Lewati ke konten

Hasil Uji Ecoton: Mikroplastik Kini Menjadi Polutan Tak Kasat Mata di Kehidupan Urban

| 4 menit baca |Mikroplastik | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Uji mikroplastik di Jakarta mengungkap paparan dari udara dan rumah tangga, memicu kekhawatiran kesehatan serta mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat perkotaan modern.

Rasa penasaran membawa Topa Hasibuan mendatangi booth Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dalam acara nonton bareng film dokumenter Menolak Punah karya Dandhy Laksono di Balai Budaya Jakarta, Menteng, Kamis, 9 April 2026.

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang itu awalnya mengira plastik hanya mencemari air. Hasil uji sederhana yang dilakukan di lokasi mengubah pandangannya. “Ternyata mikroplastik sudah mencemari udara dan menempel di tubuh kita,” kata Topa saat bercerita di depan para peneliti Ecoton.

Dari uji swab pada wajahnya, ditemukan empat partikel mikroplastik. Jenisnya didominasi fiber dan filamen – dua bentuk yang umum berasal dari serat tekstil dan pecahan plastik fleksibel. Temuan ini memperkuat indikasi bahwa paparan mikroplastik tidak hanya melalui konsumsi, melainkan juga melalui udara dan kontak langsung dengan kulit.

Topa kemudian menggali informasi lebih jauh tentang sumber mikroplastik di dalam rumah. Pertanyaan itu mengarah pada penjelasan yang membuka lapisan baru persoalan pencemaran plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Pengunjung mengamati sampel uji mikroplastik menggunakan mikroskop portable di booth Ecoton, dalam kegiatan edukasi publik di Balai Budaya, Jakarta, Kamis, 9 April 2026. | Dok. Ecoton

#Sumber Mikroplastik dari Rumah Tangga

Peneliti Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti menjelaskan, lingkungan domestik menjadi salah satu penyumbang utama paparan mikroplastik. “Di dalam rumah, mikroplastik bisa bersumber dari karpet, talenan, hingga peralatan dapur seperti rice cooker,” ujarnya.

Peralatan dapur berbahan teflon menjadi sorotan. Lapisan anti lengket yang tergores atau terkelupas berpotensi melepaskan senyawa kimia seperti PFOA dan PTFE ke dalam makanan. Paparan zat tersebut dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, mulai dari gangguan tiroid hingga potensi karsinogenik.

Selain itu, kerusakan lapisan teflon juga dapat memicu pelepasan mikroplastik dalam jumlah besar. Partikel berukuran mikro hingga nano berpotensi ikut terkonsumsi bersama makanan. Dalam kondisi suhu tinggi, lapisan teflon bahkan dapat menghasilkan uap beracun yang memicu polymer fume fever, dengan gejala menyerupai flu seperti demam, sakit kepala, dan nyeri tubuh.

Rafika mengingatkan pentingnya tindakan pencegahan sederhana. Penggantian panci yang tergores, penggunaan alat masak non-logam, serta menghindari pencucian beras langsung di dalam panci menjadi langkah awal untuk menekan risiko.

Alternatif bahan seperti stainless steel atau keramik dinilai lebih aman dalam jangka panjang. “Paparan mikroplastik kini terjadi tanpa disadari, melalui udara, makanan, hingga peralatan yang digunakan setiap hari, “ jelas Rafika.

Tampilan aplikasi PlasticFreeFuture di Play Store, yang digunakan untuk memindai kandungan mikroplastik dalam produk kosmetik. | Dok. Ecoton

#Paparan dari Udara hingga Kosmetik

Temuan serupa juga dialami pengunjung lain, Nadya Alfi. Dari uji swab wajah, lebih dari sepuluh partikel mikroplastik ditemukan dalam satu kali pemeriksaan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan hasil yang didapat Topa.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Setelah mengetahui banyaknya mikroplastik di wajah, aku akan lebih aware dan menghindari penggunaan kosmetik yang mengandung mikroplastik,” kata Nadya.

Kesadaran itu diperkuat dengan pemanfaatan teknologi. Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, memperkenalkan aplikasi PlasticFreeFuture.  Aplikasi yang dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan mikroplastik dalam produk kosmetik. Aplikasi ini kata Sofi, sudah tersedia di Play Store dan memungkinkan pengguna memindai komposisi produk sebelum digunakan.

Metode uji yang dilakukan Ecoton tergolong sederhana dan dapat direplikasi untuk edukasi publik. Pengunjung cukup melakukan swab menggunakan tisu kosmetik steril, mengusap wajah satu arah, lalu mengamati sampel di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 kali.

Menurut Rafika, jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber dan filamen dengan warna merah dan biru, berukuran di bawah satu milimeter. Serat fiber umumnya berasal dari tekstil, sementara filamen berasal dari degradasi plastik fleksibel.

Peneliti senior yang juga pendiri Ecoton, Prigi Arisandi menekankan, kualitas udara di Jakarta bisa jadi memperbesar potensi paparan. “Udara Jakarta yang telah tercemar mikroplastik meningkatkan potensi paparan ke tubuh manusia,” ujarnya.

Partikel mikroplastik yang menempel di kulit berpotensi masuk melalui pori-pori. Ukuran yang lebih kecil, termasuk nanoplastik, dapat menembus sistem biologis dan masuk ke dalam aliran darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko mengganggu sistem imun serta fungsi sel.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa mikroplastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan urban. Paparan terjadi melalui berbagai jalur: udara, makanan, peralatan rumah tangga, hingga produk perawatan diri.

Kegiatan uji mikroplastik di ruang publik seperti ini menjadi pintu masuk bagi peningkatan kesadaran masyarakat. Informasi yang diperoleh secara langsung memberi dampak psikologis yang kuat, mendorong perubahan perilaku konsumsi.

Perubahan tersebut mulai terlihat dari keputusan sederhana,  seperti mengganti peralatan dapur, memilih bahan yang lebih aman, serta lebih selektif dalam penggunaan produk kosmetik. Langkah kecil di tingkat individu menjadi penting dalam menghadapi persoalan yang bersifat sistemik dan meluas.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *