Lewati ke konten

Gudang Boneka-Plastik Jombang Terbakar: Ancaman Racun, Lemahnya Pengawasan Industri, dan Peringatan ECOTON soal Bahaya Mikroplastik

| 4 menit baca |Sorotan | 33 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Kebakaran hebat yang melalap gudang boneka-plastik milik UD. Adiyasa bukan sekadar insiden teknis. Di balik api yang berkobar hampir sepuluh jam, tersimpan persoalan yang lebih dalam, rapuhnya pengawasan industri plastik, risiko racun yang mengancam warga, dan peringatan keras bagi pemerintah daerah.

#Api Besar, Gudang Runtuh, dan Malam Panjang di Mojongapit

Asap pekat masih mengepul dari celah-celah bangunan yang hangus ketika matahari Jombang terbit pada Selasa pagi (25/11/2025). Bau plastik terbakar menguar, menusuk hidung siapa pun yang mendekat.

Di Jalan Gatot Subroto, Mojongapit, Kecamatan Jombang, Jombang, Jawa Timur, warga masih berkumpul, sebagian mengenakan masker kain sederhana, sebagian lain menutup hidung dengan telapak tangan. Mereka pun mencoba memahami apa yang baru saja terjadi: kebakaran besar yang melumat hampir setengah gudang boneka-plastik milik UD. Adiyasa.

Petugas pemadam kebakaran berjibaku menaklukkan kobaran api yang melalap gudang boneka-plastik UD. Adiyasa, Selasa, 25 November 2025. | Foto: Warga

Api mulai muncul pada Senin sore sekitar pukul 16.50 WIB dan baru benar-benar jinak menjelang pukul 02.00 dini hari. Hampir sepuluh jam lamanya petugas pemadam berjibaku, menghadapi kobaran yang sulit ditundukkan.

“Karena isi gudang adalah bahan yang mudah terbakar seperti plastik. Sebanyak delapan mobil Damkar kita kerahkan,” ujar Kalaksa BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, dalam keterangannya kepada wartawan di lokasi.

Situasi menjadi semakin pelik ketika lantai dua gudang ambruk, menutup akses masuk bagi petugas. Sementara di luar bangunan, kepadatan permukiman dan derasnya lalu lintas jalan nasional memaksa tim gabungan menggandakan upaya pengamanan sebelum bisa fokus pada pemadaman.

“Kita lakukan pengamanan semuanya dulu, baru pemadaman. Kita juga dibantu kepolisian untuk pengamanan jalan nasional,” kata Wiku.

Dugaan awal menyebutkan api muncul dari sisi selatan lantai dua. Kerugian ditaksir mencapai Rp1,5 miliar—setara 50–60 persen bangunan yang luluh lantak.

Namun angka itu tampak kecil bila dibandingkan keresahan baru yang menggantung di udara, aroma plastik hangus yang semakin berat, meninggalkan pertanyaan tentang bahaya lain yang mungkin tak kasat mata namun jauh lebih mengancam.

#Ketika Kebakaran Plastik Menjadi Ancaman Paparan Mikroplastik

Di balik tumpukan arang dan serpihan boneka-boneka yang meleleh, persoalan yang lebih sunyi namun jauh lebih berbahaya mengintai, jebakan racun yang dihantarkan asap plastik.

Aktivis lingkungan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), Alaika Rahmatullah, menyebut peristiwa ini sebagai refleksi pahit rapuhnya penanganan industri berbahan plastik dan melihat ini kepala daerah harus peka.

“Gudang plastik itu sangat rentan kecelakaan. Plastik itu sendiri problematik, penuh senyawa kimia berbahaya dan sangat mudah terbakar. Apalagi di kawasan permukiman ketika aktivitas penyimpanan tidak diawasi dengan ketat,” ujarnya.

Menurutnya, kebakaran ini bukan hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga melepaskan ancaman ke udara, dioksin, furan, hingga mikroplastik yang melayang-layang tanpa terlihat.

Zat-zat itu, ungkap Alaika, dapat mengendap ke tanah, masuk ke sumur warga, terbawa angin, bahkan jatuh mengikuti aliran air hujan menuju sungai-sungai kecil di sekitar Mojongapit.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Ini bukan sekadar soal api yang padam, melainkan jejak racun yang bisa bertahan jauh lebih lama dibanding asap yang kini perlahan menghilang dari langit Jombang, “ ucap penelitik yang biasa disapa Alex ini.

Alaika Rahmatullah dari ECOTON saat dimintai pendapat terkait kebakaran gudang plastik di Jombang, Rabu, 26 November 2025.

#Peringatan Keras untuk Pemerintah Daerah yang Terlambat Mengawasi

Kebakaran di Mojongapit menghadirkan satu pesan yang tak bisa diabaikan, industri berbahan baku plastik, sekecil apa pun skalanya, tak bisa dibiarkan berjalan tanpa pengawasan ketat.

“Lokasinya yang berada di kawasan padat penduduk semestinya menjadi indikator risiko sejak awal, risiko yang selama ini terabaikan,” ujar Alaika.

ECOTON mendesak pemerintah daerah, terutama Pemkab Jombang, untuk tidak lagi menganggap enteng risiko industri plastik. Dalam pernyataannya, Alex menyoroti pentingnya kepemimpinan daerah yang lebih berhati-hati dalam memberikan izin usaha.

Ia menyebut Bupati Jombang, Warsubi, agar tidak mudah memberi peluang berdirinya pabrik atau gudang plastik tanpa kajian risiko lingkungan dan keselamatan masyarakat yang memadai.

“Peristiwa ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pengawasan industri plastik, memastikan standar keselamatan yang ketat, serta melakukan pemantauan kualitas udara dan air pascakebakaran,” tegas Alex.

Pemerintah Kabupaten Jombang juga perlu mengambil langkah cepat, mulai dari uji kualitas air sumur, pemantauan partikulat di udara, hingga edukasi risiko kesehatan bagi warga sekitar.

Tanpa itu semua, kata Alex, kebakaran ini bisa menyisakan dampak yang tak terlihat tapi perlahan merusak, “Mulai dari meningkatnya gangguan pernapasan, kontaminasi air, hingga paparan racun jangka panjang.

Kebakaran UD. Adiyasa seharusnya tidak hanya dikenang sebagai amukan api di sebuah gudang plastik, tetapi sebagai pertanda keras bahwa persoalan plastik jauh lebih besar daripada sekadar sampah.

Keberadaan plastic adalah ancaman yang mudah terbakar, beracun, dan diam-diam menyusup ke kehidupan warga. “Kini bola ada di tangan pemerintah daerah, apakah ini akan menjadi pelajaran, atau sekadar peristiwa yang lewat begitu saja.***

Artikel Lain:

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *