Lewati ke konten

Jombang yang Kian Tenggelam: Sawah Menyusut, Drainase Macet, dan Banjir yang Terus Mencari Rumah Baru

| 4 menit baca |Sorotan | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

HUJAN deras memang pemicu, tapi banjir di Jombang, Jawa Timur, bukan sekadar cerita air jatuh dari langit. Ada jejak panjang alih fungsi lahan, saluran yang tak lagi bekerja, sungai yang kehilangan daya tampung, dan kota yang tumbuh tanpa rem. Semua itu berpadu menjadi genangan yang makin sering mengetuk pintu warga.

Dua minggu terakhir saja, hujan deras dua kali berturut-turut membuat sejumlah desa di utara Sungai Brantas tergenang hingga 50 sentimeter. Dari Ploso, Kudu, hingga Kepatihan dan Mojongapit, air datang cepat, surut lambat, dan meninggalkan cerita lama: Jombang semakin mudah kebanjiran.

#Kisah Resapan Hilang dan Banjir yang Tak Pulang

Genangan masih bertahan di sejumlah titik bantaran Sungai Marmoyo—antara lain Desa Pagertanjung, Pandanblole, Jatigedong, dan Gedongombo di Kecamatan Ploso, serta Desa Sidokaton di Kecamatan Kudu—dengan ketinggian air mencapai 30–50 sentimeter. | Foto: Capture video grup warga Jombang IJUB

Banjir di Jombang sudah lama berhenti menjadi sekadar “peristiwa alam”. Ia kini berubah menjadi pola, keniscayaan baru di wilayah yang seharusnya menjadi lumbung pangan Jawa Timur.

Pada Selasa, 18 November 2025, hujan deras memicu genangan di desa-desa utara Sungai Brantas. Jatibanjar, Pagertanjung, Pandanblole, Jatigedong, Gedongombo, Klitih, hingga Sidokaton tergenang 30–50 sentimeter. Air masuk ke dusun seperti Pojok, Jatipotroyudo, dan Legarang, bahkan menyelinap ke rumah warga.

Kades Klitih, Siti Roaini, menggambarkan malam itu sebagai malam tegang. “Air mulai naik pelan-pelan sejak malam. Warga sudah siap siaga karena tahu pola ini. Baru menjelang pagi surut semua. Tapi tiap hujan besar kami tetap waswas,” tuturnya.

Luapan sungai memperparah situasi, terutama di dusun Jatipotroyudo dan Legarang. Sarinah, Kades Jatibanjar, menyebut Kali Kulak sebagai penyebab utama, “Debit Kali Kulak naik cepat setelah hujan deras. Begitu meluap, airnya lari ke permukiman.”

#BPD dan PUPR Bergerak, Tanpa Mager

BPBD dan Dinas PUPR Jombang langsung merespons banjir. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan tumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai, terutama di dua jembatan di Desa Gedongombo — titik yang selama ini sering menjadi penyebab meluapnya air.

Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menegaskan penanganan darurat dilakukan segera. “Fokus kami tadi ada dua titik jembatan. Alat berat sudah di lokasi untuk pembersihan.” BPBD terus memantau titik rawan genangan dan banjir susulan, karena curah hujan masih tinggi.

Sementara itu, Kalaksa Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas melalui supervisor Pusdalops Stevy Maria menjelaskan bahwa genangan muncul kembali di beberapa titik sekitar Kali Marmoyo, meski malam sebelumnya surut.

 

#Perkotaan Jombang: Drainase yang Memasrahkan Diri

Dua hari sebelum banjir Ploso, hujan lebat pada 10 November 2025 membuat wilayah perkotaan Jombang tergenang. Air setinggi 40–50 sentimeter merendam Kepatihan, Tunggorono, Wersah, dan Mojongapit.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di Kepatihan, Kades Erwin Pribadi menyebut penyebabnya gamblang, drainase baru tak berfungsi karena saluran air tertutup bangunan dan toko. Banyak saluran tidak tersambung ke saluran induk, sehingga air tertahan dan mengalir ke jalan.

Di Tunggorono, sepuluh rumah terendam hingga 50 sentimeter karena resapan hilang akibat pembangunan dan tidak adanya gorong-gorong untuk membuang air ke saluran besar. BPBD mencatat Mojongapit sebagai titik terparah, karena saluran tidak mampu menampung air, sehingga genangan surut baru pukul 01.00 dini hari.

#Banjir Jombang: Cerita Tata Ruang, Bukan Cuaca

Banjir di Jombang bukan fenomena baru. Sejak 2017, hampir tiap musim hujan kabupaten ini selalu bergulat dengan luapan air. Pada 19 Desember 2017, 11 desa di Mojowarno, Diwek, Mojoagung, dan Jombang terendam hingga 50–150 sentimeter. Ratusan warga harus mengungsi. Tahun berikutnya, hujan deras di 21–22 Februari 2018 menenggelamkan wilayah Mojoagung, Bareng, Gudo, hingga Pulo dengan ketinggian air mencapai dua meter.

Fenomena ini berulang pada 2019–2024, dengan titik terdampak selalu sama, Mojoagung, Mojowarno, Peterongan, dan Sumobito. Penyebabnya struktural, sawah hilang karena alih fungsi lahan, sedimentasi sungai, drainase buruk, dan tata ruang yang membiarkan permukiman padat di daerah resapan.

Data LP2B 2023 menunjukkan ±36.160 ha, sedangkan KP2B RTRW 2021–2041 ±38.149 ha — artinya 2.000 ha sawah hilang, belum termasuk proyek tol Jombang–Mojokerto.

Kapasitas saluran Beweh pun defisit, eksisting hanya 10,97–70,75 m³/s, sementara kebutuhan debit 80,524 m³/s. Sedimentasi memperparah luapan. Normalisasi direncanakan, tetapi genangan terus muncul.

Singkatnya, hujan hanyalah pemicu. Banjir Jombang adalah cerita hilangnya sawah, buruknya drainase, sedimentasi, dan tata ruang yang membiarkan alih fungsi berjalan tanpa rem. Tanpa solusi sistemik, setiap hujan deras hanya menunggu giliran menjadi genangan berikutnya.

Referensi:
Radar Jombang, BPBD Jombang, Dinas PUPR Jombang, Jurnal Rekayasa Sipil & Lingkungan, Polinema Journal, Studi ITS tentang perubahan lahan sub-DAS, RTRW Jombang 2021–2041.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *