- Hari Sungai Internasional bukan sekadar seremoni. Warisan apa yang kita siapkan untuk Kali Surabaya?
- Kali Surabaya menyimpan denyut kehidupan di dalamnya. Namun, benarkah airnya benar-benar sehat dari ancaman limbah?
- Membersihkan sungai saja tak cukup. Kali Surabaya butuh perlindungan nyata dari hulu ke hilir.
- Ikan bertahan di Kali Surabaya, tapi mikroplastik mengintai. Akankah kita mewariskan sungai mati?
- Merawat Kali Surabaya adalah investasi masa depan. Mari hentikan pencemaran demi generasi mendatang.

Penulis: Erica Damayanti, Media Communication Ecoton. Artikel ini ditulis dalam rangka memperingati Hari Sungai Internasional.
SETIAP 24 September, Hari Sungai Internasional mengingatkan kita bahwa sungai tidak hanya dipandang sebagai aliran air yang membelah kawasan, kota, maupun desa. Jika saya boleh membuat definisi sederhana, sungai adalah ruang hidup.
Di dalamnya terdapat ikan, tumbuhan, mikroorganisme, sekaligus kehidupan manusia yang bergantung pada airnya. Sungai menjadi tempat berbagai kehidupan bertemu, sekaligus menjadi cermin bagaimana manusia memperlakukan alam.
Peringatan Hari Sungai Internasional lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran global terhadap pentingnya menjaga sungai dan menghadapi berbagai ancaman kerusakan. Gagasan peringatan sungai internasional dikaitkan dengan aktivis lingkungan Kanada, Mark Angelo, pada 2005. Gagasan tersebut juga sejalan dengan perhatian global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap pengelolaan sumber daya air.
Namun, pertanyaannya: apa arti Hari Sungai Internasional bagi warga Surabaya?
Jawabannya dapat kita temukan di Kali Surabaya.
Dalam rangka memperingati Hari Sungai Internasional, Ecoton menggelar kegiatan di Taman Bantaran Kali Surabaya. Kegiatan tersebut melibatkan para siswa dari wilayah Wringinanom dan Driyorejo, Gresik, serta Balongbendo dan Tarik, Sidoarjo.
Keterlibatan siswa menjadi penting. Sebab, sungai bukan hanya persoalan generasi hari ini. Anak-anak yang hari ini belajar mengenali sungai adalah generasi yang kelak akan menentukan bagaimana sungai diperlakukan.
#Kali Surabaya Ruang Kehidupan
Kita tahu, Kali Surabaya memiliki peran penting bagi kehidupan. Sungai ini menjadi ruang ekonomi bagi sebagian masyarakat. Ikan-ikannya dapat menjadi sumber penghidupan, ditangkap untuk dikonsumsi maupun dijual.
Sensus Ikan Kali Surabaya 2026 bahkan menemukan sejumlah jenis ikan yang masih hidup di aliran sungai ini, antara lain:
- Jendil (Pangasius sp.)
- Rengkik (Hemibagrus nemurus)
- Bader merah (Barbonymus balleroides)
- Bader putih (Barbonymus gonionotus)
- Palung (Hampala macrolepidota)
- Keting (Mystus nigriceps)
- Papar (Notopterus notopterus)
- Monto (Osteochilus haselti)
Keberadaan ikan-ikan tersebut memberi gambaran bahwa Kali Surabaya bukan ruang kosong. Ada kehidupan yang bergantung pada kondisi sungai.
Kali Surabaya merupakan bagian penting dari sistem Sungai Brantas. Alirannya memiliki fungsi ekologis sekaligus berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Bagi Surabaya, sungai ini bukan sekadar bentang alam. Airnya memiliki hubungan dengan kehidupan kota, termasuk kebutuhan air masyarakat.
Karena itu, ketika kualitas sungai memburuk, persoalannya tidak berhenti pada ikan yang kehilangan habitat. Dampaknya dapat merembet kepada manusia.
#Sungai Sehat Bukan Seremoni
Persoalannya, sungai yang begitu penting justru menghadapi tekanan dari berbagai aktivitas manusia.
Penelitian mahasiswa dan pemantauan lingkungan di sepanjang Kali Surabaya menunjukkan adanya persoalan kualitas air. Sejumlah parameter kualitas air ditemukan melampaui baku mutu pada titik-titik tertentu. Kondisi oksigen terlarut juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan kemampuan sungai menopang kehidupan organisme air.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPersoalan lain yang semakin penting adalah mikroplastik.
Plastik yang kita buang ke lingkungan tidak selalu hilang ketika mata kita tidak lagi melihatnya. Plastik dapat terfragmentasi menjadi partikel berukuran sangat kecil dan masuk ke ekosistem perairan.
Karena itu, persoalan sungai hari ini tidak cukup dilihat dari banyak atau sedikitnya botol plastik yang mengapung di permukaan.
Sungai yang tampak bersih belum tentu benar-benar sehat.
Di sinilah Hari Sungai Internasional seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang. Membersihkan sungai memang penting, tetapi aksi bersih-bersih tidak boleh menjadi satu-satunya solusi.
Jika sampah terus masuk dari hulu, kegiatan membersihkan sungai hanya menjadi pekerjaan berulang tanpa menyelesaikan sumber persoalan.
#Kali Surabaya membutuhkan perlindungan dari hulu sampai hilir.
Industri, pemerintah, masyarakat, petani, nelayan, akademisi, komunitas, dan konsumen memiliki hubungan dengan sungai. Karena itu, tanggung jawab terhadap sungai juga tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak.
Kita perlu bertanya lebih jauh: dari mana pencemaran berasal? Siapa yang menghasilkan sampah? Bagaimana limbah dikelola? Apakah pengawasan berjalan? Apakah masyarakat memiliki akses terhadap informasi kualitas air?
Dan yang paling penting, apakah kebijakan pembangunan benar-benar menempatkan sungai sebagai bagian penting dari kehidupan kota?
Hari Sungai Internasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni, penanaman pohon, atau aksi pungut sampah sehari. Peringatan ini harus menjadi kesempatan untuk melihat kembali hubungan manusia dengan sungai.
Kali Surabaya tidak membutuhkan belas kasihan. Ia membutuhkan perlindungan.
Sungai yang sehat akan memberikan kehidupan. Sebaliknya, sungai yang terus dibebani pencemaran pada akhirnya dapat mengembalikan persoalan itu kepada manusia melalui terganggunya sumber air, pangan, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan ekosistem.
Karena itu, merawat Kali Surabaya bukan hanya urusan lingkungan. Ini adalah investasi untuk masa depan Surabaya.
Pada Hari Sungai Internasional, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan “apa yang sudah kita lakukan untuk sungai?”, melainkan:
“Sungai seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?”
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Kali Surabaya tetap menjadi sumber kehidupan atau perlahan hanya menjadi saluran air yang kehilangan kehidupan di dalamnya.***