FESTIVAL Seni Taman Bahari Mojokerto, Jawa Timur, tahun ini bukan hanya soal warna dan hiburan. Di tengah keriuhan panggung, ECOTON Foundation membawa pesan serius lewat dua instalasi edukatif tentang mikroplastik. Ratusan pengunjung berhenti, menatap, dan sebagian pulang dengan kecemasan baru mengenai air minum dan tubuh mereka sendiri.
#ECOTON Bawa Pesan Serius ke Tengah Perayaan Seni

Seni biasanya hadir sebagai pelarian, tetapi di Festival Pameran Seni Taman Bahari Mojokerto, Jumat, 21 November 2025, seni justru datang sebagai pengingat. ECOTON Foundation atau yang biasa dikenal Ecological Observation and Wetlands Conservation, sebuah Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah, ikut meramaikan festival dengan tidak menawarkan wahana hiburan, melainkan dua karya instalasi edukatif: “Kran Plastik” dan akuarium bayi terkontaminasi mikroplastik.
Instalasi pertama memperlihatkan keran rumah tangga yang justru menumpahkan sampah plastik, sebagai sindiran atas banjir plastik dalam kehidupan sehari-hari. Sementara akuarium bayi menampilkan boneka bayi dikelilingi serpihan mikroplastik, menggambarkan ancaman polutan yang telah masuk ke rantai makanan dan berpotensi diwariskan ke generasi berikutnya. Keduanya menjadi titik perhatian yang paling lama dikunjungi, lebih karena keterkejutan daripada rasa kagum.
#Siswa SMP Belajar Bahwa Ancaman Ada di Gelas Minum Mereka
Salah satu kerumunan terbesar datang dari rombongan pelajar SMPN 8 Kota Mojokerto. Banyak dari mereka baru mendengar bahwa mikroplastik tidak hanya ditemukan di laut atau sungai, tetapi juga ada di air hujan, makanan, udara, dan tubuh manusia. Beberapa siswa bahkan mengaku tidak pernah membayangkan bahwa ancaman yang kerap mereka dengar di televisi ternyata begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tim ECOTON menggunakan pendekatan edukasi berbasis visual, audio, dan interaksi langsung untuk memastikan informasi tidak hanya berhenti sebagai teori. Mereka memperkenalkan jenis-jenis mikroplastik, sumber pencemar, dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta ekosistem.
“Kami ingin para pelajar melihat bahwa persoalan plastik bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah kesehatan. Mikroplastik yang kita buang hari ini kembali ke tubuh kita melalui air dan makanan,” ujar Alaika Rahmatullah, Divisi Edukasi dan Kampanye ECOTON, saat memandu sesi belajar.
Peragaan menggunakan mikroskop portable stereo menjadi titik balik. Ketika filamen transparan, salah satu bentuk mikroplastik, muncul di balik lensa, sejumlah siswa spontan menarik napas panjang, sebagian bertukar pandang dengan ekspresi penuh ketidakpercayaan. Dalam momen itu, ancaman yang sebelumnya terdengar abstrak berubah menjadi sesuatu yang nyata—tepat di depan mata mereka.
#Air Minum Kemasan Tak Luput, Kejutan Datang dari Pengujian Spontan
Momen yang paling mencuri perhatian datang tanpa direncanakan. Beberapa siswa membawa air minum dalam kemasan (AMDK) dan meminta tim ECOTON mengujinya. Hasilnya pun mikroplastik terdeteksi dengan jelas.
“Saya kira air kemasan itu aman,” ujar Rama, salah satu guru yang ikut menguji. “Ternyata ada serpihan transparan yang terlihat jelas. Mikroplastik itu benar-benar dekat banget dengan kita.”
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Bagi ECOTON, temuan tersebut menjadi contoh mengapa edukasi publik harus terus diperluas. Menurut mereka, masyarakat sering merasa persoalan lingkungan terlalu jauh, padahal sebagian ancaman justru tersembunyi dalam kebiasaan domestik yang dianggap sehat dan modern.

Alaika menegaskan pesan terhadap ancaman mikroplastik. Menurutnya mikroplastik ini sudah masuk ke rantai makanan, air hujan, bahkan air minum yang kita konsumsi setiap hari.
“Melalui pameran ini, kami mengajak pelajar untuk mengurangi plastik sekali pakai demi menjaga air hujan dan air minum tetap sehat dan bersih, ” tandasnya.
#Festival Seni Berubah Menjadi Ruang Perenungan Lingkungan
Hampir tidak ada teriakan heboh atau gelak tawa di area instalasi ECOTON. Pengunjung berhenti, menonton, membaca, dan berupaya memahami. Di tengah pameran seni dengan atmosfer riang, pojok edukasi ini memaksa orang menimbang ulang kenyamanan hidup sehari-hari.
ECOTON berharap kolaborasi dengan sektor seni dapat memperluas jangkauan kampanye lingkungan. Pesan sederhana yang ingin mereka bawa dari festival ini adalah bahwa krisis plastik bukan hanya ancaman ekologis, tetapi juga ancaman kesehatan manusia. “Mulai dari sungai hingga ke tubuh manusia, polusi plastik telah menyusup tanpa disadari, “ tandas Alaika.
Lembaga lingkungan ini menekankan, bahwa langkah kecil seperti mengurangi plastik sekali pakai, membawa botol minum isi ulang, dan menjaga kebersihan sungai bukan sekadar gaya hidup, tetapi investasi kesehatan jangka panjang.***