,” ujarnya.
Di hadapan temuan yang mengguncang ini, pameran menjadi bukan sekadar ajang edukasi, tetapi juga ruang refleksi publik, jika air hujan pun tak lagi bersih, sejauh mana polusi plastik telah merasuk ke kehidupan sehari-hari?

#Ancaman Sunyi di Gelas, Keran, dan Sumur
Juru Kampanye Plastik GREENPEACE Indonesia, Ibar Akbar, menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan limbah yang salah urus. Menurutnya, akar kerusakan berada di hulu—di tangan produsen yang terus memompa plastik sekali pakai ke pasar tanpa kendali.
“Produsen harus dikendalikan. Kalau mereka terus memproduksi plastik sekali pakai, masyarakatlah yang menanggung risikonya. Sudah ada dasar regulasinya, seperti Permen LHK 75/2019, tapi implementasinya harus diperketat,” tegasnya.
Pernyataan itu selaras dengan penjelasan kepala laboratorium mikroplastik ECOTON, Rafika Aprilianti. Ia memaparkan bagaimana mikroplastik menjadi kendaraan berbahaya bagi zat kimia beracun seperti BPA, phthalates, logam berat, hingga patogen yang mudah menempel pada permukaan plastik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Paparan jangka panjang dapat memicu gangguan hormon, inflamasi kronis, menurunkan fungsi paru-paru, dan mengganggu sistem reproduksi. Ini krisis yang tak terlihat, tetapi ancamannya sangat nyata,” ujar Rafika.
Jika dulu masyarakat hanya takut pada air yang berbau, berwarna, atau berminyak, kini ancaman justru hadir dalam bentuk partikel tak kasat mata. Karena serpihan mikroplastik ini, terlalu kecil untuk dilihat, tetapi cukup kuat untuk memengaruhi tubuh.
Potret air yang penuh mikroplastik ini menandai perubahan zaman, sumber air yang dianggap aman tak lagi bisa dipercaya begitu saja, dan warga dipaksa berhadapan dengan konsekuensi dari penggunaan plastik yang tak terkendali selama puluhan tahun.

#Seruan Aksi: Menghadapi Ancaman yang Tak Lagi Bisa Diabaikan
Menindaklanjuti hasil temuan, GREENPEACE dan ECOTON mengeluarkan sejumlah rekomendasi strategis. Rekomendasi ini bukan sebagai seruan kosong, melainkan sebagai fondasi penanggulangan yang harus segera diterapkan pemerintah.
Langkah pertama adalah memperketat pengawasan dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Bagi mereka, melarang pembakaran sampah plastik adalah keharusan, karena praktik itu justru memicu sebaran mikroplastik melalui udara.
Kedua, kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) harus diimplementasikan tanpa kompromi. Produsen harus diwajibkan mengurangi produksi plastik sekali pakai, mengambil kembali sampah yang mereka hasilkan, serta transparan dalam laporan pengelolaan limbahnya. Tanpa kontrol pada produsen, upaya masyarakat akan terus seperti menimba air di perahu yang bocor.
Ketiga, pemerintah perlu melakukan pemantauan berkala terhadap kualitas air, udara, dan tanah, serta memastikan data tersebut terbuka bagi publik. Transparansi menjadi kunci agar masyarakat dapat memahami tingkat bahaya di lingkungan mereka, sekaligus mendorong langkah-langkah korektif.
Keempat, edukasi berkelanjutan harus menyasar sekolah, komunitas, dan rumah tangga. Pergeseran budaya menuju gaya hidup zero waste tak akan terjadi jika generasi muda tidak dibekali pengetahuan sejak dini.
Di Kota Semarang, mikroplastik telah bicara lantang. Serpihan ini muncul dari hujan yang jatuh, dari gelas air minum, dari sumur yang selama ini dianggap aman. Ancaman itu kecil dan diam, tetapi kini tak lagi tersembunyi. Yang tersisa adalah pertanyaan besar, apakah kita akan bertindak sebelum partikel-partikel kecil itu perlahan menggerogoti masa depan?***