Lewati ke konten

Jutaan Pelanggan PDAM Bergantung Sungai Tercemar Plastik

| 8 menit baca |Highlight | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Mikroplastik ditemukan di Sungai Brantas, sumber air baku utama PDAM Jawa Timur yang melayani jutaan warga setiap hari.

Jutaan warga Jawa Timur setiap hari mengonsumsi air yang berasal dari Sungai Brantas dan anak-anak sungainya. Namun berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan sungai tersebut telah terkontaminasi mikroplastik dalam jumlah yang signifikan, mulai dari wilayah hulu hingga hilir.

Temuan itu menjadi penting karena Sungai Brantas merupakan sumber air baku utama bagi sejumlah perusahaan daerah air minum (PDAM) di Jawa Timur. Di Surabaya, misalnya, lebih dari 90 persen air baku yang diolah menjadi air minum berasal dari Kali Surabaya yang merupakan bagian dari sistem Sungai Brantas.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Technology & Innovation pada 2021 menemukan kelimpahan mikroplastik di Sungai Brantas berkisar antara 133 hingga 5.467 partikel per meter kubik. Penelitian tersebut dilakukan oleh Nanik Retno Buwono dan tim dengan mengambil sampel pada wilayah hulu, tengah, dan hilir sungai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik meningkat ke arah hilir. Wilayah yang menerima akumulasi aktivitas permukiman, industri, dan perkotaan memiliki tingkat pencemaran yang lebih tinggi dibandingkan bagian hulu.

Peneliti menemukan bahwa mikroplastik berbentuk fragmen mendominasi wilayah hilir dengan proporsi mencapai 68–78 persen. Sementara di wilayah hulu, bentuk yang paling banyak ditemukan adalah fiber atau serat plastik dengan proporsi 39–47 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah menjadi bagian dari persoalan kualitas lingkungan Sungai Brantas. Bukan hanya sampah yang terlihat mengapung di permukaan, tetapi juga partikel-partikel berukuran sangat kecil yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Partikel ini dapat berasal dari kantong plastik yang terurai, kemasan makanan, limbah industri, serat pakaian sintetis, hingga produk rumah tangga yang sehari-hari digunakan masyarakat.

Keberadaan mikroplastik di sungai menjadi perhatian karena Sungai Brantas tidak hanya berfungsi sebagai badan air, tetapi juga sebagai sumber air baku utama bagi jutaan warga Jawa Timur.

Mikroplastik yang masuk ke sungai tidak berhenti di perairan. Partikel berukuran kecil ini dapat berpindah melalui rantai pasok lingkungan, mulai dari air, sedimen, organisme perairan, hingga sumber daya yang dimanfaatkan manusia. Berbagai penelitian di DAS Brantas menunjukkan pencemaran mikroplastik telah ditemukan pada berbagai komponen ekosistem sungai. | Desain AI

#Dari Sungai Brantas ke Keran Rumah Warga

Hubungan antara kualitas Sungai Brantas dan air minum masyarakat dapat ditelusuri melalui sistem penyediaan air baku yang digunakan PDAM.

Direktur Utama Perumda Air Minum Surya Sembada Surabaya, Arif Wisnu Cahyono, saat itu pernah menjelaskan, sekitar 92 persen kebutuhan air baku Surabaya berasal dari Kali Surabaya. Sisanya sekitar 8 persen dipenuhi dari sumber mata air di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar warga Surabaya bergantung pada kualitas air yang berasal dari sistem Sungai Brantas.

Ketergantungan serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Perumda Delta Tirta Sidoarjo, Perumda Giri Tirta Gresik, Perumda Tugu Tirta Kota Malang, Perumda Tirta Kanjuruhan Kabupaten Malang, Perumda Tirta Penataran Kabupaten Blitar, Perumda Tirta Cahya Agung Tulungagung, hingga Perumda Giri Nawa Tirta Pasuruan memanfaatkan sumber air dari sistem DAS Brantas.

Dokumen Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Brantas yang disusun Perum Jasa Tirta I mencatat sejumlah instalasi pengolahan air yang mengambil air permukaan dari sistem Brantas.

Instalasi Karangpilang dan Ngagel di Surabaya mengambil air dari Kali Surabaya. Instalasi Krikilan di Gresik, Mindi dan Siwalan Panji di Sidoarjo, serta sejumlah instalasi di Mojokerto, Malang, dan Tulungagung juga memanfaatkan sumber yang sama.

Sebelum sampai ke rumah pelanggan, air sungai terlebih dahulu menjalani proses pengolahan.

Tahapan tersebut meliputi koagulasi untuk menggumpalkan partikel pencemar, sedimentasi untuk mengendapkan material tersuspensi, filtrasi melalui media penyaring, serta desinfeksi untuk membunuh mikroorganisme penyebab penyakit.

Proses pengolahan tersebut dirancang untuk menghasilkan air yang memenuhi standar kualitas air minum.

Namun kualitas sumber air baku tetap menjadi faktor penting yang menentukan tingkat efektivitas pengolahan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan Microplastics in Drinking-water menyebutkan bahwa instalasi pengolahan air minum mampu menghilangkan sebagian besar mikroplastik, terutama partikel yang berukuran besar.

Meski demikian, WHO menegaskan efektivitas penghilangan mikroplastik dapat berbeda-beda tergantung teknologi yang digunakan dan kondisi air baku yang masuk ke instalasi.

WHO juga menyatakan bahwa penelitian mengenai dampak kesehatan mikroplastik terhadap manusia masih terus berkembang. Hingga kini para peneliti masih mempelajari berbagai kemungkinan dampak jangka panjang akibat paparan mikroplastik terhadap tubuh manusia.

Karena itu, menjaga kualitas sungai sebagai sumber air baku menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menyediakan air minum yang aman.

Sejumlah Perumda Air Minum di Jawa Timur mengandalkan Sungai Brantas dan anak sungainya sebagai sumber air baku. Di saat yang sama, berbagai penelitian menemukan mikroplastik telah mencemari aliran DAS Brantas dari hulu hingga hilir. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kualitas sungai yang menopang kebutuhan air jutaan warga. | Desain AI

#Mikroplastik Telah Masuk ke Rantai Makanan

Pencemaran mikroplastik di Sungai Brantas ternyata tidak hanya ditemukan pada air.

Penelitian yang dilakukan Maulidatur Rohmah, Ananta Putra Karsa, A.B. Chandra, dan Indah Wahyuni Abida dari Universitas Trunojoyo Madura menemukan mikroplastik pada air, sedimen, dan kerang air tawar di kawasan hilir Sungai Brantas.

Penelitian tersebut dilakukan pada sembilan lokasi pengamatan di wilayah hilir sungai.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik pada sedimen berkisar antara 62 hingga 98 partikel per 50 gram. Pada sampel air ditemukan 390 hingga 568 partikel per meter kubik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sementara itu, pada kerang air tawar ditemukan antara 17 hingga 33 partikel mikroplastik per individu.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber atau serat plastik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya berada di badan air, tetapi juga telah masuk ke organisme yang hidup di dalamnya.

Ketika mikroplastik ditemukan pada kerang dan berbagai biota sungai lainnya, hal itu menunjukkan bahwa partikel plastik telah memasuki rantai makanan ekosistem perairan.

Berbagai penelitian lain di sistem Sungai Brantas juga menemukan keberadaan mikroplastik pada ikan air tawar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah bergerak melampaui persoalan sampah yang terlihat secara kasat mata.

Data distribusi mikroplastik tahun 2022 memperlihatkan bahwa partikel plastik ditemukan pada berbagai lokasi sepanjang aliran Sungai Brantas.

Lokasi tersebut meliputi Jembatan Ploso, Kawasan Industri Ploso, Dam Karet Menterus, Kesamben, Gedeg, Jembatan Gajah Mada, Perning, Legundi, hingga Driyorejo.

Mikroplastik ditemukan baik pada permukaan maupun kolom air.

Sebaran tersebut menunjukkan bahwa pencemaran telah terjadi di berbagai segmen sungai, bukan hanya pada satu titik tertentu.

Ilustrasi sejumlah mahasiswa melakukan penelitian dan pengambilan sampel untuk mengidentifikasi keberadaan mikroplastik di perairan DAS Brantas. Berbagai studi dari perguruan tinggi di Jawa Timur menunjukkan mikroplastik telah ditemukan pada air, sedimen, organisme perairan, hingga limbah industri di sepanjang aliran sungai. | Desain AI

#Industri Turut Menyumbang Beban Mikroplastik

Selain berasal dari sampah rumah tangga, sejumlah penelitian menunjukkan aktivitas industri turut berkontribusi terhadap masuknya mikroplastik ke Sungai Brantas.

Hal ini menjadi penting mengingat DAS Brantas merupakan salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Timur. Program Water Stewardship Brantas mencatat sekitar 1.800 industri beroperasi di sepanjang DAS Brantas. Sementara itu, lebih dari 140 industri tercatat memanfaatkan pasokan air dari sistem Sungai Brantas untuk mendukung aktivitas produksinya.

Penelitian Rakhel Marsyanda Vanny Alvionita dari Universitas Brawijaya pada 2024 menemukan mikroplastik pada seluruh sampel limbah cair yang diuji dari tiga industri daur ulang plastik di wilayah Gresik dan Sidoarjo.

Kelimpahan mikroplastik tertinggi ditemukan pada ERM Recycling Plastic sebesar 3,63 partikel per liter. Sementara PT Trias Sentosa tercatat sebesar 1,96 partikel per liter dan PT Grand Premier Plaspac sebesar 1,75 partikel per liter.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pengolahan plastik berpotensi menjadi salah satu sumber masuknya mikroplastik ke badan air apabila pengelolaan limbah tidak berjalan optimal.

Temuan serupa juga muncul pada penelitian yang dilakukan Aprilian Trida Larasati dari Universitas Brawijaya pada 2024 mengenai limbah cair industri kertas di sekitar Sungai Brantas.

Penelitian yang dilakukan di Mojokerto, Jombang, dan Pasuruan itu menemukan mikroplastik pada seluruh sampel limbah cair industri kertas yang diuji.

Kelimpahan mikroplastik tertinggi ditemukan pada outlet limbah PT Indonesia Royal Paper. Posisi berikutnya ditempati PT Sun Paper Source dan PT Buana Megah Paper Mills.

Peneliti mengidentifikasi tiga jenis mikroplastik yang dominan, yaitu fragmen, filamen, dan fiber. Fragmen berasal dari pecahan plastik yang mengalami degradasi, filamen berbentuk benang plastik memanjang, sedangkan fiber umumnya berupa serat sintetis berukuran sangat kecil.

Dalam kesimpulannya, penelitian tersebut menyebut bahwa limbah cair industri yang tidak diolah secara optimal berpotensi menjadi sumber pencemaran mikroplastik di lingkungan perairan.

Para peneliti merekomendasikan pengawasan yang lebih ketat terhadap industri, termasuk peningkatan kepatuhan terhadap pengelolaan limbah dan penerapan sanksi yang lebih tegas bagi pelanggaran lingkungan.

Meski demikian, temuan-temuan tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa mikroplastik masih terdapat dalam air yang keluar dari keran pelanggan PDAM. Air baku yang berasal dari sungai masih harus melewati serangkaian proses pengolahan sebelum didistribusikan kepada masyarakat.

Namun penelitian-penelitian tersebut menunjukkan satu fakta penting. Sungai Brantas yang menjadi sumber air baku bagi jutaan warga Jawa Timur telah menerima paparan mikroplastik dari berbagai sumber, termasuk aktivitas industri.

Bagi masyarakat yang bergantung pada Sungai Brantas, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan sampah yang terlihat di permukaan sungai. Persoalan tersebut menyangkut kualitas sumber daya air, kesehatan ekosistem perairan, efektivitas pengolahan air minum, serta keberlanjutan pasokan air bersih di masa mendatang.

Di tengah meningkatnya produksi dan konsumsi plastik, pengendalian sumber pencemar menjadi salah satu kunci untuk mengurangi masuknya mikroplastik ke sungai yang selama ini menjadi penopang kebutuhan air jutaan penduduk Jawa Timur.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *