Lewati ke konten

Hardiknas Momentum Mengubah Cara Kita Belajar Lingkungan

| 4 menit baca |Opini | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Amalia Fibrianty - M.I.Kom Editor: Supriyadi

Hardiknas seharusnya mendorong perubahan cara belajar di sekolah, dari hafalan menuju kesadaran ekologis agar generasi muda siap menghadapi krisis lingkungan yang nyata.

Setiap 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Di sekolah, siswa mengikuti upacara, guru mengenakan pakaian adat, dan pidato kembali mengingatkan pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa.

Di luar pagar sekolah, kenyataan berbicara lain.

Sungai masih dipenuhi sampah. Banyak warga membakar limbah rumah tangga karena tidak memiliki pilihan lain. Saat hujan deras datang, saluran air tersumbat plastik dan banjir menjadi langganan. Di saat yang sama, muncul ancaman tak terlihat: mikroplastik, serpihan plastik sangat kecil yang kini ditemukan di air, makanan, bahkan tubuh manusia.

Pertanyaan yang perlu kita ajukan sederhana: jika sekolah bertugas menyiapkan anak menghadapi masa depan, apakah yang diajarkan sudah benar-benar mereka butuhkan?

Selama ini, pendidikan kita masih terlalu akrab dengan hafalan. Anak diminta mengingat definisi, rumus, dan jawaban yang dianggap benar. Mereka belajar untuk lulus ujian, tidak selalu untuk memahami kehidupan di sekitarnya.

Padahal tantangan masa depan tidak hadir dalam bentuk soal pilihan ganda.

#Jarak Antara Pelajaran dan Kenyataan

Anak Indonesia kelak hidup di tengah perubahan iklim, krisis air bersih, persoalan sampah, cuaca ekstrem, serta ancaman kesehatan akibat pencemaran. Mereka memerlukan bekal yang melampaui hafalan, yaitu kemampuan memahami hubungan antara manusia dan alam.

Di sinilah literasi ekologis menjadi penting.

Maknanya sederhana: anak memahami dari mana air bersih berasal, ke mana sampah pergi setelah dibuang, mengapa sungai perlu dijaga, bagaimana polusi memengaruhi tubuh, serta bagaimana kebiasaan kecil berdampak besar bagi lingkungan.

Sayangnya, pelajaran seperti ini sering lewat sepintas. Anak mungkin hafal arti pencemaran lingkungan, tetapi belum pernah diajak melihat kondisi sungai di dekat rumah. Mereka mengetahui pentingnya menjaga bumi, sementara kantin sekolah masih dipenuhi plastik sekali pakai. Mereka diminta mencintai alam, tetapi jarang diajak benar-benar mengenalnya.

Di titik ini, pendidikan kehilangan kedekatan dengan kenyataan.

Kita patut belajar dari berbagai gerakan masyarakat sipil, seperti ECOTON, yang konsisten mengangkat isu pencemaran sungai dan mikroplastik. Lewat riset lapangan, edukasi publik, dan advokasi, mereka menunjukkan bahwa sampah tidak pernah hilang. Sampah berpindah dari rumah ke sungai, dari sungai ke laut, lalu kembali ke meja makan.

Pelajaran seperti ini penting dikenalkan kepada siswa. Tujuannya bukan menakut-nakuti, melainkan membangun pemahaman bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Hardiknas Sebagai Titik Balik Pembelajaran

Bayangkan jika Hardiknas tidak berhenti pada upacara, melainkan menjadi hari belajar dan refleksi bersama tentang lingkungan.

Siswa dapat diajak menghitung berapa banyak sampah yang dihasilkan sekolah dalam sehari. Mereka bisa meneliti kualitas air di sekitar sekolah, menanam pohon, membuat kompos, atau merancang kampanye sederhana untuk mengurangi plastik sekali pakai. Guru matematika menggunakan data sampah sebagai bahan pelajaran. Guru Bahasa Indonesia meminta murid menulis opini tentang banjir di kotanya. Guru IPA menjelaskan dampak mikroplastik terhadap kesehatan.

Belajar terasa lebih hidup karena dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Kita sering berbicara tentang mencetak generasi unggul. Generasi unggul tidak hanya diukur dari nilai tinggi, melainkan dari kepekaan terhadap masalah, kemampuan berpikir kritis, dan kemauan mencari solusi.

Anak yang hari ini duduk di bangku sekolah tidak menciptakan sungai tercemar atau gunungan sampah plastik. Mereka justru akan menerima dampaknya di masa depan. Karena itu, mereka berhak mendapatkan pendidikan yang mempersiapkan diri menghadapi kenyataan.

Sebagian sekolah telah memulai melalui program Adiwiyata, kebun sekolah, atau bank sampah. Ini langkah baik. Tantangannya adalah menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari cara mendidik, bukan tambahan kegiatan.

Hardiknas seharusnya menjadi momen untuk bertanya ulang: apakah pendidikan kita sudah relevan dengan tantangan zaman?

Di tengah krisis ekologis global, Indonesia tidak cukup melahirkan anak yang mahir menghafal. Kita membutuhkan generasi yang memahami cara menjaga air, udara, tanah, dan kehidupan bersama.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai rapor. Ukurannya terletak pada masa depan seperti apa yang mampu dibangun oleh anak-anak kita.***

Penulis: Amalia Fibrianty – M.I.Kom, Media And Communications Officer · Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON)

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *