BOJONEGORO – Bayangkan rumah sederhana di Kecamatan Kasiman, Bojonegoro. Di sana, suara gergaji kayu berpadu dengan ketukan pahat menjadi simfoni harian yang lebih nyaring daripada alarm jam 5 pagi. Bagi sebagian orang, itu cuma ribut-ribut tetangga. Tapi bagi Haniatul Musfiroh, perempuan yang sejak kecil akrab dengan aroma kayu jati, suara itu adalah musik penghidupan. Dari sinilah lahir “Pengrajin Sejati,” usaha kerajinan kayu jati gembol yang tak hanya jadi sumber penghasilan, tapi juga kisah cinta keluarga yang diwariskan dari sang ibu.
#Dari Nonton sampai Bisa Beli Ponsel Sendiri
Hani kecil sering menempel di bengkel sang ibu, menonton kayu kasar perlahan berubah menjadi meja, kursi, atau almari. “Awalnya cuma nonton, lama-lama ikut bantu sepulang sekolah. Senang rasanya, apalagi pas pertama kali bisa beli ponsel sendiri dari hasil kerja,” ujarnya. Ya, siapa sangka gergaji dan pahat bisa jadi ATM pertama anak sekolah?
Momen itu seakan menjadi titik balik. Dari sekadar menonton, Hani mulai mengerti bahwa kayu jati gembol—bagian tunggak pohon dengan serat unik—bisa diubah menjadi benda-benda yang bukan cuma fungsional, tapi juga bernilai seni tinggi. Gembol itu biasanya dianggap limbah oleh orang kebanyakan, tapi bagi Hani, itu adalah emas yang bisa dipahat.
#Warisan Ibu: Ketekunan Tanpa Filter Instagram
Saat ibunya wafat, tanggung jawab jatuh penuh ke pundak Hani. Bersama suaminya, ia mendirikan usaha bernama “Pengrajin Sejati” pada 2012. Nama ini terdengar filosofis, tapi sebenarnya sederhana: “Kami cinta kerjaan ini, bukan cari duit cepat,” ujarnya. Dari bengkel mungil di Jalan Rajawali Bandar, Batokan, mereka menekuni proses yang tetap manual: memotong, membentuk, mengukir, mengamplas, dan memoles hingga kayu itu mengilap seperti lantai hotel bintang lima.
Di era di mana segala sesuatunya serba digital dan instan, dedikasi Hani terasa seperti menantang tren. Tidak ada mesin canggih atau cetakan massal. Hanya tangan, gergaji, pahat, dan kesabaran yang tak kenal filter Instagram. Semua dilakukan dengan cinta, atau setidaknya, dengan tekad untuk tidak mengecewakan warisan keluarga.
#Tidak Hanya Meja dan Kursi, Tapi Segala Hal Kecil yang Bisa Dipoles Kayu
Kini, “Pengrajin Sejati” tidak lagi melulu bikin furnitur besar. Ada kotak tisu, wadah buah, tempat air mineral, lampu tidur, asbak, tempat payung, bahkan miniatur kayu. Harga? Mulai dari Rp15 ribu sampai ratusan ribu rupiah. Pengiriman dilakukan lewat ekspedisi lokal—dan ini bukan sekadar jualan online, tapi sekaligus memberi kerjaan bagi tetangga yang sebelumnya cuma main HP seharian.
“Beberapa tetangga yang tadinya menganggur sekarang ikut membantu produksi. Usaha ini bukan cuma tumpuan keluarga, tapi juga penggerak ekonomi lingkungan,” kata Hani. Jadi, sambil melihat kayu gembol berubah menjadi barang yang berguna, warga sekitar juga ikut merasakan manfaatnya. Ekonomi kreatif versi Kasiman: bukan hanya soal omzet, tapi soal tetangga yang tidak lagi menganggur dan malu-malu saat ditanya “Kerja apa?”
#Omzet Naik Turun, Tapi Amanah Tak Pernah Turun
Produk mereka bahkan sudah menembus pasar luar daerah, dari Sumatera sampai Papua. Omzet sempat Rp25–30 juta per bulan, sekarang stabil di Rp15–20 juta. “Kadang terasa berat kalau pasar sepi, tapi ini amanah keluarga yang harus dijaga,” katanya. Amanah di sini terdengar lebih berat daripada gergaji yang setiap hari dipakai.
Pasar yang naik-turun menjadi tantangan tersendiri. Kadang, Hani merasa seperti pemain sirkus yang harus menjaga keseimbangan: satu sisi ingin menambah produksi, sisi lain takut barang tidak laku. Tapi di balik itu semua, ada kebanggaan yang tidak bisa diukur dengan angka. Setiap ukiran, setiap permukaan yang diampelas, membawa cerita tentang ketekunan, cinta, dan komitmen terhadap warisan keluarga.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Ketika Kayu Gembol Mengajarkan Sabar dan Kreativitas
Gembol kayu jati tidak semulus kayu olahan pabrik. Seratnya kadang liar, terkadang keras, dan bikin gergaji mogok di tengah jalan. Tapi justru di sinilah seni dan kreativitas Hani diuji. Setiap pahatan, setiap lekukan, adalah keputusan yang harus dibuat dengan presisi. Salah sedikit, kayu bisa retak, produk gagal, dan hati bisa ikut patah.
“Kalau lihat serat kayu yang unik itu, rasanya seperti membaca buku. Setiap garis, setiap pola, punya ceritanya sendiri,” ujar Hani. Filosofi ini terdengar manis, tapi percayalah, tangan dan punggung yang pegal setiap hari membuktikan bahwa manisnya itu dibayar dengan keringat—bukan hanya kata-kata motivasi di TikTok.
#Dari Bengkel Mungil ke Pasar Nasional
Tidak disangka, kerja keras mereka membuahkan hasil. Produk “Pengrajin Sejati” kini menembus pasar nasional, bahkan ada permintaan dari luar Jawa. Semua dikirim dengan ekspedisi lokal, dengan tetangga yang ikut mengemas dan menyiapkan barang. Dari rumah sederhana, suara gergaji kini beresonansi sampai Sumatera, Kalimantan, bahkan Papua.
Bagi Hani, ini bukan sekadar angka omzet. Ini soal membuktikan bahwa karya lokal, dibuat dengan tangan, cinta, dan ketekunan, tetap punya tempat di hati masyarakat. Apalagi di tengah maraknya furnitur impor murah yang masuk tanpa cerita dan tanpa jiwa.
#Harapan Hani: Masyarakat Makin Menghargai Produk Lokal
Setiap karya yang lahir dari tangan Hani memuat cerita tentang cinta, ketekunan, dan kebanggaan akan warisan leluhur. Ia berharap, kerajinan jati Gembol terus dicintai warga Kasiman, Bojonegoro, dan masyarakat luas. “Semoga masyarakat makin menghargai produk lokal, karena setiap karya punya jiwa dan cerita,” tutupnya.
Dalam era di mana segala sesuatu serba instan dan murah, keberadaan “Pengrajin Sejati” menjadi pengingat manis: bahwa ada keindahan dalam proses, ada nilai dalam kesabaran, dan ada cerita di balik setiap potongan kayu. Jadi, ketika Anda melihat meja atau kursi yang tampak sederhana, ingatlah: mungkin itu bukan sekadar kayu. Mungkin itu adalah ponsel pertama Hani, tetangga yang kini punya kerjaan, dan sedikit kebanggaan Kasiman yang tersimpan rapi dalam serat kayu gembol.***
Hamim Anwar, jurnalis di Bojonegoro berkontribusi atas penulisan artikel ini | Penyunting & Editor: Supriyadi