Lewati ke konten

Hari Terasa Melesat? Bukan Kamu yang Lemah, Hidup Modern Memang Terlalu Cepat

| 4 menit baca |Rekreatif | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

DI masa kecil—apalagi bagi generasi yang tumbuh di 1980-an—hidup dipenuhi kejadian pertama yang bikin otak kerja rodi. Pertama kali sekolah, pertama kali naik sepeda, pertama kali jatuh cinta pada penyanyi cilik yang sekarang entah jadi apa. Semua itu membuat hidup terasa luas. Hari panjang, waktu bergerak pelan, dan kepala penuh memori baru yang menempel kuat seperti bau kapur tulis.

Begitu dewasa, ritme itu mencair. Hidup berubah jadi pola berulang, bangun–kerja–scroll–tidur. Rutinitas menipiskan kejutan, dan kejutan adalah bahan baku utama persepsi waktu. Tanpa kejutan, waktu lewat seperti angin AC mall—dingin tapi tak terasa menyentuh. Minggu terasa seperti tiga hari, dan tahu-tahu kalender sudah ganti tahun tanpa kita merasa hadir sebagai pemeran utama di hidup sendiri.

Psikolog Claudia Hammond dalam Time Warped menulis hal yang menyegarkan sekaligus menyesakkan: persepsi waktu menyusut ketika memori baru menyusut. “Kita kehilangan rasa panjangnya hari ketika hidup berhenti memberi kejutan,” tulisnya. Otak butuh hal baru untuk merekam, dan tanpa rekaman, hari-hari berlalu seperti halaman kosong.

Menariknya, ada latihan sederhana yang bisa sedikit merentangkan waktu, menuliskan tiga hal baik setiap hari. Disebut three good things atau sekadar gratitude list, kebiasaan kecil yang sering diremehkan ini ternyata punya dampak nyata. “Menyadari hal positif secara sengaja dapat mendorong perubahan dalam kesejahteraan mental,” kata Hammond.

Riset Martin Seligman dan Chris Peterson pada 2005 menemukan efek yang tidak kecil—hanya dengan menulis tiga hal baik setiap malam, kebahagiaan naik dan gejala depresi turun dalam sebulan. Efeknya bertahan sampai enam bulan. “Fokus pada kebaikan, sekecil apa pun, menyeimbangkan bias otak yang cenderung melihat ancaman,” simpul mereka.

#Hidup Modern Terlalu Cepat untuk Kita Kejar

Masuk ke 2020-an, masalahnya bertambah. Notifikasi semakin agresif, bahkan lebih ganas daripada suara jam weker jadul. Informasi datang dari semua arah—termasuk grup WhatsApp keluarga yang rasanya beroperasi 24/7 tanpa jam kerja. Kita digiring untuk multitasking, melompat dari satu tugas ke tugas lain, menyelesaikan ratusan micro-task yang mencuri energi tanpa kita sadari. Hari terasa hilang bukan karena pendek, tetapi karena tidak sempat dirasakan.

Sebuah studi melalui aplikasi NotiMind mencoba mengintip bagaimana notifikasi memengaruhi emosi manusia modern. Selama lima minggu, 50 partisipan diminta memasang aplikasi yang otomatis merekam ribuan notifikasi, chat, media sosial, hingga alert system. Lalu menggabungkannya dengan laporan suasana hati tiga kali sehari melalui tes Positive and Negative Affect Schedule (PANAS).

Hasilnya memantik banyak “oh, pantes…”. Aktivitas mengetik, meski sekadar membalas pesan, justru berkaitan dengan meningkatnya emosi positif. Mungkin karena itu interaksi yang kita pilih secara sadar, bukan yang dipaksakan aplikasi. Tapi ketika notifikasi kategori “Post” dan “Remove” mulai membanjir, skor emosi negatif naik. Semakin sering kita diganggu, semakin rawan mood kita jatuh.

Yang menarik, studi ini berhasil membangun model prediksi yang bisa membaca kondisi emosional pengguna hanya dari pola notifikasi. Akurasinya cukup tinggi, 74–78% untuk model individual dan 72–76% untuk model global. Untuk riset yang dilakukan “di alam liar”—langsung pada kehidupan digital harian—angka ini menakjubkan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Temuan tersebut memberi gambaran masa depan: teknologi bisa dibuat lebih peka. Bayangkan ponsel yang menunda notifikasi saat mood kamu turun, atau mengurangi alert otomatis ketika tubuh kelelahan. Semacam sahabat digital yang berkata, “Santai, pesan grup alumni bisa nanti.”

#Kenapa Semua Ini Mengacaukan Persepsi Waktu?

Jawabannya sederhana dan agak menyebalkan, otak kita terlalu sering direcoki. Notifikasi dan multitasking membuat otak terus pindah tugas. Dan setiap perpindahan, sekecil apa pun, ada biaya kognitif. Energi mental bocor, fokus terpecah, dan memori tidak sempat terbentuk. Tanpa memori baru, hari terasa tipis seperti roti tawar tanpa olesan.

Para psikolog menyebut kondisi ini attention fatigue. Kapasitas otak untuk mengolah informasi menurun karena harus merespons ratusan gangguan kecil sepanjang hari. Kita mengecek ponsel berkali-kali tanpa sadar, dan setiap interupsi mempercepat sensasi waktu yang berlari semakin kencang.

Douglas Rushkoff dalam Present Shock menggambarkan hidup modern sebagai jebakan “ketergesaan sekarang”. Semuanya harus instan, semuanya harus sekarang. Ritme digital memaksa kita hidup dalam akselerasi permanen. Akibatnya, hari terasa padat, tetapi menyisakan kekosongan.

Akhirnya, teknologi memang memudahkan hidup, tapi tanpa pengelolaan yang sadar, kita kehilangan momen-momen kecil yang membuat hidup terasa utuh: makan tanpa layar, jalan tanpa notifikasi, atau duduk beberapa menit tanpa suara elektronik. Tanpa jeda, waktu akan terus terasa seperti musuh yang selalu satu langkah di depan.

Referensi

  1. Hammond, C. (2013). Time Warped: Unlocking the Mysteries of Time Perception.
  2. Seligman, M. E. P., & Peterson, C. (2005). Positive Psychology Progress.
  3. Rushkoff, D. (2013). Present Shock: When Everything Happens Now.
  4. Pielot, M., et al. (2017). NotiMind: Exploring the Relationship Between Notifications and Emotions.
  5. Watson, D., Clark, L. A., & Tellegen, A. (1988). PANAS Scales.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *